fordiletante

Konglomerasi Media dalam Grup MNC (Media Nusantara Citra)

In media on January 29, 2008 at 2:08 pm

oleh : Veronika Kusuma

Menurut Ben H. Bagdikian (1997), selama dekade 1980-an, Amerika Serikat menyaksikan semakin terpusatnya kepemilikan media di tangan sedikit orang/perusahaan. Tidak pernah terjadi sebelumnya, korporasi-korporasi media ini memiliki kekuasaan yang sangat besar hingga dapat membentuk dan mempengaruhi lanskap sosial di Amerika. Seiring dengan terjadinya revolusi teknologi penyiaran dan informasi, korporasi-korporasi media terbentuk dan menjadi besar dengan cara kepemilikan saham, penggabungan dalam joint-venture, pembentukan kerjasama, atau pendirian kartel komunikasi raksasa yang memiliki puluhan bahkan ratusan media.

Selama dekade 1980,-an jumlah perusahaan media semakin mengecil. Di Amerika Serikat pada tahun 1984, ada 50 perusahaan media yang beroperasi di tingkat nasional dan lokal. Jumlah ini berkurang drastis pada tahun 1987 menjadi 26. Pada tahun 1990, jumlah ini menurun menjadi 23 perusahaan. Sementara 3 tahun setelahnya, jumlahnya tidak mencapai angka 20. Sejak tahun 1996, media semakin terpusat pada 5 perusahaan besar yang menguasai lanskap media Amerika Serikat, dan berarti dunia. Kelima perusahaan itu adalah Time-Warner, Viacom, News Corp., Bertelsmann Inc., dan Disney.

Bagi Bagdikian, fenomena ini bukanlah semata-mata fenomena bisnis, melainkan fenomena ekonomi-politik yang melibatkan kekuasaan. Kepemilikan media, bukan hanya berurusan dengan persoalan produk, tetapi berkaitan dengan bagaimana lanskap sosial, citraan,berita, pesan dan kata-kata dikontrol dan disosialisasikan ada masyarakat. Bagdikian menyebut contoh. Lima korporasi media terbesar di AS berhasil mengajukan sebuah UU baru untuk meningkatkan dominasi korporat mereka dan menghilangkan UU atau peraturan yang membatasi kontrol atas media. Misalnya, UU Telekomunikasi tahun 1996.

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Sejak lama, media terutama televisi telah menjadi ajang pertarungan kepentingan bisnis dan politik para penguasa. Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, mengizinkan berdirinya televisi swasta pada tahun 1988. Semenjak itu dan setelah 1998, ketika Soeharto turun dari kekuasaannya, dunia televisi Indonesia semakin ramai dengan kehadiran televisi-televisi baru. Beberapa televisi bisa disebut, seperti SCTV, Global TV, LaTV, TransTV, TV7, Metro TV dll. Kehadiran berbagai televisi ini mengakibatkan persaingan antartelevisi menjadi semakin tajam. Setelah tahun 1998, banyak televisi yang akhirnya bergabung dengan televisi lain. Banyak pula yang melalukan konsolidasi guna membentuk konglomerasi media yang lebih besar. Menurut Satrio Arismunandar (2006), sekarang ini telah terbentuk setidaknya tiga kelompok konglomerasi media. Konglomerasi media pertama adalah PT Media Nusantara Citra, Tbk (MNC) yang dimiliki Hary Tanoesoedibjo yang membawahi RCTI (PT Rajawali Citra Televisi Indonesia), TPI (PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia), dan Global TV (PT Global Informasi Bermutu). Kelompok kedua berada di bawah PT Bakrie Brothers (Group Bakrie) yang dipimpin oleh Anindya N. Bakrie, anak menteri dan pengusaha kontroversial, Aburizal Bakrie.

Grup Bakrie ini membawahi ANTV (PT Cakrawala Andalas Televisi) yang kini berbagi saham dengan STAR TV (News Corps., menguasai 20% saham) dan Lativi (PT Lativi Media Karya). Kelompok yang ketiga adalah PT Trans Corpora (Grup Para). Grup ini membawahi Trans TV (PT Televisi Transformasi Indonesia) dan Trans-7 (PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh). Ketiga televisi swasta lainnya, yakni SCTV, Metro TV dan Indosiar, berdiri sebagai perusahaan sendiri. Saat ini, SCTV dan Indosiar dalam proses evaluasi untuk merger dalam grup Surya Citra Media.

PT Media Nusantara Cipta (PT MNC Terbuka) merupakan salah satu konglomerasi media terbesar di Indonesia. Perusahaan media ini memiliki bisnis di bidang produksi program, distribusi program, saluran televisi terrestrial, saluran program televisi, surat kabar, tabloid dan jaringan radio. Perusahaan ini boleh dikatakan sebagai perusahaan media yang terintegrasi secara raksasa. (lihat bagan)

Jaringan televisi MNC merupakan yang terbesar di Indonesia dengan nama perusahaan/stasiun: RCTI, TPI dan Global TV. RCTI (PT Rajawali Citra Televisi Indonesia) merupakan stasiun televisi swasta pertama di Indonesia. Berdiri pada tanggal 21 Agustus 1987, televisi ini mulai mengudara pada Agustus 1989. RCTI dengan cepat menjadi televisi swasta terbesar karena fasilitasi bisnis dari keluarga Cendana (Soeharto) di masa Orde Baru. Stasiun ini, bukan kebetulan, dimiliki dan dipimpin oleh Bambang Trihatmojo, anak ketiga Presiden berkuasa saat itu. Hingga saat ini, RCTI masih merupakan televisi nomor satu di Indonesia dalam hal perolehan iklan dan jumlah audiens. AGB Nielsen mengemukakan bahwa audience share RCTI sebesar 20%. Data menunjukkan bahwa kepemilikan televisi di Indonesia sekarang ini mencapai 59 rumah tangga yang berarti sekitar 231 juta penonton. Ini merupakan kue ekonomi yang sangat besar (Bill Guerin, 2005).

Televisi kedua adalah Global TV (70% saham). Televisi ini didirikan pada tahun 1999 tetapi baru mengudara pada Oktober 2001. Dengan target audiens kaum muda, Global TV merupakan televisi lokal dengan isi program-program musik dari MTV Asia (Music Television), sebuah perusahaan televisi kabel dari Viacom. Program ini mulai disiarkan tahun 2006. Selain dengan MTV, Global TV juga menjalin kerjasama dengan Nickelodeon. Global TV mendapatkan lisensi ekslusif untuk program-program dari MTV, VH1 dan Nickelodeon.

Televisi ketiga adalah TPI (PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia), yang didirikan pada tahun 1991 oleh anak tertua Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana. Televisi ini diakuisisi oleh MNC pada tahun 2006 dengan kepemilikan saham mencapai 75%. Pendapatan bersih selama 9 bulan pertama di tahun 2007 meningkat 51% dari nilai tahun lalu, mencapai 326 miliar rupiah atau sekira $51 juta. Total pendapatan kotor naik 51% menjadi 2,2 triliun rupiah atau sekira $350 juta.

Hary Tanoesoedibjo adalah presiden direktur dan CEO MNC. Hary telah berkiprah di industri televisi sejak 2003 ketika ia menjadi presiden grup dan CEO RCTI yang merupakan anak perusahaan grup Bimantara, sebuah grup perusahaan yang dimiliki putra mantan penguasa Orde Baru, Bambang Trihatmojo. Selain di industri televisi, Hary meniti karirnya dari perusahaan-perusahaan investasi milik grup Bimantara.

Kalau kita perhatikan, grup MNC ini merupakan salah satu grup televisi Indonesia yang dengan jelas dikontrol oleh orang-orang Soeharto. Televisi seperti RCTI dan TPI merupakan televisi-televisi yang hadir saat Soeharto berkuasa dan mendapatkan banyak fasilitas dari kekuasaan Orde Baru. TPI, misalnya, pada kehadiran pertamanya menggunakan saluran transmisi TVRI yang merupakan saluran televisi pemerintah.

Grup perusahaan media ini memiliki lobi dan pengaruh yang sangat besar pada proses politik Indonesia. Pada tahun 1996-1997, perusahaan-perusahaan televisi menolak RUU Penyiaran yang membatasi transmisi siaran televisi secara nasional. RUU Penyiaran ini akhirnya disahkan pada tahun 1997 dengan menghilangkan larangan transmisi secara nasional.

Dalam hal isi siaran, berita merupakan hal yang paling dikontrol. Krishna Sen dan David T. Hill membandingkan pemberitaan media-media ini terhadap kasus 27 Juli 1996 (penyerangan kantor PDI Perjuangan di Jl. Diponegoro, Jakarta) dan terbukti bahwa media-media seperti RCTI lebih menampilkan narasumber pemerintah dan militer dalam menanggapi kasus ini.

Selama tahun 2000-2007, RCTI dan TPI merupakan televisi yang merajai rating acara, baik yang ditujukan untuk kelas menengah maupun kelas bawah. Program unggulan televisi-televisi ini adalah sinetron dan reality show yang bagi banyak orang memiliki kontribusi besar pada ‚proses pembodohan’ massa. Acara-acara drama, sinetron, reality show dan gossip merupakan jualan utama stasiun seperti RCTI, Global TV dan TPI. Hal ini bukanlah hal yang terjadi begitu saja.

Bagi David Barsamian, seorang jurnalis, acara-acara ini bukan semata-mata bertujuan bisnis, yakni mengumpulkan pendapatan iklan sebanyak-banyaknya (total pendapatan iklan televisi lokal mencapai US$1,4 miliar), tetapi acara ini dibuat agar penonton merasa tidak berdaya dan lumpuh. Acara-acara ini bermaksud menjadikan penonton sebagai konsumen yang baik, untuk membuat orang merasa terisolasi dan merasa bahwa tidak ada kemungkinan untuk sebuah perubahan sosial.

Di sinilah, terlihat bagaimana korporasi media, seperti MNC memiliki peran besar dalam menyaring apa yang boleh dan tidak boleh ditonton oleh masyarakat, apa yang baik dan tidak baik, serta bagaimana masyarakat harusnya bersikap. Seperti yang terjadi di AS, media yang dikontrol elit, akan semakin memiliki pengaruh besar baik bagi masyarakat maupun pemerintah. ***

Bahan Bacaan

Bagdikian, Ben H., The New Media Monopoly, Beacon Press, 1997

Chomsky, Noam dan Edward S. Herman, Manufacturing Consent, Pantheon Books, 1988.

Guerin, Bill, Indonesia Watching Foreign TV Ownership, Asia Times Online, 2005.

Munandar, Satrio,

Sen, Krishna dan David T. Hill, Media, Budaya dan Politik di Indonesia, ISAI, 2001, terutama bab 4. Televisi:Lintas Batas, Transmisi dan Citra Lokal.

Wardhana, Veven SP., Televisi dan Prasangka Budaya Massa, ISAI, 2001.

Advertisements
  1. Selamat Siang,
    Ibu/Mba Veronika, tulisannya bagus dan ‘penuh’. Senang membacanya.

    Saya Harfa (Haris Faozan), mahasiswa tingkat akhir Komunikasi UI. Saya tengah mengerjakan skripsi mengenai media, atau lebih spesifiknya: ekonomi politik komunikasi pada regulasi pengakomodasian kepemilikan asing dalam Industri TV Indonesia. Sayangnya, topik ini terlalu spesifik atau sempit, hingga saya jadi agak bingung. Saya pikir Ibu/Mba Veronika lebih mengerti mengenai hal ini.

    saya akan sangat senang dan menghargai jika Ibu/Mba dapat membalas comment ini ke email saya, dan mungkin memiliki waktu untuk berkorespondensi.

    Terimakasih.

  2. Mba, email saya harisfaozan@yahoo.com
    many thx!

  3. mbak veronika, perkenalkan nama saya inda, saya mahasiswa komunikasi UNRI, prodi manajemen komunikasi.saya sedang mengerjakan skripsi saya yang berjudul “regulasi media massa televisi orde baru pada stasiun televisi TVRI dan RCTI (studi historis melalui pendekatan ekonomi politik media”. setelah membaca tulisan anda saya pikir mbak bisa membantu saya dengan menambahkan referensi pada skripsi yang sedang saya kerjakan ini mengingat terbatasnya referensi yang saya dapatkan.

    saya akan sangat senang dan berterimakasih jika mbak bersedia membantu saya.

    email saya nD_niEz_neY@yahoo.com

  4. artikel yang sangat menarik dan berguna untuk menambah wawasan pengetahuan kita. saya pikir semua orang harus membaca agar paham bahwa monopoli media penyiaran memang hanya mengincar keuntungan semata tanpa memperdulikan hakekat madia massa bagi masyarakat yang sebenarnya : sarana informasi dan edukasi bagi masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: