fordiletante

“Bacaan Liar”: Budaya Dan Politik Pada Zaman Pergerakan

In indonesian history on February 3, 2009 at 1:02 pm

oleh Razif

“... More and mores writers will be drawn because of their simpathy with the working people and ideas of socialism, and not because of consideration of gain or personal ambition. It will be a literatur freedom, for instead of serving a few spoiled ladies or the fat and bored “upper ten thousand,” it will be written for the millions of working people who a represent country’s pride, its strenght and its future.”

Pengantar
Tulisan ini akan menganalisa produksi bacaan kaum pergerakan yang sering disebut oleh negara kolonial sebagai “Bacaan Liar.” Untuk itu akan dibahas bagaimana produksi “Bacaan Liar” tersebut tumbuh dan dikembangkan, disebarluaskan, sampai dengan kematiannya. Adalah sangat penting untuk melihat pergeseran dari bacaan yang belum dianggap ‘liar’ sampai pada tahap sebuah bacaan dianggap sebagai ‘liar.’ Sementara itu para pemimpin pergerakan sendiri memandang produksi bacaan mereka sebagai bagian yang tak terpisahkan dari mesin pergerakan: untuk mengikat dan menggerakkan kaum kromo–kaum buruh dan kaum tani yang tak bertanah. Produksi bacaan dapat berbentuk surat kabar, novel, buku, syair sampai teks lagu. Bagi kaum pergerakan, bacaan merupakan alat penyampai pesan dari orang-orang atau organisasi-organisasi pergerakan kepada kaum kromo. Oleh spektrum revolusioner dan radikal dari kaum pergerakan, bacaan diisi pesan tentang jaman yang telah berubah dan penindasan kekuasaan kolonialisme. Tujuan dari pesan-pesan tersebut adalah agar dapat mengajak rakyat–kaum kromo–melawan penjajah, sebagaimana pernah dinyatakan Marco:

“...kapitalist Europa, dia orang soedah sama bersepakat dengan bangsanya kapitalis alias membikin Maatschappij jang besar-besar, dan akalnja menggaroek oeang, jaitoe menghisap darahnja kromo, soedah amat pintar sekali.”

Penjelasan tersebut jelas berusaha agar kaum kromo sadar dan mengerti makna kolonialisme–karena mereka sadar bahwa pengetahuan tentang masyarakat koloni-negara kolonial merupakan persyaratan yang dimiliki bangsa pemenang atas bangsa yang dikalahkan.

Kurun 1920-1926 merupakan masa membanjirnya “bacaan liar,” saat terbukanya celah-celah yang relatif “demokratis” bagi pentas pergerakan. Misalnya, pada Kongres IV tahun 1924 di Batavia, PKI mendirikan Kommissi Batjaan Hoofdbestuur PKI. Komisi ini berhasil menerbitkan dan menyebarluaskan tulisan-tulisan serta terjemahan-terjemahan “literatuur socialisme”–istilah ini dipahami oleh orang-orang pergerakan sebagai bacaan-bacaan guna menentang terbitan dan penyebarluasan bacaan-bacaan kaoem modal. Semaoen adalah orang yang pertama kali memperkenalkan pengertian “literatuur socialistisch.” Dalam artikelnya, Klub kominis!, dikatakan: “socialisme jalah ilmoe mengatoer pergaoelan idoep, soepaja dalem pergaoelan idoep itoe orang-orangnja djangan ada jang memeres satoe sama lain.1) Tujuan memilih, menerbitkan dan menyebarluaskan tulisan yang mengajarkan sosialisme adalah; Pertama, untuk menghapuskan hubungan-hubungan sosial lama–yang telah usang yang tetap dipertahankan oleh kekuasaan kolonial–seperti aturan sembah jongkok ketika bertemu dengan pejabat atau pembesar kolonial. Kedua, “literatuur socialisme” melakukan oposisi untuk melawan dominasi penerbitan barang-cetakan yang diproduksi oleh Balai Poestaka (BP).2) Dengan kata lain, di atas pentas politik pergerakan, “literatuur socialisme” merupakan “hati dan otak” dari gerakan massa. Dengan produksi bacaan tersebut, rakyat jajahan diperkenalkan dan diajak masuk ke dalam pikiran-pikiran baru yang modern, dan karena itulah “literatur socilisme” harus ditulis dengan bahasa yang dipahami oleh kaum kromo.Runtuhnya `bacaan liar’ sendiri tak dapat dipisahkan dari perkembangan pentas politik pergerakan khususnya ketika terjadi pemberontakan nasional dalam tahun l926/l927. Ketika diberangusnya organisasi-organisasi radikal oleh diktaktor kolonial, terjadi pula pemberangusan produksi bacaan liar. Meskipun berbagai lembaga dihancurkan, namun praktek dan gagasan pergerakan yang telah hidup pada tahun 1920-an tetap hidup walau dengan bentuk dan isi yang berbeda. Hal ini, misalnya, dapat dilihat dari tetap hidupnya serikat buruh–sekalipun tidak dengan intensitas dan kegarangan yang sama–maupun gerakan-gerakan radikal lainnya yang tumbuh pada tahun 1930-an. Sudah tentu bentuk bacaan pun mengalami perubahan. Sebagai contoh pada tahun 1933 Sutan Sjahrir masih menulis buku Pergerakan Sekerdja. Buku Sjahrir ini dimaksudkan untuk membangkitkan kembali gerakan buruh.3) Tulisan Sjahrir ini secara jernih mengetengahkan: “Di dalam masa kemerdekaan beloem tentoe kaoem boeroeh djoega merdeka.”4) Tulisan lain yang dapat ditemui adalah karya Moesso, Djalan Baroe, yang terbit tahun 1948, yang mencoba mengembalikan gerakan politik seperti tahun 1920-an–di mana aspirasinya sangat demokratis.

Berangkat dari pijakan bahwa “literatuur socialitisch” tidak terlepas dari aktivitas politik pergerakan, dalam penelitian ini pandangan akan lebih diarahkan pada para pemimpin pergerakan yang memproduksi bacaan tersebut; apa yang mereka bayangkan tentang pergerakan; apa yang mereka hadapi dalam situasi pergerakan; dan bagaimana usaha mereka memecahkan kontradiksi antara penjajah dan yang dijajah. Persoalan-persoalan di atas lalu menimbulkan berbagai pertanyaan: Bagaimana “literatuur socialitisch” pertamakali disebarluaskan? Bagaimana distribusi bacaan tersebut? Bagaimana hubungan percetakan dengan bacaan tersebut? Bagaimana pendapat kaum pergerakan baik yang terlibat langsung ataupun tidak terhadap bacaan tersebut? Seberapa jauh tindakan pemerintah kolonial dalam mengantisipasi derasnya bacaan tersebut–terutama Balai Pustaka yang men-cap-nya sebagai “bacaan liar?” Dan juga pertanyaan yang cukup penting: mengapa “bacaan liar” seringkali dihasilkan di penjara? Selanjutnya untuk memperjelas dapatkah terbitan-terbitan BP melakukan pencegahan terhadap bacaan liar, maka saya akan mengkonfrontasikan “bacaan liar” di sana-sini dengan produk-produk bacaan Balai Poestaka.

Untuk lebih memahami “bacaan liar” secara komprehensif, maka perlu diteliti karya-karya pemimpin pergerakan, seperti Raden Darsono yang melakukan perang suara (perang pena) dengan Abdoel Moeis. Serangan Darsono terhadap Abdoel Moeis berjudul “Moeis telah mendjadi Boedak Setan Oeang.” Atau karya Darsono lainnya yang menentang peraturan kolonial yang berjudul “Pengadilan Panah Beratjun.” Dan juga Karya Semaoen Hikayat Kadiroen–buah karya di dalam penjara. Dan juga yang menjadi pertanyaan dalam penulisan ini bagaimana makna hikayat dipahami oleh para pendukungnya?

Tulisan ini berupaya mencari jawaban atas kehadiran fenomena tersebut melalui penelusuran basis material dari produksi dan reproduksi “bacaan liar.” Dari sini kemudian akan dianalisis sejarah “literatuur socialistisch” dengan menelusuri makna dan nilai teks “bacaan liar.” Dengan demikian akan terbongkar berbagai gagasan, pandangan, bayangan dan ideologi yang mendasari serta unsur yang menentukan “bacaan liar”–sambil menjajaki kerangka hubungan antara negara dan masyarakat kolonial, serta respon rakyat jajahan terhadap “bacaan liar.”

C.W. Watson (1971, 1982) dalam kajiannya tentang “bacaan liar” telah memperlihatkan bahwa bacaan liar yang diproduksi oleh kaum nasionalis radikal dalam bentuk novel secara sadar atau tidak sadar telah mengajarkan kepada kaum bumiputra suatu hal yang modern dari produk masyarakat kapitalis. Pada satu pihak Watson berhasil mendemonstrasikan fungsi bacaan liar sebagai ekspresi perlawanan terhadap ketimpangan kebudayaan. Namun di pihak lain ia tidak begitu tegas menelusuri proses hegemoni, dalam pengertian, bagaimana counter-hegemony “bacaan liar” bergerak menentang bacaan-bacaan kaum intelektual orientalis kolonial.

Sementara seorang peneliti lain, Paul Tickell, melakukan sebuah studi komprehensif tentang novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo dan Hikayat Kadirun buah pena Semaoen.5)

Tickell menguraikan struktur analisis antar teks, yakni Student Hidjo sebagai sebuah karya politik yang ditulis oleh seorang penggerak pergerakan dengan Salah Asoehan yang ditulis oleh Abdoel Moeis dan diterbitkan oleh Balai Poestaka. Dalam tesisnya ini Tickell berhasil mengungkapkan hubungan “bacaan liar” dengan pembacanya dan sekaligus membeberkan value (nilai) yang terkandung di dalam teks Student Hidjo. Artinya, Student Hidjo merupakan sebuah karya hasil hubungan kausal antara estetika dan kehidupan sosial, antara kesadaran dan basis material. Selain itu Tickell juga berhasil menjawab bagaimana perspektif negara kolonial dalam memandang “bacaan liar.” Kekuasaan kolonial memberi pandangan dan makna untuk “bacaan liar” sebagai bacaan yang mengagitasi rakyat untuk melakukan “pemberontakkan,” sehingga penulisnya pun diberi “cap” pengarang liar.

Pendekatan Paul Tickell sebenarnya bisa lebih dikembangkan. Ia memperlakukan bacaan liar sebagai suatu “class expriences,”6) di mana di dalamnya bisa dilihat bentuk-bentuk dan dinamika multi-hubungan antara teks, perusahaan percetakan dan pembacanya. Hal terpenting yang kurang disentuh oleh Tickell adalah hubungan bayangan penulisnya tentang situasi pergerakan dengan pembacanya. Dengan lebih menekankan pada saling hubungan ini, maka dapat dipertemukan estetika, asal-usul dan ideologi penulisnya. Dengan kata lain Paul Tickel melupakan analisa historis, dalam pengertian ia tidak memperhatikan panggung politik pergerakan.

Sebagai bacaan atau novel politik maka imajinasi penulisnya harus mencerminkan situasi dan kondisi pada zamannya, dan penulis bacaan politik itu sendiri bisa memberikan pemecahan kontradiksi untuk resolusi sejarah masadepan kepada pembacanya. Sebagaimana Engels mengkritik novel yang ditulis Minna Kautsky:

I think however that the solution of the problem must become manifest from the situation and the action themselves without being expressly pointed out and that the author is not obliged to serve the reader on a platter the future historical resolution of the social conflicts which he describes.7)

Bagi teoritikus budaya Marxis seperti Raymonds Williams, atau Terry Eagleton, teks dianalisis dengan apa yang disebut sebagai “general mode production” dan “literary mode production,” yang dijelaskan dalam model dialektika sebab-akibat, artinya ada unsur “determinasi” di dalamnya. Yang menandai masuknya unsur marxian untuk membaca teks adalah diterapkannya konsep nilai (value) sebagai barang dagangan untuk menganalisa masyarakat kapitalis. Sebagai akibatnya, apa yang disebut “structure of values”8) sifatnya ideologis, di mana produksi bacaan yang dikonsumsikan kepada para pembaca akan menghasilkan produksi bacaan yang baru–sehingga terdapat pertukaran nilai antara yang memproduk bacaan dan yang mengkonsumsinya.9)

Sebagaimana Raymonds Williams menegaskan bahwa literatur yang berisi bacaan politik dalam bentuk novel, surat kabar, pamflet, brosur, merupakan produk kebudayaan yang harus diletakkan dalam konteks perkembangan kebudayaan dan politiknya. Lebih lanjut ia menjelaskan “produk kebudayaan berhubungan dengan tiga hal: kebutuhan, kebutuhan baru, dan reproduksi.”10)

Dalam tulisan ini, saya paling tidak akan menghubungkan pengetahuan yang dimiliki oleh pemimpin pergerakan yang memproduksi bacaan politik dengan panggung politik pergerakan (konteks historis) serta mengkaitkan analisis struktur teks dan bagaimana “literatuur socialistisch” disajikan; dan yang juga cukup penting bagaimana bacaan ini yang dicap sebagai “bacaan liar” dapat menjadi bacaan kaum pergerakan dan dapat dipahami oleh kaum kromo. Di sini saya menggunakan pendekatan yang digunakan Raymond Williams, yang menegaskan bahwa hegemoni bukanlah hal yang statis–tetapi konsep hegemoni mempunyai proses: adaptive, extensive dan incoporative. Dengan memandang bahwa hegemoni bukan konsep yang statis–literatuur socialistich merupakan perlawanan terhadap struktur organisasi kekuasaan kolonial. Atau dengan perkataan lain “literatuur socialistisch” merupakan counter-hegemoni atau alternatif terhadap hegemoni kekuasaan kolonial.

Selanjutnya tulisan ini akan dibagi kedalam beberapa bagian. Pada bagian pertama saya akan menguji sifat dari aktivitas kreatif dari kaum pergerakan dalam menyerap gagasan dari luar, dan mereka tuangkan dalam bentuk bacaan–sebagai basis perluasan hubungan antara general mode production dengan literary mode production. Sehingga dari sini akan terlihat bagaimana kaum pergerakan dengan gagasan yang sebelumnya tidak dianggap sebagai “literatuur socialistisch” dapat mendobrak gagasan atau bacaan kapitalisme yang oleh kaum pergerakan disebut sebagai bacaan kaoem modal.

Bagian kedua akan membahas bagaimana panggung pergerakan menjadi bagian dari perkembangan “bacaan liar” (literatuur socialistisch). Terutama, bagaimana surat kabar menjadi organ yang mendidik kaoem kromo–sehingga mereka dapat ikut dalam perdebatan atau perang soeara di antara kaum pergerakan sendiri maupun terhadap kebijaksanaan negara kolonial. Mulai dan masuknya gagasan sosialisme terbentuk dari sini, terutama dengan pecahnya revolusi Bolsjevik di Rusia pada tahun 1917 yang sangat mempengaruhi bentuk “bacaan liar.”

Dalam bagian ketiga dari tulisan ini, saya akan membandingkan produk “bacaan liar” dengan produk Balai Poestaka (BP), baik dari segi produksi, konsumsi, distribusi maupun pertukaran. BP yang sangat erat berhubungan dengan Het Kantoor voor Inlandsze Zaken (Kantor Urusan Bumiputra) turut mewarnai surat kabar dan bacaan bumiputra dengan semangat politik etisnya. Dengan mensejajarkan BP dengan produk “bacaan liar” akan terlihat bagaimana proses tumbuh dan berkembang yang kompleks dari “bacaan liar” yang sebelumnya tidak diarahkan untuk menyerang BP. Baru pada tahun 1924 berdiri institusi Kommisi Batjaan Dari Hoofdbestuur PKI yang secara terus-terang menentang produk bacaan BP sebagai geest kapitalisme (kapitalisme jiwa). Dengan berdirinya komisi batjaan ini maka terlihat bahwa proyek negara kolonial tidak dapat melakukan hegemoni terhadap penduduk kolonial Hindia, tetapi yang dapat dilakukan hanyalah dengan dominasi–hal ini terbukti dengan dihancurkannya institusi-institusi pendukung “bacaan liar.”

Bagian terakhir dari tulisan ini, saya akan menguji berbagai produk bacaan Kommisi Batjaan Dari Hoofdbestuur PKI yang peranannya tidak terbatas semata-mata untuk menyebarkan ide-ide, pendidikan politik dan merangkul sekutu-sekutu politik. Karena makna sebuah bacaan bukan sekedar sekumpulan propagandis dan agitator, akan tetapi juga sekumpulan organisatoris. Dalam pengertian ini, bagaikan meniti tangga ke sebuah bangunan, yang dapat lebih mempertajam lengkung-lengkung struktur bangunan, bacaan menjadi fasilitas komunikasi di antara kaoem kromo, mempermudah mereka membagi-bagi kerja, dan memandang hasil bersama yang mereka capai dengan tenaga kerja yang terorganisir. Namun demikian apa yang dicapai oleh PKI sebagai sebuah partai tidaklah demikian. Sehingga saya sangat berkepentingan untuk menggali apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1925 dan 1926?

Ekonomi Politik BacaanSoal ekonomi-politik bacaan di Hindia Belanda, tidak dapat dilepaskan dari general mode production dan literary mode production. Hal pertama membicarakan perkembangan cara produksi kapitalisme di Hindia Belanda yang pertumbuhannya sangat berbeda dengan di negeri jajahan lain dan di negeri induk sendiri. Sedangkan yang kedua berhubungan erat dengan produksi barang cetakan dan institusi yang mengkontrol distribusi dan pertukarannya. Pengertian general mode production adalah kesatuan daya dan hubungan-hubungan sosial produksi. Masing-masing formasi sosial dicirikan dengan penggabungan cara produksi yang secara normal mendominasi.Untuk keperluan itu marilah kita membahas persoalan yang pertama. Perkembangan yang mendorong kapitalisme modern (monopoli) di Indonesia menurut Boejoeng Saleh adalah, ketika negara kolonial memberlakukan Undang-undang De Waal pada 9 April 1870 dan diperkuat dengan Undang-Undang pertambangan 28 Mei 1899 (minyak, timah, batu bara, emas dll). Yang pertama mencoba menghapuskan Domeinverklaring, yang telah memberi dasar kapitalisme,11) dengan cara mengobral tanah dengan harga murah atas dasar erpacht (selama 75 tahun) dan menekan upah buruh serendah mungkin. Sedangkan undang-undang kedua, memperkuat kemungkinan-kemungkinan berkembangnya kapitalisme di Hindia Belanda, yang mengundang investasi modal dari negeri lain, meskipun masih dibatasi,12) tetapi bekerjanya kapital mulai membuahkan hasil. Dengan dibukanya perkebunan-perkebunan besar (Cultuur-gebied), pertambangan minyak yang dipelopori oleh perusahaan minyak patungan Inggris dan Kerajaan Belanda, Royal Dutch Shell Oil Company, hal ini mengakibatkan semakin meresapnya hubungan-hubungan sosial produksi kapitalis hingga ke desa-desa, terutama setelah dibangunnya jalan-jalan raya, pelabuhan modern, dan jalan-jalan kereta api yang merapatkan hubungan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain.

Kebijaksanaan negara kolonial tersebut menimbulkan implikasi-implikasi ekonomi-politik. Pada satu pihak, sikap Nederland sebagai pengatur negeri jajahan mempunyai “otonomi relatif”13) untuk melindungi industrinya sendiri dengan menekan tumbuhnya industri di Indonesia dan memaksa negeri jajahan hanya sebagai penghasil bahan-bahan mentah. Hal itu menghasilkan politik-drainage. Di pihak lain negeri-negeri metropolis lainnya yang ingin mendapatkan secara langsung bahan-bahan mentah dari Hindia Belanda tidak dikirim langsung ke negeri-negeri metropolis tersebut, tetapi terlebih dahulu ditimbun di Nederland. Demikian pula berbagai negeri industri yang ingin memasarkan hasil produksinya harus melalui Nederland,14) dengan maksud memberikan untung sebanyak-banyaknya kepada Nederland dari perdagangan transito.

Akibat semuanya itu tidak tumbuh klas burjuis dan klas proletariat yang kuat.

Kolonialisme sengaja dengan teratur menekan tumbuhnya burjuis nasional dengan cara berkejasama dengan sendi-sendi feodalisme yang terdapat di dalam susunan masyarakat dan organisasi desa. Tidak adanya burjuis nasional yang kuat dan sadar mengakibatkan perkembangan kebudayaan burjuis bumiputra tak mempunyai arti samasekali. Sebaliknya amat besar pengaruh pseudo-kultur burjuis yang kolonial.

Sementara itu, padatnya penduduk desa menimbulkan urbanisasi yang pesat ke kota-kota modern kolonial seperti Batavia, Surabaya, Semarang, Bandung dan Surakarta. Penduduk Batavia saja pada tahun 1905 telah mencapai 173.000 orang dan pada tahun 1930 telah meningkat hingga 533.000 orang. Sedangkan untuk Semarang yang merupakan kota perdagangan dan industri pada tahun 1905 mencapai 97.000 orang dan pada tahun 1930 telah mencapai 218.000 orang. Sementara itu untuk Surabaya sebagai kota buruh pertama di Hindia pada tahun 1905 jumlahnya mencapai 150.000 orang dan pada tahun 1930 meningkat pesat hingga 342.000 orang. Sedangkan untuk Surakarta, pusat industri batik pada tahun 1905 telah mencapai 118.000 orang dan pada tahun 1930 meningkat hingga 165.00 orang.15) Tapi penduduk yang mengalir dari desa tak dapat ditampung di kota akibat lemahnya industri seperti disebutkan di atas.

Sementara itu penetrasi modal yang lebih dalam ke Hindia Belanda, terutama dengan masuknya mesin-mesin baru yang menggerakan Jawa pada umumnya. Mesin adalah modal. Dan zaman modal, zaman baru kebijaksanaan kolonial liberal dan kapitalisme swasta baru dimulai pada tahun 1870. Pada tahun yang sama, pertamakali diresmikannya jalan kereta-api dari Vorstenlanden ke Semarang, yang dikelola sepenuhnya oleh Nederlandsch Indies Spoorweg (NIS) untuk mengangkut produksi gula perkebunan-perkebunan swasta yang beroperasi di Vorstenlanden dan sekitar Jawa Tengah.16) Dalam tahun-tahun depresi 1880-an para tuan kebun swasta terpaksa mempertahankan perkebunannya dengan meminjam modal dari institusi-institusi keuangan. Bank perkebunan yang paling aktif di Vorstenlanden dan sekitarnya adalah Dorrepaal Co. yang pada tahun 1884 mendanai 22 perkebunan gula, 38 perkebunan kopi dan 33 perkebunan lain yang beroperasi di seluruh Jawa.17)

Karena setiap perusahaan perkebunan memiliki modal yang terbatas dan tingkat bunga yang tinggi, mereka guncang dengan jatuhnya harga produksi perkebunannya–ditambah pula dengan tidak mampunya mereka membangun modal intensif dalam pabrik-pabrik gulanya. Depresi pada paruh tahun 1880-an menyapu bersih perkebunan-perkebunan swasta yang tidak mampu membayar kreditnya. Dorrepaal Co. yang bangkrut pada tahun 1884 diubah menjadi Dorrepaalsche Bank, dan kemudian melakukan rekonstruksi pada tahun 1887 sebagai Cultuur Maatschappij der Vortenlanden yang mengkontrol hampir seluruh perkebunan di Jawa. Sekarang korporasi modal mengambilalih perkebunan-perkebunan. Perusahaan-perusahaan yang dibentuk kembali sebagai perusahaaan terbatas, pengusaha-pengusaha perkebunan swasta diberi gaji manajer yang bertanggung jawab sebagai direktur perusahaan. Bank-bank perkebunan melanjutkan pemberian dana kepda perusahaan-perusahaan perkebunan, tetapi mereka sekarang juga mengadakan kontrol ketat. Mempekerjakan penasehat-penasehat yang di antaranya kebanyakan para manajer perkebunan yang kompeten, mereka mempunyai kemampuan memperbaiki teknik-teknik dan pembenihan serta produksi ekonomi dan turut campur dalam bidang penanaman dan bisnis.18)

Bank-bank perkebunan pada gilirannya berhubungan dengan institusi-institusi perbankan yang berpusat di Nederland. Korporasi modal yang mengontrol perkebunan-perkebunan itu makin besar sehingga mempunyai kekuasaan politik yang besar sekali di metropolis.

Dengan melakukan reformasi-reformasi ini korporasi modal berhasil menekan negara kolonial untuk memperluas periode penyewaan tanah untuk selama 30 tahun, membangun modal intensif yang tinggi pada pabrik-pabrik gula dengan menggunakan tenaga mesin uap, penanaman modal untuk memperbaiki teknik penanaman dan pembenihan serta mendirikan lemabaga-lembaga penelitian.

Reformasi kapitalisme di Jawa yang dilakukan oleh kaum liberal ini menimbulkan diferensiasi sosial, terutama dengan ditambahnya penyewaan tanah selama 30 tahun, yang berakibat banyaknya petani yang kehilangan tanahnya dan dipaksa untuk menjual tenaga kerjanya di pabrik-pabrik gula.

Sekarang, kita beranjak pada persoalan kedua yang masih berkenaan dengan ekonomi politik bacaan, yakni literary mode production (LMP). Kaitan LMP dengan GMP harus dipahami dalam pengertian, bahwa all printed matters (seluruh barang cetakan, termasuk buku, koran, teks lagu, novel) akan diletakkan dalam kerangka kekuatan dan hubungan sosial produksi yang dominan. Dengan meletakkan produksi bacaan dalam konteks general mode production, maka dapat dirinci perkembangan produksi, konsumsi, distribusi dan pertukaran barang cetakan (bacaan). Hal ini penting untuk melihat bagaimana proses gagasan sosialisme (literatuur socialisticsh) mendobrak bacaan-bacaan kapitalisme (geest kapitalistisch). Untuk keperluan itu saya perlu menelusuri perkembangan bacaan dan institusi-institusi yang memproduksi bacaan sebelum masuknya gagasan sosialisme.

Pembanjiran produksi barang cetakan dalam kekuatan dan hubungan produksi sosial kapitalisme tidak telepas dari persoalan kekuasaan dan modal. Semenjak Hindia Belanda diserahkan kembali oleh Inggris pada tahun 1812, rumah percetakan dipegang oleh percetakan negara yang disebut Landsdrukkerij. Keberadaan Landsdrukkerij ini terus bertahan hingga invasi Jepang pada tahun 1942. Adapun yang pertamakali mereka cetak adalah surat kabar mingguan Bataviaasch Koloniale Courant yang dikonsumsi oleh para pejabat kolonial. Sedangkan pengawasan penerbitan koran ini dilakukan oleh Secretarie Hooge Regeering, sedangkan bahan-bahan dan dana untuk menerbitkan surat kabar ini diberikan cuma-cuma oleh Bataviaasch Genootschaap.19)

Secara bertahap ruang lingkup kegiatan penerbitan Landrukkerij diperluas termasuk penerbitan untuk beberapa daerah dan departemen-departemen yang diciptakan oleh pemerintah di Batavia. Yang paling penting adalah penerbitan secara bertahap Koloniale Courant (berganti nama pada tahun 1828 menjadi Javasche Courant) kemudian Staatsblad van Nederlandsch Indie, Regeerings Almanak, dan selanjutnya Verhandelingen.20)

Sementara itu perdagangan buku yang dikelola secara semi-komersial (dalam pengertian pendistribusiannya masih diatur Departement Landsdrukkerij) dengan berdirinya Vereeniging ter Bevordering van de Belangen den Boekhandels dan perusahaan ini pun didirikan di Nederland, karena kesulitan memperoleh kertas yang bermutu tinggi.21)

Perdagangan buku saat itu masih terbatas dalam rangka penginjilan. Dan baru pada tahun 1835 Direktur Landsdrukkerij, L.D. Brest van Kempen mengeluarkan izin khusus untuk menjual buku-buku dalam bidang ilmu pengetahuan dan sastra untuk publik di Hindia. Semua persediaan buku yang dijual adalah buku import dan kebanyakan dari negeri Belanda.

Sedangkan perusahaan percetakan buku yang dikelola sepenuhnya oleh swasta dimulai tahun 1839, dipelopori oleh Cijfveer and Company. Pada tahun 1842 perusahaan berubah nama menjadi Cijveer and Knollaert, karena sebagian saham rumah perusahaan percetakan dijual kepada Knollaert. Kemudian perusahaan percetakan swasta pertama ini dijual kepada perusahaan dan berganti nama menjadi Ukeno & Company, dan pada tahun 1846 dijual lagi kepada Lange en Compagnie. Dan akhirnya perusahaan ini karena kerugian yang terus-menerus, dijual kepada Bruyning en Wijt.22)

Seiring dengan masuknya modal swasta ke Hindia Belanda ke perkebunan-perkebunan dan pertambangan pada tahun 1870, maka diperlukan pembangunan badan-badan penelitian untuk mengembangkan dan mengakumulasikan modal mereka. Suikersyndicaat mempunyai badan penelitian sendiri dan mereka membutuhkan barang cetakan agar penanaman modal di Hindia Belanda mengetahui seberapa jauh kesehatan finansial mereka. Demikian pula Javasche Bank juga membutuhkan barang cetakan bagi keperluan yang sama, yakni untuk mengundang modal asing ke Hindia Belanda, brosur atau buku-buku perkenalan mereka dicetak di G.C.T. van Dorp & Co. yang mempunyai rumah cetak di Semarang, Batavia dan Surabaya. Pada saat yang sama berjamuran barang-barang cetakan seperti Indische Gids dan surat kabar yang pertamakali beredar secara massal di Hindia Belanda, De Locomotief, berdasarkan namanya dapat dilihat bahwa suratkabar itu diterbitkan untuk memperingati masuknya kereta-api di Hindia Belanda, dan dicetak oleh N.V. Dagblad de Locomotief.23)

Barang cetakan ini kebanyakan dikonsumsi oleh orang-orang yang bekerja di perkebunan: asisten perkebunan dan para insinyur perkebunan. Isi barang-barang cetakan yang mereka peroleh masih lebih bersifat cerita-cerita nasehat dan pendidikan untuk para insinyur perkebunan.

Suratkabar-suratkabar komersial kepunyaan orang Eropa hingga 1870 banyak sekali memuat advertensi (iklan),24) setelah itu baru suratkabar-suratkabar berbahasa Belanda memuat tidak hanya berita-berita lokal tetapi juga mencakup berita-berita dari Eropa. Sedangkan barang cetakan berbahasa daerah, lebih banyak menyoroti peristiwa-peristiwa lokal.

Sementara itu rumah-rumah cetak Tionghoa peranakan muncul tidak berbeda jauh dari rumah-rumah percetakan kepunyaan orang-orang Eropa. Memang untuk pertamakali mereka masih mencetak di perusahaan percetakan Van Dorp, dan hanya menterjemahkan dan menerbitkan Boekoe tjerita Tjioe Koan Tek anak Tjioe Boen Giok, terkarang oleh Soeatoe Orang Tjina. Tetapi kemudian mereka, pada paruh abad ke-19 telah menerbitkan suratkabar berbahasa Melayu dengan tulisan Latin yang terbit di Jawa: Soerat Chabar Betawie terbit tahun 1858, Selompret Melajoe muncul pertamakali tahun 1860 dan Bintang Soerabaja tahun 1860.25)

Namun diperkirakan semua suratkabar Tionghoa peranakan ini dicetak di rumah cetak Van Dorp mengingat tempat itu adalah rumah cetak komersil pertama di Hindia Belanda. Rumah cetak Van Dorp berhasil mengeruk keuntungan pada tahun 1914 sebesar 200.000 florin.26)

Tahun 1877 Tjiong Hok Long mendirikan rumah cetak Goan Hong dan Liem Kim Hok pada tahun 1885 membeli percetakan kepunyaan seorang Belanda, Van der Linden. Banjirnya rumah-rumah cetak Tionghoa peranakan dimulai pada penutup abad ke-19 seperti Goei P.H., Jo Tjiam Goan, L.S.T. & T.H.L., Oei Tjoen Bin, Thio Tjeng Teng, dan Thio Tjoe Eng, Tiong Hoa Wi Sien Po yang berdiri tahun 1906.

Sementara itu bentuk-bentuk bacaan yang diproduksi oleh penulis dan rumah cetak Tionghoa peranakan lebih beragam ketimbang produk penulis dan rumah cetak Eropa yang yang disebutkan di atas. Lebih beragamnya barang cetakan dari orang Tionghoa peranakan seperti saduran karya-karya prosa Shair Ong Tjiauw Koen Ho (1888) yang mengisahkan petualangan Putri Wang Zhaoajun; Boekoe Elmoe Peladjaran, tersalin dari Boekoe Tjina Tjoe Ke Hoen, njang amat bergoena sekalie boeat kasie mengertie pada sekalian orang (1888), cerita yang bersifat nasehat dan pendidikan; Sair dari hal datengnja Poetra Makoeta keradjaan Roes di Betawi dan pegihnja (1891), cerita-cerita mengenai kejadian semasa. Selanjutnya karya-karya yang dimaksudkan sebagai hiburan semata, seperti Rodja Melati Oleh Si Nonah Boto (1891), terjemahan novel Kisah Hanwan dan Ular Putih (1893), tulisan-tulisan keagamaan dan pendidikan Peladjaran Keloearga Guru Zhu (1897), tulisan-tulisan revolusioner “Oeroesan Tiongkok” 15 tahoen di moeka (1909).27)

Kertas untuk mencetak diimpor dari Jepang, sebab harganya sangat murah ketimbang mereka memesan dari The Big Five yang harganya jauh lebih mahal. Penterjemahan dan penyaduran karya-karya revolusioner yang diproduksi oleh Tionghoa peranakan sangat membantu dan mendorong penerbitan tulisan-tulisan “bacaan liar” pada tahun 1924-25 di bawah naungan Kommisi Batjaan Hoofdbestuur PKI. Karena itu tidak terjadi sebuah pertarungan antara penulis dan penerbit “bacaan liar” dengan penulis dan penerbit Tionghoa peranakan. Selain itu para penerbit Tionghoa peranakan turut memberikan sumbangan dana untuk pergerakan melalui pemasangan iklan. Hal ini akan saya bahas dalam akhir tulisan ini.

Reaksi dalam bentuk “literatur” ini dibagi dalam dua babak. Babak pertama teks bacaan yang pertamakali dimulai oleh golongan peranakan Eropa (Indo) dan Tionghoa. Dalam periode yang kedua bacaan ditulis dan diterjemahkan oleh orang bumiputera sendiri.

Babak pertama dimungkinkan karena adanya orang-orang peranakan Belanda dan Tionghoa yang memiliki rumah cetak dan surat kabar.28) Teks bacaan yang diproduksi dimulai dengan terjemahan novel-novel fiksi Eropa, seperti karya Robinson Crusoe dan Jules Vernes yang masing-masing diterjemahkan oleh F. Wigeers dan Lie Kim Hok.29) Kemudian ditambah dengan terjermahan fiksi-fiksi populer di antaranya Hikayat Sultan Ibrahim, Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Jan Pieterzooncoen. Ceritera-ceritera tradisional ini disebarluaskan melalui berbagai surat kabar. Selanjutnya bacaan-bacaan ini juga diterbitkan dalam edisi buku teks oleh sarjana-sarjana Belanda, seperti H.C. Klinkert dan A.F. von de Wall.

Tetapi terobosan penting dilakukan oleh tiga jurnalis yakni, F.H. Wiggers, H. Kommer dan F. Pangemanan. Dua orang pertama dari golongan peranakan Eropa dan yang terakhir kelahiran Menado. Ketiga orang ini yang mendorong dan mengarahkan penulisan-penulisan ceritera asli dengan latar belakang sejarah Indonesia. Mereka menulis dengan lancar dalam Melayu pasar dan karya-karya mereka dapat diterima baik di kalangan Indo maupun Tionghoa peranakan. Tetapi di antara ketiga orang tersebut yang paling produktif (menerbitkan tiga tulisan) adalah F. Wiggers; di samping itu dia juga menterjemahkan berbagai buku perundang-undangan resmi ke dalam bahasa Melayu, membantu Liem Kim Hok dalam menterjemahkan karya Michael Strogoff, Le Comte de Monte Cristo. Terjemahan paling penting yang ia buat adalah karya Melati van Java’s (nama pena Nicolina Maria Christina Sloots yang hidup dari 1853-1927, seorang wanita Belanda yang banyak menulis tentang kehidupan Hindia semasa penjajahan Belanda), Van Slaaf Tot Vorst. Ceritera ini merupakan sebuah rekonstruksi imajinatif dari legenda Surapati yang dibumbui dengan mengacu pada keris suci dan _djampe-djampe_ dan alur cerita penuh dengan intrik dan romantika dalam keluarga kerajaan.30)

Sedangkan H. Kommer lebih dikenal sebagai sastrawan pada masanya dengan karya “Nji Paina” terbit di Batavia pada 1900 dan “Tjerita Njonja Kong Hong Nio” yang terbit di Betawi tahun 1900, dikeluarkan oleh penerbit terkenal pada masa itu: A. Veit & Co dan W.P. Vasques. H. Kommer dengan Nji Paina-nya, sadar atau tidak, telah melancarkan kecaman tajam terhadap kaum pemilik pabrik gula, yang saat itu merupakan tulang punggung Hindia Belanda dalam mendapatkan devisa. Sedangkan karyanya yang lain Njonja Kong Hong Nio yang baik dari bentuk maupun isi bisa disebut modern, adalah sebuah dokumen tentang kehidupan di tanah partikelir dan swasta. Karyanya ini mengisahkan tragedi kejatuhan bangsawan pribumi yang diukiskan secara dramatis, sehingga kenyataan fiksi di sini terasa lebih mencekam daripada kenyataan sosial sendiri.

F. Pangemanan berasal dari marga Minahasa yang maju pada masanya, yang banyak menghasilkan kaum terpelajar, yang pada umumnya dipersamakan (gelijkgesteld) dengan komunitas Eropa di Hindia. Karyanya adalah Tjerita Si Tjonat dan Sjair Rossina. Tjerita Si Tjonat berkisah tentang seorang bandit yang beraksi di sekitar Batavia dan melakukan serangkaian pembunuhan, penculikan dan perampokan terhadap orang-orang Eropa. Cerita ini adalah kisah pertualangan yang romantis. Si Tjonat, walaupun seorang bandit, tidak pernah melakukan pemerkosaan. Ia bahkan digambarkan oleh F. Pangemanan sebagai seorang pahlawan. Sjair Rossina melukiskan seorang budak wanita yang melarikan diri dari majikannya, tetapi jatuh ke dalam perangkap seorang perampok. Dan tulisan ini juga diramu dalam bentuk petualangan romantis.

Sebaliknya literatur golongan Tionghoa peranakan dimulai oleh Liem Kim Hok yang memulai karirnya dengan menulis Siti Akbari, yang menceritakan penyebaran agama Hindu di Hindia. Dalam sejarah pers di Hindia ia pernah menyusun aturan bahasa “Melayu Betawi” yang terbit tahun 1891. Kemudian disusul oleh Nio Joe Lan yang menyadur Hikayat Sultan Ibrahim, yang mengisahkan penyebaran agama Islam di Hindia. Karya yang lebih maju dari golongan Tionghoa peranakan ditulis oleh Liem Koen Hian dengan judul Ni Hoe Kong Kapitein Tionghoa di Betawi dalem Tahoen 1740 terbit tahun 1912. Tulisan ini menggambarkan peristiwa pembunuhan orang-orang Cina pada tahun 1740.

Tulisan-tulisan orang Indo maupun Tionghoa peranakan yang digambarkan secara singkat di atas, masih menampakkan wataknya asimilatif atau pembauran. Meskipun dalam beberapa hal mulai kritis terhadap sistem kolonial, tetapi secara keseluruhan isinya masih tetap mempertahankan segi-segi moral kolonial, terutama tulisan-tulisan yang diproduksi oleh golongan Eropa. Ini yang membuat bacaan-bacaan tersebut masih dikategorikan sebagai bacaan yang menyenangkan, untuk mengisi waktu luang para pembacanya.31)

Namun demikian sumbangan penulis-penulis Tionghoa peranakan cukup besar, terutama dalam memperkaya kosakata bahasa Melayu-Pasar misalnya, “loteng”, “bihun”, “ketjap”, “toko” dan lainnya, yang terutama sangat dimengerti oleh kaum buruh. Hal ini didasari keadaan masyarakat Tionghoa-Peranakan pada saat itu. Kekuasaan kolonial Belanda di Hindia tidak memperkenankan anak Tionghoa memasuki sekolah Belanda untuk anak Belanda dan juga tidak memperbolehkan anak Tionghoa menjadi murid sekolah yang diadakannya untuk orang Indonesia. Sebagai perkecualian anak Tionghoa yang dapat diterima adalah anak seorang Tinghoa yang diangkat menjadi “opsir Tionghoa” (“mayor Tionghoa”, “kapten Tionghoa” dan “letnan Tionghoa”). Dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa yang digunakan kaum buruh. Sumbangan lainnya terhadap dunia bacaan adalah cerita-cerita bersambung.32)

Namun demikian penerbit Tionghoa-Peranakan tidak menetapkan harga berdasarkan satu buku cerita, tapi berdasarkan bab. Harga produksi bacaannya bermacam-macam f.0,75, f. 0,80, dan f.1–walaupun ada juga yang memasang harga f. 0,50, f. 1,25 atau bahkan lebih, f. 2,50.33)

Harga cerita bersambung _Sam Kok_, f.0,50 per jilid. Untuk mengkonsumsi cerita ini orang harus mengeluarkan uang 65 x f.0,50 = f.32,50. Demikian pula, cerita See Joe yang terdiri dari 24 jilid dan dijual f.0,80 untuk setiap jilidnya, sehingga para pembacanya harus membayar f.19,20; cerita bersambung “Gak Hui” tarifnya f.1,- untuk satu jilidnya, sehingga orang harus membayar f.22,- untuk membaca seluruh cerita.34)

Teknik berdagang buku semacam ini pertama-tama untuk meringankan beban beli pembaca dan sekaligus untuk merangkul lebih banyak pembeli. Teknik memecah-mecah buku cerita menjadi beberapa jilid kemudian ditiru oleh para pemimpin pergerakan, misalnya Marco yang menjual Mata Gelap (terdiri dari tiga jilid) setiap jilidnya f.0,15,- atau Kommunisme serie I dan II masing-masing perjilid f.0,25,-.

Babak kedua adalah bacaan-bacaan yang ditulis oleh orang bumiputra sendiri pada awal abad ke-20. Yang menarik dari perkembangan produksi bacaan yang dilahirkan oleh orang-orang bumiputra adalah penggunaan “Melayu pasar” yang rupanya juga mengikuti para pendahulunya, golongan Indo dan Tionghoa peranakan. Kenapa demikian? Karena “Melayu Pasar” adalah bahasa para pedagang dan kaum buruh yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah dengan pengajaran bahasa Melayu yang baik.35) Selain itu bacaan-bacaan yang ditulis dalam bahasa Melayu Pasar mempergunakan bahasa lisan sehari-sehari yang terasa lebih spontan dan kadang-kadang lebih hidup, lebih bebas dari ikatan tatabahasa. Perkembangan produk bacaan bumiputra sangat didukung dengan meriapnya industri pers pada awal abad ke-20.36)

Golongan bumiputra yang bisa disebut perintis fiksi modern adalah R.M. Tirtoadhisoerjo dengan karyanya Doenia Pertjintaan 101 Tjerita jang soenggoe terjadi di Tanah Priangan diterbitkan pada tahun 1906. Kemudian disusul dengan karya-karyanya yang lain: Tjerita Njai Ratna, terbit tahun 1909, Membeli Bini Orang, terbit pada tahun yang sama dan Busono terbit tahun 1912. Sedangkan tulisan-tulisan non-fiksi R.M. Tirtoadhisoerjo, atau lebih tepat tulisan politiknya adalah, Gerakan Bangsa Tjina di Soerabaja melawan Handelsvereniging Amsterdam yang dimuat dalam Soenda Berita pada tahun 1904; Bangsa Tjina di Priangan dimuat dalam media yang sama pada tahun 1904; Peladjaran Boeat Perempoean Boemipoetera yang juga dimuat dalam media yang sama dan tahun yang sama; Soeratnja Orang-Orang Bapangan, dimuat dalam Medan Prijaji (MP), tahun 1909; Persdelict: Umpatan, diumumkan dalam MP tahun 1909, Satoe Politik di Banjumas, disiarkan di MP tahun 1909; Drijfusiana di Madioen dimuat di MP tahun 1909; Kekedjaman di Banten dimuat di MP tahun 1909; Omong-Omong di Hari Lebaran, disiarkan di MP tahun 1909; Apa jang Gubermen Kata dan Apa jang Gubermen Bikin dimuat di MP tahun 1910 dan Oleh-Oleh dari Tempat Pemboeangan yang pertamakali disiarkan di harian Perniagaan, kemudian diumumkan kembali di MP tahun 1910.37)

R.M. Tirtoadhisoerjo sebagai seorang pelopor pergerakan nasional yang memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi, telah mendorong beberapa tokoh pergerakan untuk melakukan hal yang sama, seperti Mas Marco Kartodikromo, Soeardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Semaoen, Darsono dan lainnya. Mereka semua menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin (kromo). Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Penyebaran gagasan dalam bentuk bacaan-bacaan politik berkenaan dengan konsep pergerakan, sebagaimana ditegaskan oleh Marco pada tahun 1918:

Soenggoehpoen amat berat orang bergerak memihak kepada orang yang lemah, lihatlah adanja pemogokan jang beroelang-oelang diwartakan dalam Sinar ini. Di sitoe soedah menoendjoekkan bilangannja berpoeloeh-poeloeh korban itoe pemogokan, inilah memang soedah seharoesnja. Sebab melawan kaoem jang mempoenjai pabrik pabrik itoe sama ertinja dengan melawan pemerentah jang tidak adil…. Lantaran hal ini, maka di sitoe timboellah peperangan soeara (soerat kabar) jaitoe fehaknja pemerentah dan fehaknja ra’jat. Apakah peperangan mentjari makan di Hindia sini achirnja djoega seperti peperangan mentjari makan di Zuid Afrika? Inilah misih djadi pertanjaan jang tidak moedah didjawab! Kami tahoe ada djoega bangsa kita anak Hindia jang lebih soeka memehak kaoem oeang dari pada memehak bangsanja jang soedah tertindas setengah mati, maar… djangan poetoes pengharapan pembatja! disini ada banjak sekali anak anak moeda jang berani membela kepada ra’jat, dan kalau perloe sampai berbatas jang penghabisan. Dari itoe kita orang tidak oesah takoet dengan bangsa kita mahloek jang lidahnja pandjang, lidah mana jang hanja, perloe diboeat mendjilat makanan jang tidak banjak, dan dia bekerdja diboeat masih melawan bangsanja sendiri jang ini waktoe masih djadi indjak-indjakan. Sekarang ada lagi pertanjaan, jaitoe tidak saban orang bisa mendjawab itoe pertanjaan: Apakah di Hindia sini ada soerat kabar jang dibantoe oleh kaoem oeang, soepaja itoe soerat kabar bisa melawan soerat kabarnja rajat? Ada! tetapi nama soerat kabar itoe pembatja bisa mentjari sendiri. Lain dari itoe, kita memberi ingat kepada saudara-saudara, djanganlah soeka membatja sembarang soerat kabar, pilihlah soerat kabar jang betoel-betoel memihak kepada kamoe orang, tetapi jang tidak memihak kepada kaoem oeang. Sebab kalau tidak begitoe, soedah boleh ditentoekan, achirnja kita orang Hindia tentoe akan terdjeroemoes di dalam lobang kesengsara’an jang amat hina sekali.

Achir kalam, kami berkata; NGANDEL, KENDEL BANDEL, itoelah gambar hatinja manoesia jang tidak memandjangkan lidahnja, tetapi menoendjoekkan giginja jang amat tadjam, dan kalau perloe…38)

Ilustrasi pergerakan yang diberikan oleh Marco menunjukkan situasi pergerakan yang kompleks. Ia menghubungkan pergerakan di Afrika Selatan yang menghadapi kekuasaan kolonial Inggris dengan pergerakan di Hindia Belanda yang dikungkung oleh kekuasaan kolonial Belanda. Namun sudah tentu ia lebih menitikberatkan pada situasi kekuasaan kolonial di Hindia, yang dipandangnya sebagai situasi yang kompleks. Sebagaimana kebanyakan kaum pergerakan melihat situasi pergerakan, ia melihat banyaknya rintangan, Dikatakannya “kami tahu ada juga anak Hindia yang lebih suka memihak kaum uang daripada memihak bangsanya yang sudah tertindas.” Makna dari perkataan ini, bahwa selain menghadapi kolonialisme, pergerakan juga menghadapi kalangan bumiputra (yang juga terlibat dalam dunia pergerakan) sendiri yang berpihak kepada kekuasaan kolonial. Selain itu juga disebutkan dalam teks di atas, bahwa kaum uang untuk menjaga kepentingan modalnya juga perlu memiliki surat kabar yang dibaca pula oleh kaum muda, kaum pergerakan. Kesan teks di atas adalah bahwa banyak kaum pergerakan yang tidak kritis membaca surat kabar kaum modal, dalam arti tidak melacak kandungan kepentingan-kepentingan pemilik modal dalam isi surat kabar tersebut39), ini juga salah satu rintangan dalam pergerakan.

Untuk menghadapi rintangan ini Marco sebagaimana pemimpin pergerakan lainnya, mengajak perang suara atau perang pena di surat kabar, untuk membuka mata kaum bumiputra terhadap tatanan kekuasaan kolonial serta untuk dapat menilai “mana yang kotor dan bersih”.40)

Maka demi menghela rintangan-rintangan bagi pergerakan diperlukan bacaan-bacaan politik, agar “kaum kromo” mengetahui, memahami dan menyadari politik kekuasaan kolonial.

Bacaan-bacaan yang dihasilkan oleh para pemimpin pergerakan di atas dapat dikategorikan sebagai “bacaan politik”. Hampir semua bacaan yang diproduksi oleh para pemimpin pergerakan apakah bentuknya novel, roman, surat perlawanan persdelicht dan cerita bersambung, isinya menampilkan kekritisan dan perlawanan terhadap tata-kuasa kolonial. Sejarah mencatat, sesungguhnya sastra Indonesia sejak mula sejarahnya merupakan sastra protes.

Pada awal abad ke-20 rumah-rumah cetak di Hindia tumbuh dengan pesat, di Semarang saja ada delapan rumah cetak, di antaranya firma Benjamin & Co, firma Bisschop & Co, firma Masman & Stroink, N.V. Dagblad “De Locomotief”, de N.V. Hap Sing Kongsie, de firma Misset & Co.41)

Dan barang cetakan yang mereka keluarkan sangat beragam, misalnya firma Masman & Stroink mau menerbitkan tulisan Sneevliet yang berjudul Pertoendjoekan Kekoeasaan dan Bahaja Kelaparan. Sementara itu orang bumiputra yang mempunyai rumah cetaknya sendiri adalah R.M. Tirtoadhisoerjo, yang bekerjasama dengan Hadji Moehammad Arsjad dan Pangeran Oesman–N.V. Javaanche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfboeten “Medan Prijaji”, yang kemudian disusul dengan berdirinya rumah cetak Insulinde yang sebagian besar dananya disokong oleh H.M. Misbach. Rumah cetak Insulinde ini antara lain menerbitkan Mata-Gelap-nya Marco.

Tidak lama berselang berdiri rumah cetak VSTP yang menerbitkan suratkabar Si Tetap. Berbeda dengan rumah cetak Eropa yang selalu cari untung, rumah cetak bumiputra lebih menekankan pendidikan “ra’jat djadjahan” dan memberi harga murah agar dapat dijangkau oleh pembaca. Karena itulah proses pencetakannya dibuat lebih sederhana, misalnya Mata Gelap dibagi menjadi 3 jilid. Ada dua “keuntungan” dari teknik menerbitkan seperti ini. Pertama, harganya lebih murah yang berarti jangkauan pembacanya pun lebih luas, dan kedua ada semacam ikatan antara pembaca dan bacaan yang dibangun dalam proses itu. Sulit membayangkan bahwa orang mau membaca hanya jilid kedua atau ketiganya saja. Dengan teknik ini maka pembaca dibentuk hidup dalam satu lingkaran, yaitu lingkaran pembaca.

Satu-satunya rumah cetak milik orang Arab, yakni Hasan Ali Soerati adalah N.V. Setia Oesaha yang kemudian diambil alih oleh Tjokroaminoto untuk menerbitkan organ CSI–Oetoesan Hindia. Pada awal tahun 1920-an dengan berdirinya PPPB, mereka mempunyai rumah percetakan sendiri dengan menerbitkan organnya Doenia Merdeka pada tahun 1924 untuk menggantikan organ sebelumnya, jurnal Pemimpin yang terbit sejak tahun 1921.

Membanjirnya barang-barang cetakan ini sejak tahun 1910-an hingga 1920-an, terjadi bagaimanapun setelah dikeluarkannya undang-undang pers yang baru pada tahun 1906 yang menetapkan sensor represif sebagai pengganti sensor preventif. Tetapi undang-undang pers yang baru ini lebih jauh dapat diterjemahkan menjadi pen-sensoran diri oleh pemimpin redaksi yang khawatir bacaannya bisa dilarang atau dibredel oleh negara kolonial.

Dalam perspektif ini, barang cetakan maupun surat kabar semata-mata adalah sebuah “bentuk ekstrem” dari buku, buku yang dijual dalam skala massal, meskipun popularitasnya hanya berlangsung sebentar.42) Pertumbuhan dan peredaran surat kabar di Hindia pada tahun 1910-1920-an jauh ketinggalan dibandingkan dengan di Eropa, karena lambatnya perkembangan industri percetakan. Hal ini tentu berkaitan dengan ketidak-matangan tumbuhnya kapitalisme di Hindia. Meskipun demikian, suratkabar, novel, buku merupakan hal yang modern di Hindia Belanda, sebab barang-barang cetakan tersebut menciptakan upacara massal yang luar biasa, yang melibatkan sejumlah besar orang. Satu upacara kolosal.43)

Dengan meletakkan bacaan pada struktur produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi dalam kekuatan dan hubungan produksi sosial tertentu (organisasi penulis, kerjasama di antara para producer, percetakan dan organisassi penerbit), maka akan terlihat jelas aktivitas kaum pergerakan dalam memberikan respons dan reaksi terhadap kekuasaan kolonial.

Pada zaman pergerakan, seorang revolusioner seperti Semaoen, Darsono, Marco, juga seorang jurnalis. Banyak waktu mereka digunakan untuk menulis artikel, menyunting dan mendistribusikan suratkabar-suratkabar kecil. Membaca surat kabar ini, adalah suatu langkah yang baik untuk merekonstruksi kisah perjuangan internal dan eksternal dari kaum pergerakan. Dengan suratkabar dan barang cetakan lainnya kaoem kromo dapat membentuk kesadaran kolektif untuk membayangkan masa depan yang mereka hadapi. SI Semarang menerbitkan Sinar Hindia yang peredarannya mencapai 20.000 hingga 30.000 eksemplar.44)

Dengan demikian, suratkabar bukan hanya propaganda kolektif, tetapi juga organizer kolektif. Bagaimanapun, mereka juga memerlukan pemasukan untuk mempertahankan produksi dengan menerima pemasangan reklame dari berbagai perusahaan, baik produksi yang dihasilkan di Hindia maupun produk luar negeri. Selain itu dana juga diperoleh dari para pendukungnya (pelanggan) sebesar f. 0,50,- setiap orang.

Pada saat itu juga muncul buku-buku bacaan kecil (booklets), yang biasanya dimuat di dalam suratkabar-suratkabar secara bersambung yang diproduksi oleh institusi-institusi pergerakan, mengambil contoh dari bacaan yang diproduksi oleh orang Tionghoa peranakan. Dan yang cukup penting, para pemimpin pergerakan yang sekaligus menjadi jurnalis mendirikan perhimpunan atau organisasi untuk menentang kebijaksanaan kolonial yang kebanyakan didanai oleh saudagar-saudagar batik, seperti Hadji Samanhudi yang mendanai Sarotomo atau H.M. Bakri yang mendanai Doenia Bergerak serta Hadji Misbach yang mendanai Medan Moeslimin dan Islam Bergerak.45)

Hal yang juga turut mendorong perkembangan pers dan barang cetakan lainnya adalah suatu kebijaksanaan penting, yakni politik etis yang dicanangkan tahun 1901. Politik ini merupakan hasil dari perubahan dalam parlemen di Belanda, yaitu kemenangan koalisi partai-partai kristen di Belanda, yang terdiri dari Partai Katolik, Partai Perkumpulan Kristen dan Partai Anti Revolusioner. Dengan kemenangan koalisi ini, berdasarkan kepercayaan moral, mereka merasa perlu memperbaiki kondisi hidup di Hindia melalui pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Namun semua kebijaksaan politik ini, senantiasa dijalankan untuk kepentingan negeri induk. Politik Etis dapat dikatakan demi kepentingan komoditi, dalam pengertian pendidikan sebagai salah satu elemen politik etis tidak diterapkan untuk seluruh lapisan masyarakat di seluruh Hindia–pendidikan di Hindia dilelang mahal.46) Politik Etis ini merupakan momen dalam suatu critical period ketika rakyat Hindia memasuki dunia modern dan pemerintah berusaha memajukan rakyat bumiputra dan sekaligus menjinakkannya.

Bersamaan dengan itu, negara kolonial, untuk meredam konflik yang lebih tajam antara aparat negara dan rakyat, merasa berkewajiban secara moral untuk mengajar para aristokrat dan menjadikannya partner dalam kehidupan budaya dan sosial. Partner semacam ini diharapkan akan menutup jurang pemisah antara negara dan masyarakat kolonial. Dr. Snouck Hugronje salah seorang ilmuwan orientalis mendambakan dibangunnya suatu ikatan Belanda Raya (Pax Nerderlandica). Untuk itu rakyat Hindia harus dituntun agar bisa berasosiasi dengan kebudayaan Belanda, dan setiap kecenderungan bumiputra untuk berasosiasi harus selalu disambut dan dibantu. Atas inisiatifnya dibangun institusi kolonial yang mengurus persoalan-persoalan pribumi, yang dikenal dengan nama Het Kantoor voor Inlandsche Zaken.47)

Antara Balai Poestaka dengan Het Kantoor voor Inlandsche Zaken ada hubungan yang sangat erat. Di dalam Kantoor voor Inlandsche Zaken bercokol ahli-ahli bahasa yang bertugas mengadakan penelitian terhadap bahasa-bahasa di Hindia-Belanda.48)

Institusi Balai Poestaka memberikan pertimbangan dan juga turut memberi pertimbangan kepada negara kolonial tentang pemilihan naskah bacaan bagi perpustakaan sekolah dan masyarakat kolonial umumnya. Pengurusnya terdiri dari enam orang dan diketuai oleh Hazeu, Advizeur voor Inlandshe Zaken. Setelah kedatangan Rinkes ke Hindia Belanda tahun 1910, maka pekerjaannya diambil alih oleh orang ini sejak 8 November 1910. Rinkes sebelumnya telah aktif sebagai pegawai bahasa di Kantoor voor Inlandsche Zaken. Kedua kantor ini secara administratif berada di bawah Direktur Departement van Onderwijs (Departemen Pendidikan). Namun demikian menurut Aqib Soeminto yang mendapat sumber dari Dr. G.W.J Drewes menegaskan “…secara organisatoris tidak terdapat hubungan kerjasama antara keduanya”.49)

Menurut saya ini penegasan yang keliru; pertama, yang diwawancarai oleh Soeminto adalah bekas pegawai kolonial dan sekaligus seorang ilmuwan orientalis sehingga keterlibatannya dalam dunia kolonial banyak menimbulkan bias dalam pandangannya; kedua, baik Balai Poestaka maupun Kantoor voor Inlandsche Zaken merupakan institusi yang berusaha mendominasi dan mensubordinasi proses organisasi sosial dan mengontrol perkembangan masyarakat Hindia Belanda. Hal ini dibuktikan dengan tugas pegawai bahasa di Kantoor voor Indlandsche Zaken untuk meneliti bahasa-bahasa masyarakat kolonial. Dari penelitian ini mereka kemudian menetapkan tata bahasa daerah sesuai dengan pengetahuan mereka. Pengetahuan seorang ilmuwan bagaimanapun tidak pernah netral, dan dalam konteks kolonial, pengetahuan para ilmuwan ini harus ditempatkan dalam konteks kolonialisme. Sementara itu tugas utama Balai Poestaka adalah menyiapkan bahan bacaan bagi masyarakat, antara lain menggunakan hasil penelitian dan pikiran para ilmuwan orientalis ini, sehingga jelas kedua institusi ini tidak dapat terpisahkan secara organisasi apalagi dari segi kepentingan politik dan ideologi. Kesalahan Soeminto menjadi kelas karena ia melihat kedua institusi kolonial ini hanya sebagai organisasi yang mengurus masalah-masalah bumiputera. Konteks kolonialisme dengan eksploitasi ekonominya, kepentingan politiknya, dan ideologi hampir-hampir tidak dipertimbangkan.

Tidak dapat disangkal lagi kalau ada aksi pasti ada reaksi. Pemerintah kolonial mulai bereaksi mengatasi derasnya bacaan yang mulai menyinggung kekuasaan kolonial, baik yang dihasilkan oleh pemimpin pergerakan, orang Indo maupun Tionghoa peranakan, melalui kedua institusinya, Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur dan Kantoor voor Inlandsche Zaken. Yang terpenting dari reaksi pemerintah kolonial ini adalah–terutama setelah Balai Poestaka direformasi pada tahun 1917–pemberian label “bacaan liar” untuk tulisan-tulisan pemimpin pergerakan. Label ini pertamakali diberikan oleh Rinkes, direktur Balai Poestaka. Image “bacaan liar” yang diproduksi oleh kaum pergerakan ini diungkapkan Rinkes karena kekhawatiran negara kolonial terhadap barang-barang cetakan seperti surat kabar, jurnal, novel dan bentuk-bentuk bacaan lainnya, sebagaimana dijelaskan olehnya pada tahun 1914:

The only publication that dominated all those, with Darma Kanda as the exception, and something more than a local newspaper with personal slanging match (met personlijke scheld partijen) was Medan Prijaji…which besides sharing the character with others showed itself as more energetic, gifted, cunning and more poisonous and which declared Java as its territory of action (terrein van actie)

In beginning it was published as a weekly an after being develop, within 2 years it had been converted into a daily, constantly loved, and according to some it has 2000 subscribes. In itself for a European newspapers in the indies that is not a bad figure, which is even more so for a Malay newspaper….

In the weekly and later daily newspaper… The goverment and goverment regulations were ridiculed and at same time those half–baked groups (de kringen van half-ontwikkelen) were captivated and influenced by [its] deception, by pushing [them] to improve their lot and the like)50)

Dengan Rinkes menyatakan surat kabar harian maupun mingguan isinya seringkali provokatif–menyerang pemerintah kolonial, mengejek aturan-aturan pemerintah dan menyerang pejabat pemerintah–maka bacaan-bacaan tersebut dianggap telah melanggar kekuasaan kolonial dan menggangu ketertiban. Lebih jauh pernyataan Rinkes ini merupakan hasil perdebatannya dengan Marco pada tahun 1914 tentang hasil-hasil kerja Mindere Welvaart Commissie, yang dianggap Marco sebagai usaha mempertahankan mitos politik etis.

Namun demikian bagaimana sebenarnya kedudukan bacaan dalam masyarakat? Bagaimana proses know how dari pemimpin pergerakan untuk berpikir tentang terbitan sebagai organizer? (gagasan yang dipraktekkan)? Dan bagaimana suratkabar dan barang-cetakan lainnya dalam realitas menjadi unsur penggerak massa?

Dimulai Dengan “Perang Soeara”
Pertanyaan-pertanyaan di atas menuntun saya menelusuri perkembangan pemikiran para pengarang dengan mengacu pada konteks pergerakan. Orang yang pertama kali merintis perlunya bacaan bagi rakyat Hindia yang tidak terdidik adalah Tirtoadhisoerjo. Ia memulainya dengan menerbitkan artikel “Boycott” di surat kabar Medan Priyayi. Artikel “Boycott” dijadikannya senjata bagi orang-orang lemah untuk melawan para pemilik perusahaan gula. Tindakan boikot pertamakali dilakukan oleh orang-orang Tionghoa terhadap perusahaan-perusahaan Eropa, yang menolak permintaan mereka untuk memperoleh barang. Tindakan para pengusaha Eropa ini dibalas oleh orang-orang Tionghoa dengan memboikot produk perusahaan-perusahaan Eropa, sehingga hampir sekitar 24 perusahaan Eropa di Surabaya gulung tikar.

Makna dan nilai artikel boikot ini sangat penting bagi produk penulisan bacaan yang menentang kediktaktoran kolonial51) di masa selanjutnya, sebab artikel ini merupakan pendorong bagi orang bumiputra lainnya, menyadarkan bahwa bacaan-bacaan politik sangat diperlukan untuk membuka mata dan daya kritis orang bumiputra, yang dikungkung oleh cerita-cerita kolonial yang senantiasa ingin mengawetkan tata kuasa kolonial.

Gaya penulisan bacaan politik yang dipelopori oleh Tirto kemudian diikuti oleh para pemimpin pergerakan, umpamanya Mas Marco Kartodikromo dan Tjipto Mangoenkoesoemo, yang sama-sama perintis jurnalis dan sama-sama kukuh memegang prinsip pergerakan, sekalipun keduanya berbeda dalam memandang pergerakan.52)

Marco Kartodikromo adalah orang yang paling produktif dalam menghasilkan “bacaan liar”, dan akan menjadi salah satu fokus penulisan ini. Karya-karya yang dikenal adalah Mata Gelap, yang terdiri dari tiga jilid yang diterbitkan di Bandung pada tahun 1914; Student Hidjo diterbitkan tahun 1918; Matahariah diterbitkan tahun 1919; Rasa Mardika diterbitkan tahun 1918, kemudian dicetak ulang tahun 1931 di Surakarta. Marco juga menerbitkan sekumpulan syair, Sair rempah-rempah terbit di Semarang pada tahun 1918 dan Sair Sama Rasa Sama Rata terbit di suratkabar Pantjaran Warta tahun 1917. Kemudian Babad Tanah Djawi yang dimuat di jurnal Hidoep tahun 1924-1925. Dari karangan-karangannya ini, belum lagi dari karya jurnalisnya, nampak ketegangan-ketegangan dalam cara berpikirnya. Untuk mengetahui ketegangan-ketegangannya kita perlu membaca teks-teksnya secara teliti, yakni dengan menelusuri alur cerita, karakter, dan bahasa yang digunakannya. Dalam Mata Gelap ia melukiskan hal-hal modern yang terjadi di tanah Jawa (terutama Semarang dan Bandung) dengan dengan gamblang bahwa orang sudah keranjingan membaca surat-kabar, senang hidup bebas, dan berliburan. Ini semua menunjukkan bahwa masyarakat kolonial telah mempunyai kebutuhan baru. Tetapi di pihak lain Marco melukiskan bahwa kebudayaan Eropa yang bersinggungan dengan kebudayaan bumiputra menimbulkan persoalan demoralisasi dan dekadensi. Marco menggambarkan bagaimana kaum bumiputera juga telah mulai menyukai perjudian, melacurkan diri, main perempuan, minum dan sebagainya. Karya ini menjadi ajang pertempuran dan ketegangan ide Marco. Setelah terbit, Mata Gelap mendapat tanggapan dari pembacanya dan juga menjadi bahan perdebatan. Apa yang menjadi perdebatan dan bagaimana pengaruh perdebatan itu bagi para pembaca bumiputra juga akan menjadi fokus penelitian. Dalam karya lainnya, Student Hidjo, yang menceritakan perjalanan Hidjo, seorang pelajar HBS yang melanjutkan sekolah ke Negeri Belanda. Waktu di Jawa ia sudah bertunangan, tetapi setelah tinggal di Belanda ia tertarik pada gadis Belanda. Tema dalam Student Hidjo adalah tema umum pada masanya, yang ternyata masih bisa juga menjadi bahan untuk sepuluh-duapuluh tahun kemudian: orang muda (student) Indonesia, yang pergi belajar ke Belanda, sudah punya tunangan, tapi di tanah dingin sana kemudian jatuh cinta pada gadis kulit putih.53)

Sebaliknya Sair Sama Rasa dan Sama Rata, merupakan kumpulan syair yang mengkritik negara kolonial dan sekaligus menggambarkan kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat kolonial. Dari ketiga karya fiksinya ini nampak ia masih dilingkupi oleh pemikiran Multatuli, artinya semangat dan bangunan pikirannya senantiasa meledak-ledak dalam melihat ketimpangan dan ketidak-adilan kolonial. Selain itu, ia selalu memberi sub-judul “kedjadian jang benar-benar terdjadi di tanah Djawa”. Ungkapan ini juga harus dilihat sebagai hasil bagaimana ia memandang struktur masyarakat kolonial. Makna ungkapan ini sangat penting, karena perkataan “kedjadian jang benar-benar terdjadi di tanah Djawa” adalah ungkapan pengalaman praktek politik penulis atau lebih luas lagi pengalamannya ketika mengamati perubahan sosial yang terjadi pada awal abad ke-20. Ini sangat berbeda dengan karya terakhirnya Babad Tanah Djawi, di mana ia melakukan penelitian terhadap karya-karya sarjana Belanda yang menelaah babad. Dalam karyanya yang terakhir ini nampak puncak ketegangan dalam pemikirannya, yaitu saat ia melakukan putus hubungan dengan cara pikir Multatulian, dan menuju ke pemikiran yang lebih radikal. Yang menjadi pertanyaan untuk penelitian ini apakah dalam Babad Tanah Djawi ia mempunyai obsesi untuk membongkar dan menjungkir balikkan cerita-cerita babad yang ditulis oleh sarjana-sarjana Belanda untuk memperkuat legitimasi kekuasaan kolonial? Dalam bagian pengantar jelas disebutkan bahwa ia ingin “mengambil kembali” masa lalu orang Jawa yang selama ini ada di tangan orang Belanda. Caranya adalah dengan menulis ulang babad-babad.

Bagaimanapun, sebagai seorang penulis dan pemimpin pergerakan, Marco tidak lepas dari proses belajar untuk memahami kekuasaan kolonial. Dalam novel Mata Gelap, Marco menunjukkan kejadian-kejadian yang melukiskan betapa kompleksnya pengaruh pemikiran Barat dalam masyarakat tanah Jawa di bawah kapitalisme pada awal abad ke-20. Mata Gelap harus dibaca dengan teliti, sembari terus mengingat tahap-tahap pemikiran Marco pada saat itu. Pembacaan atas Mata Gelap kalau tidak dilihat sebagai produk dan dilepaskan dari politik zamannya, akan tampil sebagai sebuah bacaan “picisan”.54)

Untuk membaca dan memahami tulisan seseorang harus dilihat perasaan dan pikiran si penulis, nafsu-nafsunya, kecenderungannya, impiannya, ketololan dan kekurangannya, kecerdasannya, kecerdikannya, pengetahuannya dan banyak hal lain yang jalin-menjalin seperti benang-benang kaca yang jernih. Ingin saya tekankan bahwa setiap tulisan mengandung dunia kenyataan dan dunia impian. Itu tahap pertama. Tahap kedua, memperlakukan bacaan sebagai sebuah senjata, sehingga dapat menimbang dunia-dunia kecil antara impian dan kenyataan itu, ibarat membidikkan sebuah peluru ke arah tertentu. Seandainya bobot pelurunya diarahkan ke negara kolonial atau pengusaha, maka akan timbul reaksi politik.55)

Mata Gelap menceritakan skandal hubungan antara seorang nyai yang bernama Retna Permata yang sedang ditinggal oleh majikannya ke Eropa dengan Soebriga yang bekerja sebagai seorang klerk (jurutulis) di sebuah perusahaan Eropa. Setting cerita mengambil tempat di Semarang dan Surabaya, yang kala itu merupakan pusat kantor-kantor dagang dan industri beberapa negeri metropolis, dan juga di tempat peristirahatan di sekitar daerah Parahiangan. Untuk mempertajam pembacaan terhadap Mata Gelap, perlu dipertanyakan mengapa Marco memilih kota pusat perdagangan, industri dan tempat peristirahatan sebagai setting novelnya? Dan yang juga penting, kenapa Marco memberi nama Mata Gelap untuk novel tersebut? Jawaban yang pertama berkaitan dengan dicanangkannya open deur politik (politik pintu terbuka) pada tahun 1904, kekuatan-kekuatan modal metropolis, terutama Inggris, Prancis, Amerika Serikat yang berhasil mencairkan politik perdagangan eksklusif pemerintah Hindia Belanda. Kekuatan modal metropolis serta perusahaan Belanda sendiri lebih menyukai menancapkan kakinya di kota-kota pelabuhan seperti Surabaya dan Semarang. Alasannya jelas karena transportasi dan sarana modern lainnya lebih memadai. Selain itu kedua kota besar inilah yang pertamakali berbenturan dengan gagasan modern yang berasal dari Eropa, baik dalam surat kabar, novel, teater dan praktek kebudayaan lainnya. Sedangkan soal yang kedua berkaitan dengan hasil praktek kebudayaan Eropa tersebut yang menguasai tata-pergaulan kaum bumiputera. Pada satu pihak, Marco menjelaskan bahwa gagasan modern yang berasal dari Eropa dan dipraktekkan di Hindia Belanda mengajarkan hal yang modern, seperti kalangan pedagang dan pegawai rendahan perusahaan swasta mulai keranjingan membaca koran, buku, mengenal waktu dan jadwal dan melakukan plesiran dan beristirahat sebagai yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha Eropa.56)

Tetapi di pihak lain, ia melukiskan sisi negatif dari praktek kebudayaan tersebut di Hindia, yaitu kehidupan seks yang bebas, seperti Soebriga, sebagai seorang yang bermata gelap, yang bukan hanya melakukan hubungan intim dengan nyai Retna Permata, tapi juga dengan Retna Poernama, adiknya Retna Permata.

Kembali kepada tahap kedua dalam membaca tulisan seseorang, yakni harus menimbang ke arah mana peluru Mata Gelap-nya Marco ditujukan. Karangan ini ditujukan kepada perusahaan surat kabar Tjhoen Tjhioe yang terbit di Surabaya. Akibatnya suratkabar Tjhoen Tjhioe bereaksi dan terjadi perselisihan yang hebat antara jurnal Doenia Bergerak yang di pimpin Marco dengan suratkabar Tjhoen Tjhioe.

Apa yang sebenarnya yang menyebabkan surat kabar Tjhoen Tjhioe begitu berang terhadap Mata Gelap? Hal ini dapat dibaca dalam surat kabar Tjhoen Tjhioe sebagai berikut:

Ini hati kita trima satoe boekoe tjerita, jang pake nama Mata Gelap, terkarang oleh M. Marco, Redacteur Doenia Bergerak di Solo. Sabetoelnja itoe boekoe ada begitoe renda deradjatnja, hingga bermoela kita tida ada ingetan boeat bitjaraken isinja di ini soerat kabar. Tetapi sebab di sitoe penoelisnja soeda terlaloe njataken ia poenja pembrasa’an renda pada orang Tionghoa, kita merasa terpaksa djoega toelis ini recensie, dengan perminta’an, soepaja toean Marco, kalo dibelakang hari menoelis lagi satoe boekoe, djanganlah ia bikin orang Tionghoa djadi sakit hati seperti sekarang ia soeda bikin, antara mana di dalem kalimat: “Bah! minta stroop ijs,”. Ingetlah, bangsa Tionghoa ada satoe bangsa manoesia djoega, hingga tida pantes kaloe toean Marco pandang begiote renda pada marika…. Orang Tionghoa merasa dan mengakoe, di ini djadjahan ia orang ada seperti orang menoempang dan memang ingin hidoep roekoen dan demi dengan orang Boemipoetra. Tetapi orang Boemipoetera, seperti toean roema, djoega haroes oendjoek itoe kahormatan dan perendahan pada orang Tionghoa, seperti diantara orang-orang sopan, toean roema memang wadjib oendjoekkan pada tetamoenja

Isinja itoe boekoe ada begitoe tida berharga, hingga kita merasa sajang kaloe moesti boeang lebi banjak lagi dari kita poenja tempo, boeat menoelis lebi djaoeh tentang itoe. Kita hendak kirim poelang boekoe itoe pada penoelisnja, tetapi merasa sajang boeat itoe 2 1/2 cent jang kita bajar boeat porto. Djadi boeang sadja di dalem krandjang kotor. Memang di sitoe, menoeroet haroesnja, itoe boekoe mesti dapet tempat.57)

Penegasan dari pihak Tjhoen Tjhioe sebenarnya mengandung tiga hal dan keberatan mereka terhadap Mata Gelap-nya Mas Marco. Tulisan kemudian mendapat balasan yang cukup tegas pula dari Mas Marco:

Itoe perkataan tidak saja doeloe telah lazim boeat seseboetan atau memanggil bangsa Tjina, djoega sampe sekarang itoe perkataan misih kami pakai boeat memanggil bangsa Tjina yang tidak soeka kami panggil Babah atau Bah? O! tidak ada. Sebab kalau kami bertjampoer gaoel dengan orang Tjina, itoe seboetan selaloe kami goenakan, en toch tidak ada seorang yang menjangkal.

Apakakah koerang tjoekoep orang Djawa menghormati tetamoenja?! Apakah orang Djawa koerang Tjoekoep menoendjoekkan keroekoenannja kepada tetamoenja?! Apakah orang Djawa koerang rendah dan mengalah?!

Kalau kami menjeboet Babah of Bah atau menjebut orang Tjina dikata: menghina kepada itoe bangsa, sesoenggoehnja kami tida mengerti. Apakah sebabnja dikaart (Atlas) misih selaloe ditoelis: China (Tjina Mal of Jav)?

Kalau betoel-betoel toean tamoe tidak mengharap perselisihan dengan toean romah, kami harep ini perkara djangan dibikin pandjang. Ingatlah, ini waktoe, waktoe jang koerang baik diseloeroeh doenia…. Lain roepa kalau toean tamoe tjari-tjari perkara dengan toean romah, itoe lain perkara. Kalau toean tamoe tidak dapat hidoep roekoen dengan toean romah, seharoesnja kami toean romah mendjalankan bagaimana adilnja.58)

Perdebatan ini terus berkepanjangan hingga menjadi perselisihan soal kebangsaan atau nasionalisme, antara nasionalis Jawa berdasarkan versi Marco dengan nasionalisme bangsa Tionghoa. Kalau kita perhatikan konteksnya, perdebatan ini berkaitan dengan kebangkitan nasional bangsa Hindia dan kebangkitan nasionalis Tionghoa. Pada tahun 1911 banyak pelarian kaum muda nasionalis Tionghoa ke Hindia Belanda. Gelombang pelarian ini tiba di Hindia Belanda secara gelap dan mereka menyebar ke beberapa tempat, terutama Surabaya, Semarang dan Batavia. Mereka datang ke Hindia untuk mengabarkan kepada orang-orang Tionghoa lainnya bahwa sedang terjadi perubahan besar di Tiongkok. Namun aktivitas mereka mendapat rintangan yang cukup besar baik dari negara kolonial maupun golongan Tionghoa lainnya yang tidak menginginkan perubahan di Tiongkok.

Kebanyakan orang Tionghoa yang menolak perubahan di negerinya sendiri adalah golongan yang dikategorikan kaum tua atau kolot. Mereka membentuk kelompok teror Cina, yang dikenal dengan sebutan Thong. Dengan teror mereka mendominasi kehidupan orang-orang Tionghoa kawula Hindia Belanda. Pusat gerakan Thong ada di Surabaya.59)

Rupa-rupanya perdebatan ini tidak kunjung selesai, sebab baik dari pihak Doenia Bergerak maupun Tjhoen Tjhioe tidak dapat menerima masing-masing posisi. Marco dengan Mata Gelap-nya langsung mengarahkan serangan terhadap pengusaha-pengusaha Tionghoa yang berperan sebagai lintah darat yang terus-menerus mencekik petani bumiputra. Dan justru inilah yang merupakan hal pokok dari keberangan pihak Tjhoen Tjhioe.

Mata Gelap dijual dengan harga f.0,5 tiap jilidnya dan dicetak oleh Insulinde Drukkerij di Bandung. Pendistribusiannya melalui toko-toko buku milik beberapa perusahaan suratkabar, seperti Kaoem Moeda, Sinar Djawa, Warta Perniagaan, Taman Pewarta, Tjahja Sumatra dan Sarotomo. Mata Gelap terjual hampir mencapai 500 eksemplar.60)

Pembaca Mata Gelap kebanyakan kaum bumiputra yang tidak dapat mengenyam pendidikan Eropa. Memang, walaupun politik etis salah satu elemennya adalah “mengemban pendidikan”, namun dalam kenyataan pendidikan dilelang mahal oleh negara kolonial.61)

Mata Gelap idenya sangat dipengaruhi gagasan Tirto dalam karyanya, “Cerita Nyai Ratna”, yang merupakan karya Tirto yang diumumkan secara bersambung di Medan Prijaji pada tahun 1909. “Cerita Nyai Ratna” dilatar belakangi kehidupan kota-kota modern kolonial, seperti Bandung, Batavia dan Buitenzorg, di mana kota-kota tersebut menjadi tempat tinggal para pengusaha perkebunan gula. Nyai Ratna adalah salah satu gundik seorang pengusaha perkebunan yang pada saat itu ditinggal pergi oleh tuannya ke Eropa, sehingga ia jadi rebutan kaum muda di kota Bandung. Kalau ditilik lebih teliti cerita ini melukiskan keadaan orang untuk mendekati seorang Nyai harus mempunyai _power_, dalam pengertian ia harus mempunyai pengetahuan Eropa, seperti membaca koran, buku, dan sudah tentu harus punya uang.

Dari sini terlihat bahwa pertumbuhan dunia cetak-mencetak pada zaman pergerakan tidak terlepas dari pertumbuhan kota-kota besar, di mana para penghuni kota-kota besar membutuhkan bacaan-bacaan yang menyenangkan dan menghibur mereka. Seiring dengan itu bacaan-bacaan seperti Student Hidjo, Semarang Hitam atau Tjermin Boeah Kerojalan mengambarkan bagaimana orang-orang desa yang berpindah ke kota besar sangat terkesima dengan lampu-lampu gas, jalan-jalan beraspal, dan hasil-hasil program “pembangunan” kolonial lainnya. Sifat modern bukan hanya sesuatu yang menghantam dunia rakyat Hindia tapi juga sesuatu yang dengan cepat dikunyah dan dimuntahkan kembali dalam bentuk-bentuk yang sangat beragam.

Pada masa-masa awal pertumbuhannya produksi “bacaan liar” tidak mendapat rintangan yang berarti dari negara kolonial. Tapi ada perkecualian untuk tulisan Soeardi Soerjaningrat “Seandainya Saya Seorang Belanda,” yang ditulisnya dalam rangka menyambut perayaan bebasnya Nederland dari kekuasaan Prancis. Dalam menulis karangan tersebut Soeardi dibantu oleh kedua sahabatnya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan ini diumumkan dalam suratkabar Indissche Partij, De Expres, yang saat itu tirasnya mencapai 1.500.

Karangan Soeardi cs ini dimulai dengan mengisahkan tahun 1811 ketika Gubernur Jenderal Daendels menerima berita bahwa Nederland menjadi bagian dari Prancis. Ini berarti Raja Belanda pada saat itu Lodewijk Napoleon, saudara kandung Kaisar Napoleon, menerima baik pencaplokan itu. Pengibaran Triwarna Prancis di Hindia dilakukan setelah Daendels menerima persetujuan dari Raad van Indie (Dewan Hindia). Daendels yang benaknya penuh adegan-adegan perang, mengerahkan pribumi membangun infrastruktur dan bangunan-bangunan perang untuk menghadapi serbuan Inggris, musuh utama Prancis yang dengan nafsu kolonialnya sangat mengincar tanah Hindia yang kaya. Ia memprakarsai pembangunan jalan militer Anyer-Banyuwangi dan benteng besar di Ngawi. Serbuan armada Inggris ternyata tidak terjadi selama Daendels berkuasa di Hindia. Daendels kemudian dipanggil oleh Napoleon untuk ikut menggempur Rusia. Ia digantikan oleh Gubernur Jendral Janssens. Baru beberapa bulan Janssens berkuasa, Inggris sebagai musuh Prancis datang ke Hindia untuk merampasnya. Armada Inggris mendarat dan menyerbu Sumatra dan Jawa. Balatentara Hindia Belanda kocar-kacir, Janssens tertangkap dan ditawan. Sejak itu Hindia menjadi jajahan Inggris. Pada tahun 1813 Napoleon Bonaparte jatuh menghadapi keroyokan balatentara negara-negara Eropa. Nederland bebas kembali dari kekuasaan Prancis, dan untuk itu negeri jajahannya diserahkan kembali pada tahun 1813. Seratus tahun kemudian, tahun 1913, kebebasannya dirayakan secara besar-besaran, baik di Nederland dan Hindia. Pesta tahun itu harus dirayakan lebih besar ketimbang pesta hari ulang tahun Sri Ratu Wilhemina.

Melihat perayaan semacam ini, “tiga serangkai” IP mengajukan beberapa pertanyaan yang sangat sengit kepada kekuasaan kolonial di Hindia. Jatuhnya Napoleon Bonaparte berarti kemerdekaan kembali bagi Nederland dan kembalinya Hindia di dalam kekuasaannya, lalu mengapa kita mesti ikut merayakan? Lebih lanjut mereka mempertanyakan bukankah pada waktu Triwarna Belanda naik kembali ke angkasa untuk kejayaan Nederland, bendera kita justru diturunkan ke tanah? Dan mengapa kebebasan Nederland dan naiknya kembali Triwarna harus menyebabkan setiap keluarga membiayai pesta yang bukan pestanya dengan iuran sepicis?62)

Dan mengapa bila kepala-kepala keluarga ini tidak kuat bayar, mereka harus tetap bayar dengan tenaganya? Bukankah penghasilan bumiputra hanya sebenggol sehari, sehingga untuk meriahnya pesta itu mereka harus serahkan tenaga selama empat hari, sementara anak bininya kelaparan berpesta sendiri dalam perut dan rumahnya?

Bacaan ini ditujukan kepada dua pihak, yakni kekuasaan kolonial dan rakyat Hindia. Gugatan di atas dianggap menghina kekuasaan kolonial, meskipun disampaikan dengan bahasa Belanda yang indah, penuh perasaan, murni dan mengharukan Nederlanders als Kolonialen. Dan gugatan yang membikin panas telinga pejabat kolonial inilah yang menggiring Soeardi, Douwes Dekker dan Tjipto ke kandang singa kolonial, De Exorbitante Rechten.63)

Sebaliknya bagi kaum bumiputra gugatan Tiga Serangkai itu tidak dapat dipahami maknanya. Meskipun IP merupakan organisasi politik pertama di Hindia, tetapi karena anggotanya mayoritas orang-orang peranakan Eropa yang merupakan golongan yang tidak pernah terbukti punya gairah untuk membikin aksi besar. Selain itu gugatan mereka diungkapkan dengan menggunakan bahasa Belanda yang tinggi, sehingga muntahan-muntahan kata-kata tiga serangkai terhadap kekuasaan kolonial tidak dapat dimengerti oleh rakyat bumiputera. Ditambah pula mesin otak IP, De Expres hanya dibaca oleh golongan Indo dan tirasnya pun tidak lebih dari 1500.64)

“Bacaan Liar” Dalam Panggung Politik Pergerakan
Pada awalnya negara kolonial tidak begitu keras menghalangi produksi bacaan liar, dalam pengertian tidak dilakukan pelarangan tehadap produksi bacaan liar. Hal ini berkaitan dengan politik etis kolonial Belanda di Hindia yang mau “membimbing” rakyat jajahan memasuki dunia modern. Negara kolonial Belanda memang tidak melarang bacaannya, tetapi menyekap para pengarangnya di penjara melalui alat-alat kolonialnya, seperti pasal 161 dan 171 bis serta pasal 153 bis dan ter. Undang-undang kolonial ini menyatakan “barang siapa dengan sengaja menyiarkan kabar bohong dan menimbulkan kabar yang meresahkan di kalangan rakyat akan dikenakan hukuman penjara maksimum 5 tahun atau denda 300 rupiah”.65)

Tetapi dalam kenyataannya kebijaksanaan negara kolonial ini jarang dilakukan secara ekstrem. Marco, Semaoen, Darsono atau yang lainnya tidak pernah dihukum selama 5 tahun, tapi rata-rata hukumannya antara 1 sampai 2 tahun. Semangat politik etis maunya dijadikan simbol netralitas negara kolonial terhadap kaum pergerakan sepanjang mereka tidak menentang kekuasaan kolonial. Politik Etis juga mengemban kepentingan menjinakkan pergerakan–agar tidak cenderung mengarah pada radikalisme.

Namun demikian dalam struktur kelas masyarakat kolonial yang penuh ketimpangan. Tentu kelas yang tersubordinasi akan melakukan reaksi terhadap kekuasaan kolonial tersebut. Tapi negara kolonial dapat mengontrol atau menghambat praktek gagasan yang berasal dari luar, seperti vergadering (pertemuan), sosialisme, nasionalisme, imperialisme, demokrasi, kapitalisme, pemogokan dan seterusnya. Contoh yang paling baik adalah “Soerat Perlawanan Persdelict” yang dilancarkan oleh Marco. Di situ ia tetap memegang prinsipnya “Berani karena benar takoet karena salah”, sebagaimana ia rumuskan perlawanannya sebagai berikut:

… disitoe saja hanja memoedji kebraniaan, tetapi boekan bolehnya mmelakoekan pekerdjaan yang disertai dengan keberanian (durven) itoe. Semoea orang mempoenjai keberaniaan, itoelah saja katakan mempoenjai kemanoesiaan. Djadi dengan singkat, kemanoesiaan sama dengan keberaniaan.

Sepandjang faham saja, keberanian itoe tidak djahat dan djoega tidak baik. Karena itoe kebraniaan tergantung dari pekerdjaan jang didjalankan seperti: berani mati (ada keberanian boeat mati); Brani menoeloeng orang (ada kebraniaan boeat menoeloeng orang) begitoe seteroesnja. Djadi terang sekali kebraniaan itoe tergantoeng pekerdjaan jang dilakoekan.66)

Di sini Marco secara sadar memperoleh pengetahuan dari Multatuli bahwa keberanian untuk menyelamatkan semua manusia. Dan dengan keberanian itu diharapkan semua manusia bisa damai.

Namun demikian gugatan Marco selanjutnya terhadap kekuasaan kolonial di Hindia tidak berhenti di situ saja. Bahkan ia semakin sengit dan kritis ketika menghubungkan Babad Tanah Djawa dengan kekuasaan kolonial, sebagai legitimasi negara kolonial:

Kalau orang jang pernah tinggal didalam Residentie Rembang tentoe tahoe itoe wajang jang mentjeritakan babad tanah Djawa dan Belanda jang doeloe sama berperang, seperti: Oentoeng Soerapati; Troenodjojo; dan nama-nama Belanda: Moerdjangkoeng, jaitoe G. Generaal Jan Pieters Zoon Coen; Baron Sekender, jaitoe G. Generaal Mr. G.A. Ph. Baron van der Cappellen.67)

Kalau kita tilik secara teliti, di sini hadir Marco yang begitu membenci kolonialisme, terutama perkebunan gula. Hal ini terutama kelihatan ketika ia membicarakan Van der Cappellen, orang yang pernah menjadi Menteri Jajahan dan orang yang membuat kebijaksanaan Domeinverklaring untuk kepentingan modal pabrik gula.68)

Pengetahuan Marco tentang kekuasaan pabrik gula diperoleh dari bukunya H.E.B. Schmalhausen yang berjudul Over Java En De Javanen, terbit tahun 1916. Buku ini mengisahkan cara pabrik gula menyewa tanah orang-orang desa tanpa mengeluarkan banyak ongkos yang besar untuk menyewa tanah melalui polisi desa, lurah, dan carik desa. Dengan cara demikian pabrik gula tidak mengalami kesulitan berarti untuk keluar masuk rumah-rumah orang desa yang tanahnya hendak disewa pabrik. Sebahu tanah sawah disewa oleh pabrik selama 18 bulan (seumur tebu yang sudah dapat dipanen) dengan harga f.66,- (enam puluh rupiah), sedangkan kalau para petani menanam beras dan hasil panennya dijual akan mencapai f.300 (tiga ratus rupiah), sehingga orang desa rugi f.234 (dua ratus tiga puluh empat rupiah).69)

Untuk lebih mempertegas kedudukan bacaan politik yang diproduksi oleh para pemimpin pergerakan untuk menentang politik negara Hindia Belanda, maka perlu dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya, misalnya perang suara antara Raden Darsono dengan Abdoel Moeis tahun 1918. Perdebatan ini masih mempersoalkan dominasi kekuasaan pabrik gula di Jawa. Awal perdebatan ini dimulai karena adanya perluasan pabrik gula yang terus-menerus di Jawa, sehingga areal untuk menanam padi terus berkurang. Dengan berkurangnya areal penanaman padi, maka beras harus diimpor dari negeri lain, sehingga harga beras melonjak tinggi.

Tentang hal ini Abdoel Moies menulis di Neratja pada tahun 1918:

Hal menanami padi keboen-keboen goela dengan padi itoe soedah mendjadi boeah pikiran dalam beberapa golongan, malah pemerentah djoega lagi menimbang-nimbang, apakah tidak baik kalau disoeroeh tanami 20 atau 30 persen dari keboen-keboen teboe boeat tahoen ini sadja dengan padi.

Fikiran pemerentah ini soenggoeh moelia sekali. Di moesim ini haroeslah ada beras, beras, dan fabriek-fabriek goela itoe memang kelebihan goela jang tidak bisa didjoeal, djadi patoetlah sebagian dari pada tanah-tanah sawah, jang fabriek soedah sewa boeat tanaman goela, ditanami dengan padi.

Boleh Djadi Suikersyndicaat, makanja sekarang tinggal diam, tidak kedengaran protes lagi, soedah mendapat poela keterangan ini dan berasalah mereka itoe, bahwa sebenar-benarnja atoeran menanam padi itoe, beloem tentoe akan menjoesahkan benar-benar kepala fabriek, sebab, sebagai diseboetkan di atas, goela jang berdjoeta-djoeta ton noempoek di Hindia, beloem tentoe bisa lekas terdjoeal, djadi beloem tentoe fabriek-fabriek goela maoe atau bisa bertanam goela sebanjak biasa, sebab beloem tentoe apa modalnja ada tjoekoep.

Marilah kita pandang, berapa banjaknja oeang oepahan itoe jang akan djatoeh ketangan kaoem boeroeh, kalau sekiranja fabriek bertanam padi.

Rata-rata pendapatan 1 baoe sawah ialah 12 picol beras, tapi baiklah diambil rojaal, jaitoe 15 pikoel beras sebaoe.

Bagian jang mengerdjakan sawah (koeli-koeli), selamanja hanja setengah dari pendapatan, jang setengah lagi ialah bagian jang poenja sawah (di dalam hal ini toean pabriek).

Djadi njatalah bahwa bagian penjawah (koeli-koeli), hanja 7 setengah pikoel beras dalam 1 baoe, jang mana, kalau didjoeal dengan harga f. 10 sepikoel, akan memberi oeang f. 75 kepada koeli-koeli.

Dari pada perbandingan jang sederhana ini sahadja soedah njata bahwa lebih baik fabriek bertanam teboe (kalau tjoema boaet setahoen sadja) dari pada bertanam padi, sebab goela memberi oepahan f. 250 dari pada tjoema f. 75.70)

Pernyataan Abdoel Moeis ini mendapat tanggapan yang serius dari R. Darsono yang menyatakan:

Setelah membatja kalimat di atas ini, tentoelah toean-toean pembatja mempoenjai fikiran, bahwa didalam kalimat itoe ada permoehoenan dan pengemisan, boekan perminta’an. Teranglah djika toean Abdoel sama sekali tidak mempoenjai hati kekerasan, selamanja berlakoe mendjilat.

….. Boeat ini tahoen moesti di kembalikan pada si tani boat ditanami padi.

Djadi di tahoen-tahoen akan jang datang ta’ perloe dikoerangkan adanja teboe, boeat ini tahoen sadja boleh djaga. Boekan begitoekah maksoed kalimat terseboet? Akan tetapi toean Abdoel poeter sadja, boekan boeat ini tahoen, katanja, akan tetapi boeat selama-lamanja dia moefakat djika keboen teboe dikoerangi. Ja, Kareltje, ga je gang maar, itoelah namanja menipoe pembatjanja.

….. Tanaman teboe satoe bahoe kasih penghasilan sama kromo f. 250, lain-lainnja taneman tjoema f. 720 (ini menoeroet itoengannja Doel ngemis). Boekan f. 720 tetapi f. 120.

Satoe tandalah djika toean Abdoel sama sekali tidak tahoe apa jang dipikir dan ditoelis. Dia mengatjo sadja dan mengamoek; menoelis karangan lebar pandjang jang keloear dari kepalanja lain orang, boaet membikin bingoengnja pembatja.

Selamat djalan di lapang pergerakan toeankoe Abdoel!71)

Bantahan Darsono terhadap Abdoel Moeis, ditujukan untuk memberikan pengetahuan yang benar tentang kesengsaraan bumiputra yang diakibatkan oleh kekuasaan modal. Sebenarnya kesengsaraan rakyat jajahan bukan akibat perang, tetapi berdasarkan istilahnya, kesengsaraan diakibatkan oleh setan oeang. Pengertian setan oeang di sini diarahkan pada para pemilik pabrik gula atau para pemilik modal. Lebih lanjut Darsono mengatakan, “…di Hindia selama toemboeh-toemboehan bisa hidoep, SETAN OEANG, jang dengan rapi dilindoengi oleh pemerintah, soedah membikin sengsaranja ra’jat.”72)

“Setan Oeang” adalah kosakata politik pada zaman pergerakan. Istilah ini tidak hanya mengacu pada pabrik gula, tetapi meliputi segala bidang di mana modal dapat berkuasa, seperti pendidikan, perkebunan, ataupun pajak. Pengertian “Setan oeang” ini diperkenalkan oleh kaum sosialis revolusioner Belanda, yang kemudian mendirikan ISDV pada tahun 1913 di Surabaya. Tulisan-tulisan mereka tentang modal yang senantiasa ditentangkan dengan kaum buruh diterjemahkan oleh Semaoen,73) sebagai salah seorang bumiputra yang menjadi anggota ISDV.

Dalam hal pendidikan di Hindia Belanda, orang-orang pergerakan seperti Darsono melihat institusi ini sebagai barang yang dilelang mahal. Mahalnya pendidikan tak dapat dilepaskan dari Politik Etis dan pinjaman dana pendidikan sejumlah f.40.000.000,- florin dari Parlemen Belanda pada tahun l905.74)

Jika ditempatkan pada tempatnya (kolonialisme dan gerak laju modal) dapat dipahami mengapa pendidikan dijadikan barang dagangan. Sebagaimana ditegaskan saudara Darsono dalam tulisannya yang berjudul Giftige Waarheidspijlen:

Djika saja berani membilangkan, bahwa hampir semoea sekolahan jang diadakan di Hindia sini tjoema boeat membesarkan keontoengan setan oeang Asing, itoelah sebenarnja djoega, itoelah boekan omong kosong.

Sekolah machinist boeat pabrik-pabrik atau spoor dan tram, kepoenjaan setan oeang asing. Sekolah Opzichter begitoe djoega; sekolah dagang idem; opleidingsschool boeat ambternaar idem; H.B.S. idem; cultuurschool di Soekaboemi idem; sekolah dokter setali tiga oeang, dan begitoe sebagainja.75)

Pengetahuan Darsono mengenai hal ini ia peroleh sesudah membaca karya Clive Day, The Policy and Administration of the Dutch in Java, yang terbit tahun 1902. Dalam karya tersebut ditegaskan bahwa banyak para pemuda Jawa yang tidak mampu masuk Kweekschool untuk pendidikan guru atau untuk masuk HIS, sebab ongkos sekolahnya selama empat bulan sebesar f.50,- dengan masa belajar 6 tahun.

Perdebatan antara Darsono dan Abdoel Moeis tidak selesai sampai di situ, tetapi meluas hingga menjadi pertentangan terbuka dalam bentuk tulisan. Darsono tahu bahwa tulisan yang dikarang Abdoel Moeis tidak ke luar dari isi kepalanya sendiri, tetapi ada orang lain yang turut campur dalam tulisannya.76)

Hampir seluruhnya tulisan politik Darsono pada tahun 1918 memakai judul Giftige Waarheisdpijlen (Panah Pengadilan Beratjoen). Judul tulisan ini ia gunakan untuk menentang keputusan-keputusan kekuasaan kolonial di Hindia yang senantiasa menjaga kepentingan modal. Tulisan-tulisan politik semacam ini lahir dari dan karena zamannya, di mana puncak Perang Dunia I telah melahirkan situasi politik yang baru di Negeri Belanda. Perubahan situasi ini kemudian ikut mempengaruhi kebijaksanaan-kebijaksanaan kolonial di Hindia Belanda.

Akhir tahun 1918 dan awal tahun 1919 merupakan awal zaman pemogokan–terutama terjadi di kota Semarang, yang merupakan kota besar pada zaman kolonial. Naiknya harga kebutuhan pokok merupakan pendorong aksi pemogokan di beberapa pabrik, seperti PFB, VSTP, buruh cetak dan PPPB. Kekurangan beras juga terjadi akibat perluasan pabrik-pabrik gula yang merajah areal penanaman padi. Untuk itu beras harus diimpor dari luar negeri.

Untuk mempertahankan Hindia Belanda, pemerintah melibatkan rakyat bumiputra dengan membentuk sebuah komite pertahanan Hindia yang disebut dengan Indie Weerbaar. Keputusan ini ditolak oleh kalangan pergerakan, seperti Semaoen yang menulis sebuah brosur Anti-Indie Weerbaar, atau Marco yang menulis sajak Anti-Indie Weerbaar. Pada tahun 1918, pemerintah kolonial membentuk Volksraad (Dewan Rakyat). Pembentukan Volksraad ini menimbulkan pertentangan di kalangan pergerakan. Volksraad merupakan sebuah wadah untuk merangkul orang-orang pergerakan dan agar bumiputra dapat lebih akrab dengan proyek serta gagasan penguasa kolonial. Namun hal yang paling penting dari pendirian Volskraad adalah proses dominasi dan subordinasi atas berbagai organisasi sosial-politik dan keinginan untuk mengontrol perkembangan masyarakat kolonial baik secara langsung maupun tidak.

Pemogokan-pemogokan pada tahun 1918-1919 yang dilancarkan oleh beberapa organisasi serikat buruh berhasil dengan baik, dalam pengertian tuntutan-tuntutan kenaikan upah dapat dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan Belanda. Negara kolonial memandang pemogokan ini sebagai “perjuangan ekonomi”, karena itu tidak ada usaha untuk menekannya. Lagipula jika rakyat buta terhadap hak-hak politiknya, mereka tidak dapat berbuat banyak untuk mengejar keterbelakangan ekonominya. Ini berarti rakyat jajahan selalu kekurangan pengetahuan untuk meningkatkan diri mereka sendiri dari keterbelakangan–mereka tidak akan pernah mengembangkan dirinya sendiri baik secara cepat atau bertahap–dan akan menjadi mangsa di dalam perselisihan diri mereka sendiri. Oleh karena itu keinginan perjuangan ekonomi, jika berhasil baik, merangsang perkembangan politik. Kira-kira begitulah pikiran pemerintah kolonial. Posisinya didasari sikap “grooten onbekende” (kebajikan yang netral), membatasi peranannya untuk mengurus tata tertib dan akan menengahi hanya jika diminta oleh serikat-serikat buruh untuk menyelesaikan konflik-konflik perburuhan.77)

Kebijakan kolonial dalam mengatasi pemogokan-pemogokan tersebut mendapat sambutan baik dari beberapa pemimpin pergerakan, seperti R.M. Soerjoepranoto, Abdoel Moeis, Agoes Salim, Dwijosewojo dan Tjokroaminoto. Namun di pihak lain, juga ada orang-orang pergerakan yang menentang kebijakan kolonial tersebut seperti Semaoen, Darsono dan Marco. Kebijakan ini dipandang dapat menyesatkan kaum buruh agar hanya berhenti pada “perjuangan ekonomi” semata dan tidak menghindarkan kaum buruh dari perjuangan politik.

Dengan latar belakang situasi yang penuh kontradiksi ini muncul tulisan politik Darsono yang berjudul Giftige Waarheispijlen (Pengadilan Panah Beratjoen). Tulisan ini diarahkan langsung kepada negara kolonial. Darsono memulai GW-nya dengan mempersoalkan pendidikan kolonial yang dilaksanakan di Hindia Belanda, yang semata-mata hanya untuk kepentingan pemilik modal:

Djika saja berani membilangkan, bahwa hampir semoea sekolahan jang diadakan di Hindia sini tjoema boeat membesarkan keoentoengan setan oeang asing, itoelah sebenarnja djoega, itoelah boekan omong kosong.

Sekolahan machinist boeat pabrik-pabrik atau spoor dan tram, kepoenjaan setan oeang asing. Sekolah opzichter begitoe djoega; sekolah dagang idem; opleidings school boeat ambtenaar idem; cultuurschool di Soekaboemi idem; sekolah dokter setali tiga oeang, dan begitoe sebagainja.78)

Apabila dibandingkan dengan India dan Filipina, pergerakan di Hindia Belanda dimulai sangat terlambat. Ada beberapa faktor yang menentukan hal tersebut. Pertama, pergeseran sistem merkantilisme ke kapitalisme baru berlangsung setelah sistem tanam paksa dihapuskan tahun 1870. Sementara itu kepulauan-kepulauan di daerah luar Jawa baru dapat dikuasai secara efektif setelah tahun 1900. Akibatnya, pengaruh pengetahuan Barat belum dapat berkembang. Dan pendidikan gaya Barat diperkenalkan oleh Belanda juga sangat lambat. Di India pendidikan gaya Barat telah diintroduksi oleh Inggris pada akhir abad ke-17, sedang di Filipina malah telah dimulai oleh Spanyol pada abad ke-15. Sementara di India dan Filipina pada awal abad ke-20 jumlah pelajar sekolah menengah dan universitas telah mencapai ribuan orang, di Hindia hanya berkisar ratusan orang dan itu hanya untuk ELS dan HIS atau HBS. Hanya beberapa anak Hindia yang dapat melanjutkan sekolahnya lebih maju ke tingkat universitas dan itu hanya untuk beberapa tahun. Pada tahun 1906 hanya 8 pelajar Hindia yang studi di Leiden dan pada tahun 1908 hanya 5 orang yang belajar di Belanda.79)

Maka tidak heran jika di Filipina pada paruh abad ke-19 telah muncul organisasi modern yang bernama Katipunan (Kataastaasang Kagalang-galang na Katipunan ng mga Anak ng Bayan) yang dipimpin oleh Dr. Jose Rizal. Sedangkan di Hindia pemberontakan petani terus menerus kalah, karena menunggu datangnya sang ratu adil.

Selain itu pelajar-pelajar Hindia yang dapat meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda dipilih dari kalangan keluarga kerajaan, seperti R.M. Soerjosoeparto (kemudian Mangkunegara VII), R.M. Woerjaningrat, Pangeran Ngabehi (kemudian Pakubuwana XI), dan Pangeran Hadiwidjaja. Semuanya adalah orang yang memainkan peranan penting di dalam tubuh Boedi Oetomo pada tahun 1910-1920. Mereka di Belanda hanya mempelajari kebudayaan Jawa untuk kepentingan kekuasaan kolonial di Hindia Belanda.80) Sebagaimana kata Darsono, bahwa berdirinya sekolah-sekolah di Hindia Belanda juga hanya untuk kepentingan “setan oeang.”

Selanjutnya dalam tulisan yang sama Darsono juga mengecam tindakan kekuasaan kolonial Belanda dalam membatasi pendidikan di luar sekolah yang resmi, seperti menghadiri rapat-rapat umum yang diadakan oleh perhimpunan-perhimpunan:

Pada tanggal 9 Mei jang laloe di gedong Oost Java bioscoop Semarang diadakan openbare vergadering oleh perhimpoenan I.S.D.V. Maka atas perminta’an idzin boeat itoe vergadering bermoela toean asistent resident dari kota Semarang mendjawab tidak boleh diadakan. Kedoea kalinja I.S.D.V. minta idzin lagi di djawab: boleh djoega diadakan, akan tetapi orang jang terpeladjar dari kepolo wargo S.I sadja jang boleh datang mengoendjoengi, sedang lain-lainnja orang masih bodo dilarang mendengarkan itoe vergadering I.S.D.V. tidak setoedjoe sama ini poetoesan.

Pendjawaban toean A.R. jang kedoea kali jaitoe: “boleh diadakan vergadering, akan tetapi orang jang terpeladjar dan kepolo worgo S.I. sadja jang boleh mengoendjoengi itoe vergadering, si bodo dilarang oentok mendengarkannja,” ini pendjawaban sedikit maoe saja terangkan.

Sedang toean A.R. sendiri tahoe, bahwa pemarentah tentang pengadjaran boeat ra’jat berdjalan begitoe pelan seperti keong (slak) dia maoe mengelarang si bodo boeat mendengarkan itoe vergadering jang dapat menambahkan kepandaian dan melebarkan pemandangannja. Djika toean A.R. betoel maoe menoeloeng ra’jat, maka saja haraplah jang ia maoe dengar lekas memintakan pada pemerentah sekolahan-sekolahan jang tjoekoep boeat ra’jat, djangan sampai boleh dikatakan di sini ada orang bodo.81)

Kenapa negara kolonial tidak mau mengadakan sekolah-sekolah tinggi bagi kemajuan bangsa Hindia? Karena kekuasaan kolonial di Hindia tidak mau mendatangkan pengajar-pengajar dari Eropa yang bayarannya sangat tinggi. Alasan kedua yang lebih penting karena sampai saat itu perkembangan modal tidak menuntut tenaga kerja bumiputra (yang jelas lebih murah) yang berpendidikan tinggi karena relatif masih bisa diatasi oleh orang Belanda sendiri, Untuk pendidikan mereka lebih suka memakai tenaga pengajar pribumi lulusan Kweekschool yang bayarannya murah. Di Hindia guru-guru sekolah lulusan Kweeksschool setelah belajar selama 6 tahun hanya dibayar f. 35, sedangkan guru-guru sekolah Tionghoa dibayar f. 100,-. Keadaan semacam ini yang menyebabkan para pemuda bumiputra menolak masuk Kweeksschool. Secara politik negara kolonial juga membatasi pengetahuan Eropa yang harus diajarkan di sekolah-sekolah, terutama setelah Dr. Snouck Hugronje menemukan formulasinya dengan menerapkan gagasan asosiasi. Inti konsep tersebut: bahwa pribumi akan ikut berpatisipasi dalam proses kemajuan Hindia di bawah bimbingan orang Eropa, karena dari segi peradaban orang Hindia jelas ketinggalan. Kemajuan ini sangat ditopang oleh pendidikan Eropa, dan hanya pribumi yang dapat menghayati ilmu pengetahuan Eropa dapat ikut berpartisipasi dalam “pembangunan” koloni. Hal lain yang juga sangat mendukung terseok-seoknya sistem pendidikan di Hindia Belanda adalah pemisahan pendidikan sekolah berdasarkan ras. Keturunan Tionghoa mengenyam pendidikan di sekolah Tionghoa, sedangkan Eropa totok dan keturunan Eropa serta keluarga priyayi atau keturunan bangsawan Jawa dapat mengenyam pendidikan ELS, HBS atau MULO, sedangkan untuk orang pribumi atau anak priyayi rendahan hanya dapat menikmati tweede klass (sekolah bumiputra klas dua tanpa bahasa Belanda).82)

Kemudian hal lain yang diungkapkan dalam tulisan Giftige Waarheidspijlen-nya Darsono, adalah tentang tulang-punggung ekonomi Hindia Belanda, yakni gula dan kekuasaannya. Membicarakan persoalan gula berarti membicarakan politik kekuasaan kolonial. Sebab seandainya terjadi krisis gula, pasti akan terjadi krisis politik dan akibatnya bursa saham di Amsterdam akan goyah. Jadi, apabila orang membicarakan gula, apalagi soal kekuasaannya, maka harus siap dengan senjatanya, yakni pengetahuannya tentang gula dan harus siap menanggung resikonya untuk masuk bui. Seorang administratur pabrik gula di Jawa adalah orang yang sangat berkuasa, lebih berkuasa dari bupati, asisten residen atau residen sekalipun. Sebagaimana ditegaskan Semaoen dalam novel politik-nya Hikajat Kadiroen yang terbit tahun 1920, “sa-orang administratur fabriek goela ada berpangkat besar, kaja, dan semoea orang kenal sama dia serta pertjaja kepadanja, tetapi sa-orang “Soeket”, (Soeket adalah polisi desa.)se-orang ketjil, tidak dikenali oleh orang banjak, apalagi oleh sa-orang ambtenaar sebagai Assitent-Wedono jang membawahkan sampai 10.000 orang ketjil.”

Dalam masa sulit pada tahun 1918, ketika muncul bahaya kelaparan, akibat bertambahnya areal penanaman tebu, beberapa pemimpin pergerakan berusaha dengan jalan kompromis berembuk dengan Gubernur Jenderal yang hasilnya sia-sia, sebagaimana Darsono mengungkapkan:

Bagaimana telah dikabarkan, maka saudara Tjokroaminoto bersama-sama S.S. Hassan Djajaningrat dan Sosrodanoekoesoemo pergi ke Bogor boeat beremboek sama toean Gouvernur Generaal van Limburg Stirum tentang kekoerangan makan, jang sekarang meneradjang penghidoepannja anak Boemipoetera di Tanah Djawa sini. Akan tetapi sia-sia belaka! Permintaan-permintaan tentang hal itoe, jang telah dilahirkan oleh perh. perh S.I., I.S.D.V., dan Insulinde akan dipikirkan dan ditimbang doeloe oleh pemerentah. Atas permintaannja saudara Tjokroaminoto, jang soepaja keboen teboe moelai ini tahoen dikoerangi separo (50%) toean van Limburg Stirum menjaoet, djika temponja beloem datang boeat mengoerangkan itoe. Temponja beloem datang of beloem temponja boeat mengoerangkan itoe keboen teboe.83)

Meskipun Gubernur Jendral Van Limburg Stirum adalah gubernur jendral yang paling liberal, dalam arti mau mengerti dan mentolerir pergerakan, tetapi untuk mengambil keputusan yang merugikan kongsi gula, Suikersyndikaat, adalah hal yang tidak mungkin. Sebab Suikersyndikaat dengan kekuatan modalnya dapat mengatur seorang gubernur jenderal. Tanpa mengikuti watak kekuasaan modal Suikersyndikaat, ia dapat dimutasi ke daerah koloni lainnya yang sulit dan jauh dari kemewahan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, lelang barang-barang miliknya akan dibayar murah sekali atau samasekali tidak dibeli oleh para pemilik pabrik gula.84)

Melihat tindakan yang diambil oleh Gubernur Jenderal van Limburg Stirum, dengan menolak pengurangan areal penanaman tebu hingga 50%, Darsono mengguratkan sikapnya:

Pada politiek jang didjalankan oleh pemerentah-pemerentah jang sekarang kebanjakan masih terpegang oleh kaoem kapitalist!Saja masih ingat saja beloem loepa telegram satoe minggoe jang telah laloe, bagaimana perminta’annja Centraal Sarekat Islam pada pemerentah tjilaka Belaka. Minta soepaja keboen teboe dikoerangkan 50% atau separo, G.G. tidak moefakat, BELOEM temponja, sedang van Limburg Stirum tahoe djika semangkin lekas regeering menanam hatsil jang dapat dimakan, ra’jat tambah senangnja dan selamatnja. Akan tetapi tidak! Atas perminta’annja S.I. tentang membikin koerang keboen teboe dikasih pembalasan, jang terang sekali tindasan dan kekoeasaan jang didjalankan setan oeang di atas pemerentah.”Indie Weerbaar” bermaksoed jang soepaja Hindia hidoepnja tidak tergantoeng dari lain negeri??? jang mendjadi lid dari itoe Indie Weerbaar hampir semoea kapitalisten, jang sekarang mengoerangkan sawah boeat tanami padi sampai sekarang apa bahaja kekoerangan makanan djika kita tergantoeng dari lain negeri tentang hal tjandoe dan alcohal, na itoe apa boleh boeat! Maar neen, kita tergantoeng dari lain negeri tentang hal padi dan lain-lain hal makanan dari sebab tabiat-tabiat setan oeang.85)

Darsono, kemudian selalu mengaitkan perkembangan industri gula denagan persoalan Indie Weerbaar. Ini merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari modal. Rakyat bumiputra diharuskan ikut membantu peperangan antar imperialisme. PD I adalah peperangan di antara negeri-negeri imperialisme yang berebut tanah-tanah jajahan. Untuk itu negeri Belanda yang merasa terancam tanah jajahannya jatuh ke tangan Jerman, bersekutu dengan Inggris dan Amerika. Karena Nederland tidak punya balatentara yang kuat, maka perlu diadakan mobilisasi rakyat bumiputra agar ikut berperang, dengan dalih mempertahankan “kemerdekaan” Hindia.Namun yang paling pokok kenapa Darsono menghubungkan gula dengan Indie Weerbaar adalah antusiasme beberapa anak bumiputra seperti Abdoel Moeis dan Dwijosoewojo yang mendukung Milisi Bumiputra dan menjadi alat dari kelas pemilik modal. Sebagaimana ia ungkapkan dalam tulisannya:

Boleh djoega toean-toean pembatja mengira, bahwa perkoempoelan ,,Indie Weerbaar” itoe soedah mati. O, beloem malah semakin lama semakin koeat, koeat sebab setan-setan oeang jang mempoenjai pabrik-pabrik, sekarang tahoe betoel, keperloeannja itoe ,,Indie Weerbaar”, jaitoe boeat mendjaga kantongnja.Bagaimana orang soedah tahoe, maka diramai-ramai itoe Indie Weerbaar semoea perkoempoelan di Hindia setoedjoe sekali sama maksoed Indie Weerbaar itoe, tjoema I.S.D.V., S.I. Semarang, Insulinde dan perkoempoelan bangsa Tiong Hwa jang tidak maoe moemet kepada didalam itoe hal: Toean Abdoel Moeis pergi di negeri Belanda boeat membikin propaganda Indie Weerbaar, mengartinja mendjoeal bangsanja, begitoe joega toean Dwijosewojo.86)

Artikel Giftige Waarheidspijlen maksudnya untuk mengadili kebijaksanaan-kebijaksanaan negara kolonial dalam bidang apapun, karena gula sudah pasti berkaitan dengan bidang lainnya, mulai dari pendidikan, pemerintahan sampai pada penjagaan keamanan di Hindia. Khusus untuk penjagaan keamanan di Hindia, kekuatan tentara Belanda tidaklah begitu kuat. Sejak tahun 1901 di Hindia hanya ada tiga hirarki yang menjaga keamanan di Hindia, yakni polisi lokal, polisi lapangan dan polisi militer. Maka ketika pecah PD I kerajaan Belanda begitu ngotot agar bumiputra juga berpartisipasi mempertahankan negeri induk, karena mahalnya ongkos pengeluaran untuk membiayai dana pertahanan di Hindia.87) Giftige Waarheisdpijlen-nya Darsono merupakan tindakan politik yang sadar, artinya dalam menyusun tulisannya ia mempergunakan beberapa literatur untuk membangun argumentasinya bahwa kolonialisme telah menciptakan sumber kemiskinan bagi kaum kromo. Pertama untuk memahami kolonialisme ia mempergunakan buku Het Process Sneevliet yang terbit tahun 1917 dan merupakan buku pegangan para pemimpin pergerakan. Buku ini termasuk dilarang untuk dibaca di sekolah-sekolah resmi pemerintah. Kemudian buku karangan Clive Day yang berjudul The Policy and Administration of the Dutch in Java yang terbit pada tahun 1904. Kedua buku ini penting bagi Darsono, karena dapat memberikan penerangan terhadap kaum kromo yang bergerak, bahwa kemiskinan yang mereka derita bukan hal yang begitu saja terjadi, tetapi mempunyai sejarah yang panjang. Dalam Het Process Sneevliet dijelaskan sumber kemiskinan tersebut dimulai dari zaman VOC yang menjalankan politik merkantilisme. Untuk menjalankan kebijaksanaan ini VOC melakukan pemecah-belahan di kalangan raja-raja. Dengan kemenangan VOC, maka bangsa Belanda mengkonsolidasi kekuatannya untuk memerintah Hindia dengan membuat bermacam-macam aturan monopoli dan pajak untuk mengeduk keuntungan bagi negeri metropolis. Selanjutnya setelah Hindia diambil alih oleh negeri Belanda, terjadi perubahan besar, yakni masuknya modal-modal besar seperti pabrik gula dan masuknya barang-barang produksi Eropa seperti tekstil halus buatan Belanda. Semua ini menghancurkan kegiatan ekonomi bumiputra, seperti membatik atau pandai besi. Kemudian pada tahun 1870 terjadi perubahan besar di Hindia, saat modal swasta boleh beroperasi di tanah Hindia. Latar belakang yang melandasi hal ini adalah kejenuhan industri di Eropa, akibat semakin berlimpahnya produk-produk, sehingga perlu dipasarkan di Hindia. Sebenarnya ini juga terkait dengan krisis politik yang terjadi di Eropa (Bagaimana perkembangan industri di Eropa, bila dikatakan relokasi industri, jenis industri apa saja, dan bagaimana hubungannya dengan industri departemen pertama) Dengan dialihkannya pabrik-pabrik di Hindia maka sejak itu dibangun jalan kereta api, pabrik gula, perusahan percetakan pabrik kertas, sehingga kekuatan modal ini mendesak ke belakang para petani dan mengharuskan mereka untuk menjadi buruh-buruh pabrik tersebut.88)

Darsono mengutip langsung Het Procees Snevliet untuk menjelaskan sumber kemiskinan di Hindia:

Sekarang ini di Hindia timboel doea golongan manoesia, jaitoe satoe golongan jang mempoenjai fabriek-fabriek, Maatschappij-Maatschappij Spoor dan tram, toko-toko dan sebagainja; dan jang kedoea golongan kaoem boeroeh matjam-matjam bangsa atau orang-orang jang bekerdja di peroesaha’an peroesaha’annja golongan jang kesatoe itoe. Ini golongan kaoem boeroeh ialah asalnja dari orang-orang tani, toekang membatik, toekang menenoen soedagar ketjil-ketjil macam-macam bangsa dan sebagainja, mereka mendjoeal tenaganja karena terdesak oleh oleh fabriek atau mesin dan oleh perdagangan besar.89)

Sementara itu dengan membaca karya Clive Day, ia dapat mempresentasikan bagaimana “perintah halus” yang diputuskan dari atas akan menjelma menjadi “perintah kasar”, setelah mencapai ke tangan para kepala-kepala desa (lurah). Selain itu Darsono juga dapat menjelaskan bagaimana para ambtenaar Binnenlandsch Bestuur (pegawai negeri) menjadi tulang punggung pabrik gula, berperan sebagai perantara (di pihak pabrik) untuk penyewaan tanah. Melalui instruksi para bupati, lurah-lurah di desa-desa menjalankan perintah halus dari para bupati dengan cara memberikan uang muka (voorschot) kepada para petani untuk menyewakan tanahnya kepada para pengusaha perkebunan. Untuk lebih jelasnya Darsono secara langsung mengutip Clive Day:

Toean Clive Day. Ph.D Professor di sekolah tinggi di Yale membilangkan bahwa politiek jang didjalankan oleh Nederland jaitoelah membikin soepaja anak Boemi diperentah oleh bangsanja sendiri, soepaja pekerdjaan lebih keras didjalankan oleh pembesar Boemipoetera, maka ambtenaar Boemipoetera dibajar jang tjoekoep dan diberi kekoeasaan jang sepatoetnja. Djika Nederland tidak djalan begini, tidak moedahlah bisa memerentah seloeroeh Hindia.90)

Tulisan-tulisan politik Darsono ini tidak hanya merupakan sebuah pengadilan terhadap politik kolonial Belanda yang dianggapnya sebagai racun bagi kaum kromo. Sikapnya lebih jauh merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebangkitan rakyat jajahan. Artinya ekses-ekses pergerakan seperti, penyelewengan, kompromi terhadap negara kolonial, pembuangan, keberanian mengambil sikap, berani dalam fikiran menentang kebijakan negara kolonial, perbedaan dengan orang-orang pergerakan, dapat diteropong dari tulisan-tulisan pemimpin pergerakan. Produk “bacaan liar” lebih diradikalkan terutama akibat pengaruh Revolusi Russia 1917, kemenangan ini diekspos oleh Sneevliet dengan karangannya yang berjudul Zegepraal (diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Semaoen). Tulisan ini bercerita tentang keberhasilan revolusi Bolshevik yang gaungnya akan membawa pengaruh besar di Hindia Belanda. Karangan Sneevliet lainnya, yang juga berpengaruh dalam menyinari kesadaran kolektif pergerakan adalah Kelaparan dan Pertoendjoekan Koeasa. Karangan ini kemudian diterjemahkan oleh Semaoen ke dalam bahasa Melayu. Akibatnya, Semaoen harus masuk penjara selama 2 bulan. Hal penting yang diajarkan oleh Sneevliet adalah sebuah sikap bahwa “soldadoe mesti brani mati, tetapi misti brani mati djoega boeat keperloeannja sendiri dan keperloeannja kaoem dan bangsanja, orang ketjil.”91) Adapun maksud karangan ini adalah: pertama, untuk mengkritik perkara kelaparan, akibat kebijakan kolonial yang lebih mendahulukan kepentingan pemilik modal dan menomer duakan soal makanan bagi rakyat jajahan; kedua, mencela pengerahan balatentara untuk menanggulangi bahaya kelaparan. Untuk itu ia mengajak balatentara supaya bersatu hati dengan rakyat dan bekerjasama demi keselamatan umum; ketiga, Sneevliet meramalkan bahwa bahaya kelaparan sulit untuk dipecahkan oleh negara kolonial, yang pada kenyataannya telah menimbulkan pencurian, perampokan ataupun tindakan kriminal lainnya. Dari pemaparan di atas Sneevliet secara langsung mulai mempengaruhi bagaimana bacaan dapat menjadi instrumen politik untuk kesadaran kolektif masyarakat kolonial

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: