fordiletante

Panorama Sawah dalam Perspektif Sejarah Nusantara

In indonesian history, social theory on April 24, 2010 at 1:48 pm

Oleh: Andreas Maryoto

Siswa-siswa sekolah dasar masih saja diajari oleh gurunya untuk menggambar sawah dilengkapi gunung sebagai latar belakang setiap kali ada pelajaran menggambar. Guru hendak memperlihatkan pesona pedesaan dengan gambaran sawah dan gunung itu. Bertahun-tahun pesona panorama sawah juga memukau wisatawan untuk sekadar menonton hamparan rumpun padi.

Perkembangan dunia seni lukis sudah jauh dan cepat. Aliran-aliran yang ada makin rumit dipahami oleh kaum awam, tetapi di kios-kios seni hingga galeri kita masih bisa menemukan lukisan panorama sawah itu. Salah satunya kios lukisan di Bandara Achmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, yang menjual sekitar sepuluh panorama sawah.

Dalam Jambore Seni Rupa Nasional XI yang berlangsung di Pasar Seni Ancol, Agustus-September 2006 lalu juga ada pelukis yang memamerkan panorama sawah. Lukisan seperti ini ternyata masih banyak digemari oleh warga kota.

Kenangan akan suasana pedesaan sangat mungkin menjadi dorongan untuk mengoleksi lukisan itu. Namun agak sulit untuk menjelaskan, mengapa guru sekarang masih saja memberi contoh gambar sawah saat pelajaran menggambar? Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, mengawali pelajaran melukis selalu dengan panorama sawah.

Panorama sawah dengan berbagai variasinya sudah muncul sejak lama. Pada relief Candi Borobudur yang berasal dari abad IX Masehi terdapat gambar seorang petani sedang membajak sawah dengan tangan kiri memegang tangkai bajak yang ditarik sepasang kerbau.

Gambaran tentang sawah juga terdapat di dalam sejumlah kakawin semasa Mataram Hindu yang diperkirakan berpusat di Jawa bagian tengah-selatan hingga masa Majapahit di Jawa bagian timur. Meski demikian, gambaran khas pedesaan di Jawa ini jarang sekali muncul karena kakawin lebih merupakan produk sastra keraton. Otomatis gambaran kecemerlangan keraton lebih banyak muncul.

Di dalam buku Kalangwan, PJ Zoetmoelder merinci gambaran keadaan pedesaan seperti yang disebut di dalam sejumlah kakawin. Panorama sawah terlaporkan seperti ketika raja melakukan perjalanan ke luar keraton. Ia melewati jalan yang bertepi sawah. Raja melihat sejumlah orang sedang bekerja di sawah, anak- anak menggembalakan kerbau, dan terlihat lumbung-lumbung padi.

Pada zaman Majapahit, lukisan panorama sawah bisa dilihat di sejumlah relief candi-candi semasa Majapahit seperti yang dipamerkan di Museum Nasional (Juni-Juli). Relief tersebut memperlihatkan panorama sawah pada masa itu. Hamparan sawah dan dangau terlihat di salah satu prasasti. Ada juga tampak pohon kelapa di dekat sawah. Areal sawah dan beberapa pohon kelapa memang masih banyak ditemukan di Pulau Jawa. Keberadaan pohon kelapa dengan sawah menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Informasi ketika kerajaan membuka sawah dan memberikan hak kepada rakyat untuk mengelola juga bisa ditemukan di beberapa kitab, misalnya Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca.

Marcopolo
Informasi tentang panorama sawah kemudian muncul saat masa kedatangan orang-orang Eropa. Informasi umum mengenai Pulau Jawa dari para pengelana Eropa awal mulai dari Marcopolo dan Nicolo Conti hingga para peneliti Belanda, Thomas Stamford Raffles, dan lain-lain. Informasi ini telah memukau berbagai kalangan di Eropa.

Meski pada tahun 1786 telah ada buku panduan wisata bagi pegawai VOC yang mendarat di Batavia, tetapi panorama Pulau Jawa, termasuk di dalamnya panorama sawah itu, mulai dijual sebagai daya tarik wisata bagi kaum kebanyakan ketika situasi keamanan di Hindia Belanda makin membaik dan berbagai perbaikan dilakukan sekitar akhir abad ke-19. Beberapa kalangan di Eropa membuka industri pariwisata dengan menawarkan paket wisata ke Hindia Belanda. Panorama sawah juga menjadi jualan agen wisata di Eropa untuk datang ke Nusantara. Mereka menyebut tanah ini dengan mooie Indie. Salah satu ciri mooie Indie itu adalah panorama sawah. “Undangan” itu ternyata laku terjual. Eksotisme Pulau Jawa sangat laku dijual sehingga jalur kapal Eropa-Jawa meningkat pesat.

Segala puji diberikan kepada Jawa karena eksotismenya itu. Buku-buku lama diterbitkan kembali untuk menggali informasi tentang keelokan Jawa. Buku-buku baru diterbitkan dan dilengkapi dengan berbagai gambar yang membuat orangEropa penasaran untuk datang ke Jawa. Dua buku itu, yaitu Java, the Garden of the East karya ER Scidmore (1897) dan Java Peagant karya HW Ponder (1930), adalah contoh dari buku-buku yang mencantumkan gambar panorama sawah.

Kenangan alam pedesaan dengan ikon sawah tentu saja melekat di kalangan orang Belanda yang lahir di tanah ini. Setidaknya ini terlihat dalam karya Rogier Boon, desainer grafis, kelahiran Meester Cornelis, yang sekarang bernama Jatinegara, tahun 1937, yang sempat pulang ke Belanda dan melakukan perjalanan kembali ke Indonesia pada 1973.

Meski ia seorang desainer grafis, dalam perjalanan tahun 1973 itu ia sempat memotret sawah dan petani yang tengah berjalan membawa cangkul dengan latar belakang gunung. Di samping itu, eksotisme pedesaan juga terdapat dalam karya grafisnya berjudul De Indische Tuin atau Kebun Hindia. Karya Boon ini sempat dipamerkan di Rumah Seni Yaitu, Semarang, awal Juli.

Kenangan tentang panorama sawah terus saja melekat hingga masa-masa berikutnya. Pada tahun 1980-an, di Pulau Jawa kita masih banyak wisatawan asing yang melihat menurut mereka “pemandangan aneh” berupa hamparan tanaman dengan latar belakang gunung itu. Waktu itu biasanya rombongan wisata terpaksa harus menghentikan busnya di pinggir jalan dan turun karena para penumpangnya ini melihat panorama sawah.

Perubahan lingkungan terus terjadi hingga di banyak tempat panorama sawah juga berubah. Rombongan wisatawan yang mengagumi sawah itu sangat jarang dijumpai lagi di Pulau Jawa. Akan tetapi, kita masih bisa melihatnya di Pulau Bali. Areal persawahan dan kegiatan petani masih memukau wisatawan sehingga banyak kalangan menilai bila sawah hilang dari Pulau Bali, maka habislah nilai jual wisata Bali.

Merusak usaha tani
Tidak salah bila keelokan panorama sawah itu sendiri juga digunakan para diplomat saat berunding mengenai perlindungan petani di tengah perdagangan beras internasional. Adalah Jepang yang sejak lima tahun lalu mengawali penilaian budidaya padi tidak hanya dari aspek ekonomi saja, tetapi dari aspek- lainnya seperti aspek perlindungan alam, aspek kultural, dan aspek pariwisata.

Menurut para diplomat itu, liberalisasi perdagangan beras akan merusak usaha tani padi karena petani tidak mendapat insentif harga ketika menanam padi. Bila usaha tani padi rusak,dampak ikutannya adalah aspek pariwisata dalam usaha tani padi akan hancur. Tidak ada lagi orang yang mau menikmati panorama sawah karena lingkungannya sudah rusak. Untuk itu, usaha tani padi harus dilindungi.

Kekhawatiran mereka sangat beralasan. Involusi sosial ekonomi di dalam usaha tani padi sungguh mencemaskan dan memprihatinkan. Pada saat orang luar masih terkagum dengan keindahan sawah, maka pada saat itu pula petani dipastikan sedih ketika menatap areal sawahnya.

Dulu anak petani bisa mengenyam pendidikan tinggi. Beberapa tahun lalu di Universitas Gadjah Mada banyak ditemukan anak petani yang berprestasi hebat di perguruan tinggi itu. Usaha tani padi sekarang tidak mampu lagi membawa anak-anak petani menaiki tangga perguruan tinggi di samping biaya pendidikan memang makin mahal. Ini hanya satu contoh betapa usaha tani padi tidak lagi mampu menopang kebutuhan hidup keluarga petani.

Panorama sawah yang elok itu makin lama makin semu karena sawah di Jawa dengan segala kehidupan sosial ekonominya tengah menimbun banyak masalah. Seperti dikatakan peneliti Prof WF Wertheim, ketimpangan yang semakin besar di Jawa hanya tinggal menunggu “tutupnya meledak”.

Wisatawan bisa saja terkagum- kagum oleh panorama sawah, tetapi sebenarnya air mata petani saat itu mengalir. Petani dibiarkan sendiri dilindas oleh kebijakan impor beras, permainan distribusi pupuk, impor benih yang berisiko, dan juga fasilitas irigasi yang terus rusak nyaris tanpa perbaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: