fordiletante

Archive for the ‘media’ Category

Kapitalisme Bencana dan Bencana Kapitalisme

In media, social analysis on November 15, 2010 at 5:57 am

Oleh: Don K. Marut

Menjelang akhir tahun 2000 Perusahaan Sony kesulitan memproduksi Playstation-2 padahal pesanan dari seluruh dunia meningkat tajam. Produsen laptop dan cellular phone pun mengalami hal serupa, padahal model baru sudah disebarluaskan. Pada awal milenium baru berbagai perusahaan perangkat keras informatika dan telekomunikasi global telah mempersiapkan model-model produk baru, tetapi produksinya terhambat. Mengapa demikian?

Salah satu penyebabnya adalah supply bahan dasar pembuatan produk informatika dan telekomunikasi tersebut, yakni coltan (columbite-tantalite), mengalami penurunan drastis. Hal ini terjadi karena kekacauan dan konflik politik yang terjadi di Congo (dulunya bernama Zaire), sebagai negara penghasil 80% coltan dunia.  Karena itu Congo mempunyai arti yang strategis bagi perusahaan-perusahaan tambang dunia, termasuk militer AS, sama strategisnya dengan Teluk Persia (dimana Irak berada). Congo juga kaya akan emas, tembaga, diamond, alumunium, uranium, cobalt, cadmium dan produk hutan. Negara-negara tetangga Congo seperti Uganda, Rwanda dan Burundi yang miskin kekayaan alam juga tertarik masuk Congo dan telah berulang-ulang kali mencari celah untuk mengambil-alih kekayaan di negara tersebut. Read the rest of this entry »

Advertisements

Kilasan Sejarah Film Horror

In film, media on April 24, 2010 at 1:29 pm
Karya Awal di Era Film Bisu hingga Era Pra 1990-an
Oleh: Dionysius Bimo Desianto

Fear (ketakutan/rasa takut) adalah emosi manusia yang paling kuat dan ketakutan akan sesuatu yang asing atau tak dikenal boleh jadi merupakan satu rasa takut yang paling purba. Ini bersangkut-paut dengan hal yang dirasakan setiap orang; sejak bayi kita ditakut-takuti akan gelap dan sesuatu yang asing.

Selama enam hari “Carnival of Fear” – the week of classic horror-thriller-zombie-trash movies, anda menikmati dua belas film dalam kegelapan ruang KINOKI sesuai dengan istilah Carnival yang layaknya merupakan ritual festival dan kebiasaan yang muncul di Eropa sebagai moment budaya rakyat yang menyuguhkan hiburan erotis, vulgar, grostesque (aneh, fantastis, buruk, mengerikan, bizarre) dan pada jamannya begitu populer karena bertahan sebagai event oposisi perayaan official dan turnamen perayaan kekuatan kaum elit.

Hikayat Kebo

In media, psychology, social analysis on August 31, 2009 at 3:52 pm
Hikayat Kebo
Mengapa kekerasan massa terus meningkat pada masa pasca-Soeharto?
Oleh LINDA CHRISTANTY
JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal semen, melapisi  permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet.
Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer-nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut sorot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti. Tepat di muka pemukiman para pemulung.
Enam pria melompat dari dalam taksi, kemudian sibuk menarik tubuh seseorang dari jok belakang. Kedua tangan dan kakinya terikat kawat. Rintihan parau terdengar lemah dari tenggorokan pria itu.
Ia sekarat.
Orang-orang mendekat dengan rasa ingin tahu.
Lima puluh meter dari tempat kejadian, di samping pagar seng yang membatasi pemukiman tersebut dengan perkampungan, ada sebuah jalan kecil. Nama jalan tertera pada papan hijau tua yang terpancang di mulutnya: Jalan Tanjung Palapa.
Faried tinggal di tepi jalan itu. Ia mahasiswa sebuah sekolah tinggi  publisistik di Jakarta. Ia baru saja pulang ketika keponakannya memberitahu ada keramaian dekat pemukiman para pemulung. Faried bergegas ke sana.
Massa berkumpul sekitar 50 orang, terdiri dari warga setempat, pemulung, dan tukang ojek. Faried mencoba menerobos kerumunan, mendesak maju. Di tanah menggeletak tubuh seseorang.
“Ini siapa?” tanya Faried pada pria yang berdiri di dekatnya.
“Kebo.”
Teriakan terdengar dari tengah massa.
“Buntungin aja tangannya!”
“Ceburin ke kali!”
“Bakar!”
Tiba-tiba seorang pemulung mengguyur tubuh tak berdaya ini dengan minyak tanah.
Massa hanya menonton.
“Tolong jangan di sini. Kalau ingin menghakimi dia itu urusan kalian, tapi
jangan di sini,” seru Faried, panik.
Ia khawatir nama kampungnya tercemar akibat tindak kriminal, bukan pada nasib korban.
Seakan menyetujui peringatan tadi, empat pria mengangkat tubuh Kebo, lalu meletakkannya dalam gerobak, bersatu dengan sampah plastik dan ban mobil bekas.
Para pemulung itu mendorong gerobak ke tempat pembakaran sampah sampai berhenti di bawah sebatang pohon mangga. Bagai mengawali seremoni persembahan, salah seorang dari mereka menyalakan korek api.
***
KARIMUN Usman baru saja selesai sholat Subuh. Rambut mulai memutih di usianya yang menjelang enam puluh. Sang istri, Siti Royamah, tengah sibuk di dapur. Karimun biasa sarapan dengan beberapa iris roti tawar dan secangkir kopi, sebelum berangkat ke gedung parlemen di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Barat, tempat ia melaksanakan tugas sehari-hari. Ia berkantor di sana sejak 1999.
Saat berkunjung ke kebun bunga milik seorang sahabat di Cibodas pada 31 Januari 1999, Karimun bertemu Megawati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka berbincang-bincang dan ternyata menemukan kecocokan dalam cara pandang terhadap berbagai konflik di Indonesia. Politik memang dunia yang intim dengannya sejak lama. Karimun pernah menjadi ketua anak cabang Partai Nasional Indonesia di Cotgire, Loksukun, Aceh Utara, pada 1966 dan sempat ditahan di penjara Loksukun, karena dituduh komunis.
Buah pikirannya di Cibodas tak sia-sia. Dewan pimpinan cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Aceh mencalonkan Karimun duduk di parlemen. Karimun terpilih sebagai wakil partai berlambang banteng gemuk tadi. Orang Aceh menaruh banyak harapan padanya. Ia punya ruang untuk memperjuangkan kedamaian dan keadilan bagi rakyat di negeri yang masih bergolak itu.
Meski punya rumah dinas di Kalibata, Karimun Usman tetap tinggal di Kompleks Pengairan, milik Departemen Pekerjaan Umum. Ia pensiun dari departemen tersebut pada April 1999. Rumah pribadi Karimun cukup nyaman. Ada garasi mobil, kursi-kursi dengan bantalan beludru di terasnya, dan lantai yang terbuat dari marmer merah bata.
Sidang paripurna akan berlangsung pagi 21 Mei 2001. Tapi, Karimun Usman belum mengganti t-shirt putih dan pantalon warna kremnya dengan setelan resmi, ketika pintu rumahnya diketuk orang pada pukul 06.30.
Norman, salah seorang warga, sudah menunggu di teras. Raut wajahnya menyiratkan kabar buruk. Karimun mafhum. Ia terbiasa menghadapi kabar seburuk apa pun. Karimun menjadi ketua rukun warga (RW) di wilayah itu sejak 1976, sehingga sudah cukup teruji. Kadang-kadang, ia kedatangan tamu tengah malam buta. Kadang-kadang, dini hari.
“Ada mayat terbakar ditemukan di RW kita, Pak,” lapor Norman.
Tanpa berpikir panjang, Karimun berangkat bersama Norman. Jarak rumahnya ke tempat kejadian sekitar 300 meter.
Banyak orang berkerumun. Mayat itu hangus bersama gerobaknya di belakang Tower Anggrek Mall, Slipi, Jakarta Barat. Anggrek Mall atau lebih dikenal dengan sebutan Mal Taman Anggrek adalah sebuah pertokoan mewah di Jakarta. Berbagai barang dari merek ternama dijual di sana; dari celana dalam sampai gaun pesta, dari makanan sampai alat olah raga. Di sekitar pertokoan ini berdiri apartemen-apartemen menjulang dengan jendela kaca berkilau.
Karimun diwawancarai reporter dari Patroli, sebuah program tayang di stasiun televisi Indosiar. Polisi belum datang.
“Siskamling itu supaya nggak kenal waktu. Siskamling dibutuhkan bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sebagai anggota masyarakat. Jangan sampai terjadi seperti hal yang kita lihat pagi ini,” kata Karimun, menatap kamera.
Ia menyesal terlambat mencegah kebiadaban tersebut.
Karimun tercenung dalam ruang kerjanya yang terletak di koridor lantai lima Gedung Nusantara II, salah satu gedung perkantoran dalam kawasan parlemen. Sebuah jendela kaca menghadap jalan raya mengakhiri ujung koridor yang terasa dingin dan sunyi. Halaman gedung terlihat lengang. Barikade kawat berduri membentang di muka pagar besi. Pos penjagaan berisi seorang polisi. Teman-temannya mengaso di atas hamparan rumput hijau di sebelah kanan gedung yang
diteduhi pohon beringin. Tenda besar dan truk tronton milik brigade mobil berada di sekeliling mereka. Setelah ribuan mahasiswa dan rakyat menduduki gedung tersebut untuk menuntut penurunan Presiden Soeharto tiga tahun lalu, aparat keamanan jarang istirahat. Mereka harus menahan aksi-aksi protes yang terus mengalir ke parlemen.
“Menurut saya, apa pun kesalahan orang, tidak perlu kita bakar. Setelah kekesalan dilepaskan, serahkan orang itu kepada polisi, lalu diproses secara hukum,” ujar Karimun.
Tapi, Karimun sendiri pesimis terhadap kinerja aparat penegak hukum, “Koruptor kakap lolos, maling ayam ditahan tiga bulan.”
Ia menganggap kondisi perekonomian yang buruk memicu tindak kekerasan massa akhir-akhir ini. Masyarakat mengekspresikan kekecewaan dengan membabi-buta, meski yang menjadi sasaran justru sesama rakyat kecil lagi.
“Ternyata setelah hampir dua tahun, yang terjadi justru dalam eksekutif, mengganti menteri dalam sebulan bisa dua kali. Menteri-menteri ditugaskan untuk lobi-lobi. Yang menyangkut tugas dan pokoknya tidak dilakukan. Sehingga apa yang sudah dicanangkan dibangun di daerah ini atau daerah sana, tidak dilakukan. Emosi-emosi kedaerahan bisa timbul dari sini. Akibatnya, kalau ada
satu saja pemicu, orang tidak mau melihat pada keadaan sekarang, walaupun keadaan yang sekarang jauh lebih bagus daripada tiga puluh tahun Soeharto berkuasa.”
***
CEROBONG bangunan tersaput jelaga itu terus-menerus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bangunan ini bagian dari Mal Taman Anggrek. Tepat di seberang temboknya berdiri bilik-bilik pemulung. Gundukan sampah plastik dan kaleng bekas cat atau minyak oli berada di muka atau sisi bilik mereka. Bau busuk tercium, tapi tak seekor lalat pun terbang atau hinggap. Bunga-bunga liar berkelopak putih dengan sepuhan ungu mendekati putiknya menjalar di atas tanah. Keindahan menjadi sebuah sindiran di sini.
Kebo hampir setahun tinggal di lapak tersebut. Ia seperti para penghuni lain, memiliki sebuah bilik untuk berteduh. Bilik Kebo berdinding tripleks dengan atap seng dan tambalan tripleks pada bagian tertentu. Jarak lantai ke langit-langit 1,5 meter. Luas bilik 2×2,5 meter persegi. Karpet merah darah dari bahan sejenis wol melapisi lantai bilik yang terbuat dari tanah. Tempat tidur kayu tanpa kasur merapat ke salah satu dinding. Kebo menyimpan beberapa potong pakaian dalam tas olahraga warna biru. Semua ini kekayaan yang ia miliki.
Kamar Kebo lebih mirip gua. Tanpa jendela. Di siang hari terasa pengap, sedang di malam hari begitu lembab. Cahaya matahari dan pergantian udara melewati satu-satunya lubang pada dinding; sebuah pintu yang terbuka. Kebo menggunakan kamar tersebut untuk tidur dan seringkali dalam keadaan teler akibat pengaruh alkohol. Ia gemar minum arak atau anggur hitam. Seorang pelacur biasa menemaninya bersenang-senang. Namun, perempuan yang dibawanya silih-berganti. Kebanyakan mereka berusia setengah tua dan seringkali berhubungan atas dasar
suka sama suka.
Bila musim hujan tiba lantai bilik tergenang air dan berlumpur. Penghuni lapak mencoba menimbun lantai bilik mereka dengan puing dan kayu, meski air yang turun dari langit nyaris tak terbendung. Kebo melakukan hal yang sama, lalu menjemur karpet yang basah berlumpur.
Lapak-lapak pemulung ini berdiri di atas lahan seluas lima hektare. Sebelum gerakan reformasi pada 1998, tanah tersebut tercatat sebagai milik Yayasan Bhakti Putra Bangsa. Papan nama yayasan menancap di atas lahan yang gersang. Hutomo Mandala Putra, putra bungsu mantan Presiden Soeharto, orang nomor satu yayasan itu.
Ketika Presiden Soeharto berkuasa, keluarga dan kroninya menguasai sebagian besar aset ekonomi serta perdagangan di Indonesia. Praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi lumrah.
Menjelang detik-detik kejatuhan Soeharto pada 1998, perekonomian Indonesia mencapai kulminasi paling buruk. Sistem ekonomi dalam negeri yang lama bobrok ditambah krisis mata uang yang melanda negara-negara Asia membawa petaka. Nilai rupiah meluncur dari Rp 2.300 per dolar Amerika pada Juli 1997 ke angka Rp 17 ribu per dolar Amerika pada Januari 1998. Pertumbuhan ekonomi turun 15 persen secara keseluruhan, seiring krisis di sektor-sektor kunci.
Pada Juni 1998, sektor pertanian menurun 2,4 persen, manufaktur 19,3 persen, pertambangan 8,3 persen, dan perdagangan serta jasa 25,2 persen. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat hampir 50 persen dan kebanyakan terkonsentrasi di wilayah Jawa. Pendapatan per kapita menurun dari 1088 dolar per kapita pada 1997 ke 610 dolar per kapita pada 1998.
Pada situasi krisis ini pula, gubernur Jakarta Sutiyoso memberi kesempatan pada masyarakat kota untuk menggarap lahan-lahan tidur, baik milik pemerintah maupun perusahaan. Akibatnya, orang berbondong-bondong membuat sertifikat atas lahan yang bukan milik sendiri. Bahkan, di antara mereka ada yang menyewakan lahan tersebut pada orang lain.
Seorang demi seorang datang, mengguntingi kawat pembatas, dan mengikat tali rafia pada tiang-tiang kayu untuk bermukim. Kebo termasuk dalam gelombang pendatang. Ia sudah lama menjalani hidup semacam itu, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Baginya itu hanya satu siklus yang biasa, seperti matahari terbit atau terbenam.
Selain mengumpulkan sampah plastik atau kaleng dan menjualnya kepada bos lapak, Kebo menimbun lubang-lubang di sepanjang Jalan Tanjung Palapa. Ia memiliki sebuah gerobak kayu untuk mengangkut bahan baku perbaikan jalan itu.
Kedengarannya mulia.
“Tapi suka minta uang sama orang-orang, kalau nggak dikasih nabok,” kata Ismawan, salah seorang pemulung yang tinggal berseberangan dengan Kebo.
“Abis nguruk, dia minta bayar. Terus, suka beler,” ujar Sri Utami, istri Ismawan.
Kebo memang bukan jenis yang bisa menimbulkan rasa nyaman. Tubuh Kebo penuh tato. Tato ular kobra di lengan kiri, betis kiri, dan betis kanannya. Pada lengan kanannya ada tato kalajengking. Punggung Kebo berhias tato wajah perempuan berambut panjang.
Namun, cara Kebo berpakaian cukup perlente. Ia gemar mengenakan setelan jaket dan celana jins. Sepatu kulit warna coklat melengkapi penampilannya. Tinggi pria ini sekitar 157 sentimeter, berkulit hitam, dan agak gemuk.
Usia Kebo 40 tahun. Ini usia berdasarkan surat nikahnya dengan Muah binti Sukardi. Di situ nama Kebo tertulis: Ratno bin Karja.
***
DESA Sisalam berada di Kecamatan Wanasari, bagian selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dari alun-alun kabupaten, angkutan umum berwarna kuning jurusan Jagalumpeni siap mengantar penumpang ke Sisalam dengan ongkos Rp 1.000. Mobil melewati jalan yang tak rata dan berbatu-batu. Perempuan-perempuan desa membawa barang belanjaan dari kota mengisi bangku-bangkunya. Dandanan mereka sederhana. Ada juga yang bertelanjang kaki.
Sisalam tertera dalam daftar desa tertinggal. Belum ada pusat kesehatan masyarakat di sini. Hanya sebuah sekolah dasar milik pemerintah yang melayani kebutuhan pendidikan anak. Listrik baru dua tahun masuk ke desa ini. Kebanyakan penduduk Sisalam bekerja sebagai buruh tani. Tak ada papan nama desa. Jembatan kembar berada di muka jalan masuk yang terbuat dari tanah dan batu kali berwarna hitam. Jejak hujan tertinggal pada ceruk-ceruk jalanan yang tergenang air.
Rumah Muah binti Sukardi masih 500 meter ke dalam. Arsitekturnya amat sederhana. Dua buah jendela dan sebuah pintu di bagian muka. Langit-langit memperlihatkan komposisi kayu yang silang-menyilang, sedang sinar matahari menerobos ke dalam dari celah-celah genteng yang berlumut. Dinding-dinding rumah dikapur putih.
Ia bersimpuh di lantai semen yang dingin pagi itu. Sorot matanya sayu. Wajahnya bundar tanpa riasan. Muah tinggal bersama putri angkatnya, Teti, yang berusia 13 tahun. Kebo dan Muah merawat Teti sejak anak tersebut masih bayi, karena perkawinan mereka tak membuahkan keturunan.
“Rumah ini peninggalan embah saya,” tutur Muah, dalam logat Banyumas yang kentara. Konsonan diucapkan dengan tengah lidah pada langit-langit mulut.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita. Pernikahannya dengan Kebo adalah pernikahan kedua. Usia perkawinan pertama Muah hanya bertahan setahun, meski ia dan suaminya saling cinta. Orangtua suami pertamanya, Damat, tidak menyukai Muah yang miskin. Mereka mencarikan istri lagi untuk Damat.
Pertemuan Muah dan Kebo juga kebetulan. Saat itu Muah ikut orangtuanya yang jadi pemulung di Pisangan, Jakarta. Muah berjualan pecel di samping bilik mereka. Kebo baru saja keluar dari penjara, setelah mendekam di sana selama enam bulan. Ia juga tinggal di lapak itu. Kayem, ibu Muah, menegur Kebo yang kebetulan lewat.
“Bo, Kebo kapan lu pulang?” tanya Kayem.
Muah memandangi ibunya heran, “Nama orang kok Kebo, sih Mak?”
“Ya, memang gitu. Dipanggilnya Kebo, Kebo gitu É.”
Suatu hari Kebo membeli pecel dagangan Muah dan hatinya berdesir melihat perempuan ini.
“Tuh cewek boleh juga,” kisah Kebo pada sesama pemulung.
Semula Muah tak tertarik, tapi Kebo pantang menyerah. Saat kaki Muah luka tergores kaleng, Kebo membelikannya sandal jepit.
“Kamu mau nggak kawin sama saya?” tanya Kebo.
Muah ragu-ragu.
“Saya pengen jadi orang Jawa, jadi orang tani,” rayu Kebo.
“Kalau situ mau sama saya, yang penting situ insaf. Berhenti mabok, asal lu baik, gua nggak  apa-apa kawin sama lu,” Muah, mengajukan syarat.
Ketika Muah hendak pulang kampung, Kebo memaksa ikut. Mereka sempat kumpul kebo selama enam bulan dan berkali-kali digrebek pemuda setempat. Pada 18 November 1986, Kebo dan Muah menikah di Sisalam. Tak seorang pun dari pihak keluarga Kebo hadir.
Asal-usul Kebo tak jelas.
Saat berpacaran dengan Kebo, Muah sempat bertanya, “Lu kampungnya di mana?
Orangtua lu di mana?”
“Di Dongkal. Cuma waktu kelas satu SD, saya ngikut truk berangkat ke Jakarta, terus bawa sarung sama ayam. Ayamnya nyolong punya orangtua saya. Ayam lagi angkrem (mengerami telur) diambil, buat ongkos. Sejak itu saya nggak pernah pulang,” jawab Kebo pada Muah.
Hidup di Jakarta tidak mudah bagi Kebo. Ia tersesat sendirian di sebuah dunia asing, berada di tengah perubahan cuaca dan rasa lapar. Selain itu, berbagai bentuk kekerasan juga mengintai anak-anak jalanan seperti Kebo, termasuk pembunuhan dan penganiayaan seksual.
Pada 1996, media massa sempat menggemparkan masyarakat lantaran memuat berita perkosaan serta pembunuhan anak jalanan. Seorang pelaku yang dibekuk aparat kepolisian bernama Robot Gedek. Sebelum membunuh anak-anak itu, ia menyodomi mereka.
Kehidupan di jalanan mempertemukan Kebo kecil dengan pemungut puntung rokok dari tong-tong sampah kota, pria yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Kenangan Kebo terhadap ayah angkatnya samar-samar.
“Kebo tinggalnya nggak tetap. Semenjak dia di belakang Mal Taman Anggrek saya nggak ikut. Saya disuruh ngurusin anak,” kenang Muah.
Kebo menitipkan uang belanja buat Muah melalui saudara atau teman sekampung yang datang ke Jakarta. Kadang-kadang, Kebo datang sendiri mengantarnya.
“Untuk dua bulan kadang Rp 150 ribu, kadang Rp 100 ribu,” kata Muah. Ia maklum pekerjaan suaminya tak bisa menghasilkan banyak uang, tapi, “Ini juga diminta lagi, kalau dia mau beli minuman. Rp 10 ribu, Rp 20 ribu É lama-lama abis,” lanjutnya. Pendapatan Kebo bervariasi setiap hari.
“Pernah sehari dapat Rp 7.000, tapi nggak tentu.”
Kebo tidak berubah. Dia tetap suka menenggak minuman keras. Bahkan, ia jadi amat pencemburu. Rasa cemburu membuat Kebo tega menyakiti istri sendiri.
“Saya ngasih nasi sama temannya dikiranya saya senang. Kejadiannya di Kampung Sawah, Jakarta, di samping Mal Taman Anggrek. Saya dipanggil, terus É mulut saya sudah bercucuran darah,” kata Muah, menerawang.
Kebo boleh cemburu pada istrinya, tapi Muah harus menerima kehadiran perempuan lain dalam rumah tangga mereka. Pada 1988, Muah menengok suaminya di lapak Kemanggisan, Jakarta Barat. Seorang perempuan hamil bernama Yuli berada dalam bilik Kebo. Di malam hari Muah terpaksa membiarkan suami dan kekasihnya itu bercinta.
Akhirnya, Kebo mengutarakan niatnya untuk menikah lagi.
“Situ boleh kawin, asal ceraikan saya,” ujar Muah, panas.
“Gua nggak mau ninggalin lu,” jawab Kebo.
“Percuma, nggak mau ninggalin, tapi nyakitin terus.”
“Nggak apa-apa kalau kamu maunya begitu. Tapi kamu kan punya orangtua, punya  saudara.” Kebo mengancam.
Muah gemetar.
Dalam keadaan marah, Kebo mengambil golok.
Ia memotong telunjuk tangan kanannya sendiri.
Para tetangga di Sisalam sering mendengar Kebo memukul istrinya. Muah menjerit-jerit, lalu berlari keluar rumah. Muah terpaksa bersembunyi di rumah tetangga untuk menghindari kekejaman Kebo. Tapi, nasib Muah tak selalu baik. Ia pernah pingsan akibat tindakan Kebo dan terkapar berlumuran darah. Kebo malah meninggalkannya, mencari arak, dan mabuk.
Namun, Kebo sangat lembut terhadap anak-anak. Ia senang mengajak anak-anak kampung pergi memancing. Kebo juga tak suka mendengar Muah membentak Teti. Saat mereka bertengkar malam-malam, Kebo tak ingin putrinya tahu. Suatu malam di antara ribuan malam yang menakutkan bagi Muah, Teti terbangun mendengar suara gaduh. Bocah ini melihat kursi sudah jungkir-balik di lantai.
“Ada apa, sih, Pak?” tanya Teti.
“Nggak ada apa-apa, kok, Nok.”
Pada 1992, Kebo membuat ulah pertama kali dengan penduduk kampung Sisalam. Dia mengancam seorang pria bernama Soka. Kebo menempelkan golok di leher Soka sambil menggiringnya mondar-mandir di jalan desa. Penduduk menyaksikan, tapi tak berani melerai.
“Soka ini pendatang, sama seperti Kebo. Mungkin, mereka ini ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa,” ujar Rodijuro, lurah Sisalam.
“Tapi, hanya sekali itu. Dia nggak pernah bikin keributan lagi dengan warga sini,” kata Wage, pertahanan sipil (hansip) Sisalam.
Akibat perbuatannya itu Kebo dikurung lima bulan di tahanan Kepolisian Resort
Brebes.
Angin siang berembus lewat pintu dan jendela yang terbuka. Kenangan pahit menyesakkan dada Muah. Sebentar-bentar terdengar embikan kambing dari kejauhan. Muah meluruskan kedua kakinya yang terasa penat. Perempuan mungil ini menghela napas panjang. Baru saja ia kembali dari memotong padi di sawah. Muah bekerja sebagai buruh tani. Pemilik sawah memberikan seperenam hasil panen untuk upah para buruh. Pekerjaan tersebut bersifat musiman. Ketika beras dari hasil panen sudah habis dan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari menipis, Muah berharap pada kiriman uang dari suaminya. Namun, Kebo sudah dua bulan tak berkabar
berita sejak Mei 2001 itu.
***
SENJA turun pada Jumat 18 Mei 2001. Dua pelacur, Lina dan Unyil, menemani Kebo yang teler dalam biliknya. Biasanya, Kebo ditemani salah seorang dari mereka.  Kali ini agak istimewa.
Pintu bilik Kebo tertutup rapat. Kebo dan dua perempuan ini tenggelam dalam  kesenangan mereka. Tiba-tiba Kebo menyuruh Unyil dan Lina melakukan adegan lesbian, seperti dalam film biru.
“Dua perempuan disuruh telanjang. Terus disuruh begituan,” tutur Kusni, salah seorang pemulung.
Kedua perempuan tersebut menolak. Kebo marah dan mengancam akan membakar bilik. Dengan langkah sempoyongan ia berjalan ke ambang pintu. Seorang pemulung lewat. Kebo berteriak memintanya membeli minyak tanah.
Pria ini tak bersedia. Kebo lantas menempelkan golok ke leher pria tersebut, yang buru-buru memenuhi permintaan Kebo.
Kebo menyiram tempat tidur kayunya dengan dua liter minyak tanah, lalu menyulut korek api. Lina dan Unyil nekad membuka pintu. Mereka lari tunggang-langgang. Pukul 18.15 api menyala. Bilik Kebo terbakar. Api merembet ke bilik-bilik tetangga.
Kebo kaget. Nalurinya menyuruh kabur. Teriakan panik terdengar santer.
“Kebakaran É kebakaran!”
“Kebakaran!”
“Kebakaran É.”
Sewaktu orang-orang menyelamatkan diri serta barang-barang mereka dari jilatan api, Kebo telah meninggalkan kawasan tersebut. Sebelas bilik hangus.
“Ada yang sedang tiduran, ada yang baru selesai mandi, dan melihat api sudah membakar, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, ada yang belum pulang. Waktu itu saya sedang nonton tivi. Tiba-tiba saja api sudah membesar dan semua orang panik. Semua hangus terbakar. Surat tivi, kartu tanda penduduk, surat nikah, peralatan dapur, pakaian É semua terbakar. Saya hanya bisa menyelamatkan tivi. Pakaian saya hanya ini saja yang nyisa, yang melekat di badan ini. Gubuk terbakar semua, abis. Sekarang kami nggak punya tempat tinggal, numpang-numpang sama
tetangga,” kata Wati, tetangga Kebo, dengan wajah memelas.
Penduduk kampung sekitar lapak ikut terkena getahnya.
“Aliran listrik mendadak padam. Telepon aja ikut mati.”
Dua hari kemudian, pemulung-pemulung yang membawa besi, golok, dan kayu menemukan Kebo teler di lapak kayu Kedoya Utara, Jakarta Barat. Jumlah mereka, 32 orang. Tentu bukan lawan yang seimbang. Kebo dianiaya beramai-ramai tanpa melakukan perlawanan. Setelah ia jatuh pingsan, para pengeroyok mencegat taksi untuk membawanya kembali ke belakang Mal Taman Anggrek.
***
ARNOLD Toynbee, sejarawan Inggris terkemuka, mengatakan bahwa menjadi pemimpin bagai berada di antara dua celah sempit. Bila berteguh pada pendirian akan jadi diktator, tapi terlalu mendengarkan rakyat membuatnya terkesan lemah.
Pemerintahan Abdurrahman Wahid mengalami hal itu. Di tengah warisan krisis yang parah dan ancaman disintegrasi di berbagai wilayah, Wahid serba salah. Tawaran bantuan dari International Monetary Fund datang, tapi bukan tanpa pamrih. Syaratnya, antara lain subsidi bahan bakar minyak dan listrik harus dicabut. Padahal, kesulitan ekonomi masih mendera rakyat. Kerusuhan di daerah membuat Wahid terpaksa meminta militer turun tangan dan pelanggaran hak-hak sipil tak bisa dihindari. Hukum kehilangan kekuatan.
Penghakiman massa terhadap pelaku kriminal maupun tersangka kejahatan menjadi fenomena. Rakyat bertindak sendiri untuk mempertahankan milik mereka yang tersisa.
“Tindakan massa itu tidak benar. Itu pembunuhan. Polisi mengeluarkan tembakan peringatan, kalau situasinya demikian,” ujar kepala dinas penerangan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Komisaris Besar Anton Bachlul Alam.
Polisi sering gagal meredakan massa yang marah. Korban tewas di depan mata mereka.
“Pada situasi di era reformasi, orang ingin bebas, demokrasi kebablasan, semua hal dihadapi dengan people power. Polisi akan bertindak tegas. Karena ada juga korban yang jadi korban. Ini yang lebih memprihatinkan. Istilahnya, terjadi maling teriak maling. Penjahat itu kan sudah tahu bahwa massa akan menghakimi mereka, sehingga mereka melakukan ini,” kata Anton.
Di Indonesia, lebih seribu orang jadi korban kekerasan massa tahun lalu. Harian Kompas memuat 46 peristiwa pengeroyokan yang disertai pembakaran sepanjang Januari 1999 sampai Mei 2000 di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Wilayah Jakarta Barat merupakan peringkat pertama dalam jumlah korban. Masyarakat kawasan ini dikategorikan “tega.” Delapan kasus pembakaran orang hidup-hidup berlangsung di sini. Data forensik dari Universitas Indonesia menunjukkan
korban kekerasan massa pada tahun 2001 di Jakarta mencapai 86 kasus dengan 6 kasus pembakaran korban.
Kebo hanya melanjutkan daftar panjang tadi.
Adrianus Meliala, kriminolog dari Universitas Indonesia, mengatakan kekerasan massa sekarang memasuki tahap yang sulit dihentikan. Ia curiga media massa terlibat.
“Media massa harus puasa memberitakan,” kata Meliala, serius.
Meliala tak pukul rata terhadap semua media. Internet tidak berpengaruh pada masyarakat kelas bawah, sedang televisi kurang berpotensi.
“Televisi juga terlambat mengambil gambar, mereka tak punya gambar yang bagus.
Misalnya, yang ditayangkan Patroli itu, gambarnya tidak berbicara dan tidak cukup melekat di memori. Media cetak lebih berpengaruh. Pos Kota, misalnya, headline-nya bukan pada perilaku massa yang brutal, tapi mengarah pada korban yang gosong, yang news yang makin gosong itu. Makin sadis berita itu, makin oke. Tidak serta-merta memang. Tapi, kemudian kelompok massa yang marah melihat kok model itu cocok dengan mereka.”
Gunawan Eko Prabowo, redaktur pelaksana suratkabar Pos Kota, terbahak-bahak. Ia
batal menyentuh semangkuk bakmi pangsit yang terhidang di meja kami, di salah satu restoran yang bersebelahan dengan kantornya. Sepasang mata pria ini mulai mengerjap-ngerjap. Ia sudah sebelas tahun bekerja di Pos Kota.
“Saya sering mendengarkan pendapat semacam itu. Saya ingin bukti. Berapa persen berita kami mempengaruhi orang untuk melakukan kejahatan? Coba adakan penelitian,” ujar Gunawan dengan mimik serius.
“Peniruan langsung atau spontan itu mengada-ada.”
Tapi, ia setuju berita bisa menjadi rujukan modus kejahatan terencana.
“Dulu ada kasus Nyonya Diah, mayat dipotong tujuh itu. Setelah kasus Nyonya Diah, berlanjut dengan kasus Kristin. Mayatnya dipotong-potong juga. Pengakuan pamannya yang menjadi pelaku, ‘Saya baca koran, Nyonya Diah dipotong. Polisi sangat sulit mengungkap kasus. Jadi saya tiru itu’,” tutur Gunawan.
Pos Kota suratkabar yang identik dengan berita kriminal, meski Gunawan membuktikan hanya 25 persen dari keseluruhan halamannya yang memuat berita semacam itu. Oplah Pos Kota fluktuatif. Paling tinggi 700 ribu eksemplar, paling rendah 300 ribu eksemplar.
“Berita seperti itu kami muat, karena paling dekat dengan keseharian masyarakat
pembaca Pos Kota, menengah ke bawah,” Gunawan berargumentasi.
Bagaimana dengan pemilihan judul berita dan ungkapan yang vulgar?
“Selagi saya bisa koreksi, saya koreksi. Dulu ada headline yang menceritakan razia terhadap wanita tuna susila. Dalam judulnya ada kalimat berbunyi, ‘celana dalamnya ketinggalan.’ Saya panggil redakturnya. Kok, bisa menurunkan judul seperti ini? Saya marahi,” kilahnya.
Di lain pihak, Gunawan khawatir dengan mengubah gaya penulisan Pos Kota membuat mereka kehilangan pasar. Brand name itu terlanjur melekat. Apalagi sekarang banyak koran yang mengikuti gaya Pos Kota, baik tema maupun penyajian berita. Tingkat persaingan antar media dalam ceruk yang sama makin tinggi. Pos Kota tak ingin berjudi.
Citra Pos Kota sebagai suratkabar berita kriminal membuat harian ini sering berfungsi sebagai pos polisi. Masyarakat datang untuk melaporkan anak yang hilang. Pengusaha mengadukan rekan bisnis yang kabur menggondol sejumlah uang milik bersama.
“Kelihatannya masyarakat lebih percaya pada media ketimbang pada polisi. Seringkali polisi terlambat. Fasilitas mereka nggak memadai. Saya pernah melihat sendiri bagaimana untuk mengejar penjahat saja harus cari motor dulu, beli bensin patungan,” kata Gunawan.
Pengalaman produser Patroli Indosiar, Indria Purnama Hadi, menyangkut pengaruh berita pada tindak kejahatan nyaris sama dengan Gunawan. Indria bahkan tak menyangkal pendapat Meliala.
“Sebelumnya saya pernah dengar ada yang berkata bahwa televisi atau media berpengaruh pada perilaku orang. Tapi, ini akhirnya saya alami sendiri. Suatu hari kami mewawancari pelaku pencurian kendaraan bermotor di Sleman, Yogyakarta. Usianya masih muda, sekitar 17 tahun. Dalam sehari ia bisa mencuri dua sampai tiga motor. Kami kaget juga sewaktu ia bilang, untuk mencuri itu dia melihat dari Patroli,” kata Indria.
Evaluasi pun dilakukan. Sejak itu ia lebih berhati-hati melakukan penyuntingan.
Patroli tak lagi menampilkan alat-alat yang mendukung pencurian.
Menurut Indria, program tayang tersebut lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi stasiun televisi lain. Banyak televisi menyajikan berita politik, yang membuat orang jenuh. Berita-berita Patroli tak melulu menonjolkan sisi kriminal, melainkan mengandung tujuan sosial dan hukum.
“Agar masyarakat makin hati-hati,” ujar Indria. “Sebagai peringatan kepada masyarakat yang lain. Misalnya, penghakiman massa itu memberi informasi sekaligus peringatan. Atau tayangan tentang ledakan mercon yang membawa korban di Duri Kepa. Orang yang punya mercon di Depok, misalnya, jadi waspada.”
Pada awal masa tayang, Patroli memperoleh informasi dari kepolisian. “Tapi, sekarang masyarakat sendiri yang menelepon kami. Seperti kasus mayat yang dibakar di belakang Mal Taman Anggrek itu,” ujar penanggung jawab program Patroli sejak tayang pertama pada April 1999 lalu.
Di luar segala kontroversi pengaruh media, Adrianus Meliala menyisakan satu asumsi lagi.
“Pada dasarnya kita ini sudah punya bibit dan menjadi budaya. Coba datang ke Cengkareng. Ada satu daerah di sana yang memasang pengumuman: di sini tempat orang dibakar pertama kali. Di sini ada semacam glory, pengagungan. Artinya, ketika terjadi di daerah lain, bukan lagi sekadar peniruan, tapi pengagungan,” tuturnya, prihatin.
***
EMPAT pembunuh Kebo masih buron. Sebelum menghilang, mereka mengumumkan kematian Kebo pada pemulung lain sambil tertawa bangga.
Polisi hanya berhasil membekuk delapan tersangka penganiaya Kebo, termasuk SuhariÑpaman Muah, dan Zumadi, adik Muah satu ibu.
Di Sisalam, Muah makin gelisah. Kebo belum juga pulang. Tak tahan menanggung penasaran, ia meminta Wage, hansip Sisalam, mengantarnya ke Jakarta.
Pada 22 Mei 2001, mereka sampai di Terminal Pulogadung. Wage membeli suratkabar
Pos Kota. Jantung pria ini berdetak keras saat menyimak sebuah kolom di kiri halaman muka. Muah yang buta huruf tenang-tenang saja.
“Suamimu lagi ada masalah,” kata Wage.
Saat Muah dan Wage menghadap Brigadir Satu Eko Kuswanto di kantor Kepolisian Resort Jakarta Barat, delapan tersangka berkumpul di ruang yang sama.
Suhari dengan wajah letih mengeluh pada Wage, “Saya itu kesal, dimintain duit terus sama dia (Kebo) saban hari, sing tanpa perhitungan.”
Eko bertanya pada Muah, “Ibu Muah, suami ibu meninggal dibunuh orang. Apakah ibu mau menuntut?”
Muah tidak ingin menuntut kematian Kebo secara hukum, “Orang dia itu jahat.”
Seorang polisi wanita yang ikut hadir terkesima, “Saya juga perempuan, Bu Muah. Masak orang berumah tangga itu nggak ada kasih sayangnya?”
Wage membantu Muah menulis surat pernyataan. Setelah itu Muah membubuhkan cap jempol di atasnya.
“Sekalipun dia itu dibunuh seseorang, tapi dia orang jahat. Saya masih ingat, dulu pemerintah mengadakan misterius itu, pemerintah juga membunuhi orang, kok, orang jahat,” kata Wage pada Eko.
Pada 1980-an, pemerintah Soeharto melakukan sebuah operasi yang terkenal dengan sebutan “Petrus” atau penembakan misterius. Ribuan penjahat ditembak, sedang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Pers dan forum internasional mengutuk tindakan yang dianggap melanggar prinsip kemanusiaan ini. Dalam biografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto membela diri, “Itu untuk terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya.”
Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, salah satu rumah sakit umum di Jakarta, ada bagian yang membiarkan waktu berhenti. Dunia orang-orang mati. Bau busuk mengelana di lantai ruang pendingin. Deretan lemari besi merapat ke dinding. Pada pintunya tertera angka-angka; 1,2,3, dan 4 dari cat biru. Seonggok arang tersimpan di balik pintu nomor 3. Dalam daftar registrasi petugas kamar mayat tercantum catatan: “21/5001/793/9.35/Tanpa Nama/Polsek Tanjung Duren/Luka bakar.” Tak ada pihak keluarga datang mengambil mayat itu.
Pada 25 Mei 2001, petugas kamar mayat membawa mayat tanpa nama tadi ke pemakaman massal Tegal Alur, Jakarta Barat. Penggali kubur menimbun tanah di atas lubang. Kebo kembali sendirian.
***
PERTENGAHAN Juni 2001. Mata Muah kembali menerawang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak wanita ini.
“Bagaimanapun dia suami saya, ya kadang kangen. Tapi, dia begitu.”
Nani, istri lurah Sisalam, menghibur, “Sudahlah, kini kowe sudah bebas. Nanti cari suami yang baik.”
Kecemasan Muah masih tertuju pada yang hidup.
“Kasihan adik saya. Anak-anaknya masih kecil.”
Surat perpanjangan penahanan Zumadi yang dikeluarkan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat menggeletak di lantai semen yang dingin.
Ratusan kilometer dari Sisalam, cerobong bangunan tersaput jelaga terus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bekas-bekas bilik yang terbakar menyuguhkan pemandangan mengenaskan.
Kerangka kursi panjang teronggok di muka bilik Kebo yang tinggal puing. Karpet merah dari bahan wol miliknya masih tersampir di tali jemuran. Seorang pria berkaus singlet mendorong gerobak di antara sampah kaleng dan plastik. Roda kehidupan berderit lagi, berputar, tiada berhenti. Manusia menjalaninya seperti kutukan, sebagaimana Atlas, dewa dalam mitologi Yunani, memikul bumi pada pundaknya.
Muah termangu memandangi serpihan-serpihan kertas yang berserak di lantai, surat nikahnya dengan Kebo. Kebo merobek surat tersebut saat mereka bertengkar
hebat untuk kesekian kali.
“Akan saya simpan terus kenang-kenangan,” ujar Muah, nyaris berbisik.  [end]

Mengapa kekerasan massa terus meningkat pada masa pasca-Soeharto?

Oleh: Linda Christanty

JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal semen, melapisi  permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet.

Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer-nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut sorot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti. Tepat di muka pemukiman para pemulung. Read the rest of this entry »

Sejarah Komunitas Punk Jakarta

In indonesian history, media, music, social analysis on July 27, 2009 at 3:37 pm
Sejarah Komunitas Punk Jakarta
Oleh Fathun Karib
Pengantar Redaksi: esai ini merupakan hasil olahan dan ringkasan dari sebuah skripsi tentang komunitas punk di Jakarta yang  diselesaikan oleh penulis di jurusan Sosiologi Universitas Indonesia pada tahun 2007. Catatan kaki dan berbagai referensi rujukan untuk keperluan pemuatan online ini tidak dimasukan. Esai panjang ini dipisahkan dan dimuat dalam empat seri.
Ilmuwan dan penulis Stacey Thompson di dalam bukunya Punk Productions; Unfinished Business memberi ilustrasi yang baik dalam merekonstruksi sejarah punk di Amerika dan Inggris. Ia membagi tujuh periode punk di Amerika dan Inggris berdasarkan scene-scene besar seperti the New York Scene, the English Scene, the California Hardcore Scene, the Washington D.C. (First Wave Straight Edge), the New York Hardcore Scene (Second Wave Straight Edge), the Riot GRRRL Scene, the Berkeley/Lookout! Pop-Punk scene. Karya Thompson ini sangat baik menguraikan dinamika ekonomi-politik pergerakan punk bersama segi estetika komunitas di Amerika dan Inggris.
Sementara Legs Mcneil dan Gillian Mcain dalam buku mereka Please Kill Me, The Uncensored Oral History of Punk (1997), melakukan kompilasi wawancara sejarah lisan (oral history) mengenai punk mulai dari era 1967 sampai dengan 1992. Mereka melakukan wawancara dengan lebih dari seratus pelaku di komunitas punk Amerika dan Inggris. Mulai dari Mariah Acquair mantan pekerja di bar CBGB, Malcolm Mclaren manajer band Sex Pistols, Joe Ramone dan seluruh personil band The Ramones sampai dengan Andy Warhol designer grafis aliran “pop”. Salah satu buku punk lain yang terpenting ditulis oleh Craig O’Hara dengan karyanya “Philosophy of Punk” (1997) yang memberikan pemahaman mendasar mengenai punk sebagai sebuah counterculture.
Dinamika perkembangan komunitas punk di Jakarta sebagai sebuah counterculture tidak terlepas dari hubungan yang terjalin dengan komunitas counterculture punk di Barat. Perkembangan gerakan counterculture terjalin melalui hubungan saling-silang pertukaran ide, pengaruh dan inspirasi secara transmitif dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Seperti ditulis Dan Joy (2004), hubungan antar kelompok counterculture dari masyarakat yang berbeda bisa terbentuk melalui kontak langsung, mediasi, dan resonansi.
Untuk memahami komunitas punk Jakarta, penjabaran dari waktu ke waktu diperlukan. Pembabakan diperlukan agar sejarah dengan dimensi waktunya yang bersifat diakronik dan berhadapan dengan batas dimensi ruang yang bersifat sinkronik bisa dipahami, sehingga memungkinkan penelurusan  lebih mendalam secara sosiologis.
Para pelaku komunitas punk dapat dilihat melalui individu (orang-perorang) dan kelompok (secara kolektif) seperti band atau geng (tongkrongan). Selanjutnya, meminjam Stacey Thompson, pelaku dalam komunitas punk secara historis dipengaruhi oleh empat unsur utama di dalam counterculture punk, yaitu a) musik, b)  fashion (busana), c) tongkrongan dan d) pergerakan (pemikiran). Keempat unsur ini hadir di dalam komunitas punk tidak pada saat bersamaan.
Akhir tahun 1980-an: Periode Pra-Punk Jakarta
Pada periode ini, deklarasi eksistensial akan adanya komunitas Punk Jakarta secara individual maupun kelompok belum dapat ditemukan. Tidak mengherankan karena, seperti ditulis Wendi Putranto (2004), genre musik yang sedang berkembang pada periode akhir 1980-an itu adalah genre musik thrash metal. Roxx, Adaptor, Mortus, Sucker Head, Painfull Death, Rotor adalah beberapa band tanah air yang penting yang ada pada era ini. Wendi Putranto juga mencatat bahwa eksistensi scene musik thrash metal ini tidak terlepas dari pentingnya keberadaan  Pid Pub sebagai tempat pertunjukan musik yang terletak di pertokoan Plaza Pondok Indah di Jakarta Selatan. Uniknya, Pid Pub sebagai lokus interaksi para pelaku musik secara tidak langsung juga menciptakan pra kondisi bagi lahirnya generasi punk pertama di Jakarta. Banyak diantara penggemar-penonton musik thrash metal di Pid Pub yang kemudian menjadi pionir-pionir berdirinya generasi punk pertama di Jakarta.
Beri, vokalis Anti Septic – band punk berpengaruh di kalangan komunitas punk Jakarta, menuturkan pada saya bahwa  di masa SMA ia kerap hadir pada acara-acara yang berlangsung di Pid Pub. Di sanalah Beri bertemu dengan Acid, juga seorang penggemar musik metal . Mereka berdua inilah yang nantinya membentuk salah satu band pionir generasi pertama punk di ibukota.
Fashion sebagai salah satu elemen penting di komunitas punk sudah dapat ditemukan pada periode pra- punk ini. Dandanan punk dengan menggunakan jaket ala The Ramone sudah terlihat. Kehadiran punk di era tahun 1980-an juga terlihat pada film ”Menggapai Matahari” dengan pemeran utama Rhoma Irama. Dalam film itu punk digambarkan sebagai kelompok yang berperilaku deviatif. Pada salah satu bagian film, yaitu ketika Rhoma Irama manggung, terdapat figuran sekumpulan anak punk yang menghancurkan tempat pertunjukkan sebagai perusuh.
Menjelang akhir periode 1980-an terdapat peristiwa-peristiwa penting yang menandai proses terbentuknya generasi punk pertama di Jakarta. Muncul individu-individu yang dapat dicatat sebagai pionir. Nama-nama seperti Feri Blok M, Dayan The Stupid, dan Udet dari Young Offender hadir sebagai aktor-aktor awal generasi punk pertama, tentu bersama banyak nama lain.
Beri, misalnya, bertemu dengan Feri Punk dengan  tongkrongannya di daerah Blok M. Di dalam kelompok tongkrongan inilah Beri untuk pertama kalinya mengetahui band punk Inggris Sex Pistols dan D.O.A, sebuah band crossover-punk. Taba, salah seorang pendiri Young Offender, mengaku pada saya bahwa dari Udet-lah  ia ’berkenalan’ dan memahami punk.
Pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan generasi pertama punk mungkin datang dari Dayan, dengan bandnya The Stupid. The Stupid sendiri acap kali disebut sebagai band pertama di Jakarta yang membawakan musik punk di sekitar akhir tahun 1989. Sosok Dayan dan The Stupid setidaknya cukup berpengaruh bagi aktor seperti Eko Idiots, Beri Anti Septic, Aca Answer, dan beberapa nama lainnya.
Eko Idiots mengutarakan kesannya mengenai Dayan dan The Stupid pada saya:
“…dulu ada band sebelum adanya Young Offender, namanya The Stupid. Itu terkenal banget vokalisnya namanya Dayan. Dia ada di setiap acara metal, dari tahun 89 acara metal udah booming kan!? Itu punk udah ada. Dulu tuh The Stupid itu kalo main, kalo dibilang gue nge-punk, itu gue ngeliat The Stupid. Gue ngeliat dia maen, dia udah nge-punk banget, gaya-gayanya, dia udah Sex Pistols banget. Malah mereka bikin baju waktu itu bukan Sex Pistols, ex pistol. Mereka udah pake kalung rantai…”
S
Sedangkan Beri memberikan kesaksian terhadap Dayan dan The Stupid begini:
“…iya The Stupid, dulu gua sempet nonton. Dia cuman maen sekali doang. Asal, bawain hardcore-punk aja…Tahun 91. eh taun 90, di SMA 6…hem, gak sih kalo gua bilang. Dia tuh gak terkesan punk gitu. Jadi itu band Stupid itu yah, walaupun dia gak pernah klaim (bahwa dia punk), bukan maksudnya Stupid itu gua bilang bukan band sih. Seasonan doang. seasonan sekali maen, bubar itu doang,  pernah maen bubar itu doang. Pernah maen di SMA 6. jadi, waktu Roxx band maen, sebelum Roxx band maen tuh diserobot, tau gak lu….iya, jadi Roxx band belum maen nih. Lagi nyetem-nyetem, tau-tau gitarnya diambil, bass-nya diambil, mereka nyerobot maen dua lagu-atau tiga lagu gitu. Tapi asal-asalan gitu, kayak model-model sekarang nih model-model crustylah…hahaha. Ya kayak begitu gitu, nah itu bikin gua kaget juga di situ… Oh iya itu juga sih, yang agak-agak mempengaruhi gua juga sih, mereka The Stupid. Jadi gua bikin band tuh, agak-agak bukan gua pengen kayak Stupid ye. Tapi gua ngeliat personalnya mereka. Kayaknya asik aja…”
The Stupid, band season yang terbentuk dari scene Pid Pub, beranggotakan Glen, Dayan dan Ari sang drummer band Roxx. The Stupid merupakan salah satu kelompok di scene Pid Pub yang berorientasi musik crossover hardcore/punk, selain thrash metal. Terlepas dari kontroversi tahun eksistensi dan seberapa lama mereka ada, tidak dapat dipungkiri Dayan dan The Stupid merupakan aktor yang berpengaruh bagi lahirnya generasi punk Jakarta pertama. Begitulah. Seperti amuba yang memecah sel tubuh untuk berkembangbiak, maka dari tubuh scene thrash metal mulai mengeluarkan embrio-embrio bagi terbentuknya sebuah sel yang nantinya menjadi komunitas punk.
Lahirnya Generasi Punk Pertama (1989/90 – 1995)
Membicarakan generasi punk pertama di Jakarta tidak terlepas dari beberapa aktor yang tergabung di dalam kelompok seperti Anti Septic, Young Offender (Y.O), South Sex (S.S) dan South Primitive (S.P). Pada periode 89/90-1995 ini Anti Septic dan Young Offender merupakan kelompok yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika komunitas punk ini.
Anti Septic dapat dikatakan sebagai band punk pertama Jakarta. Setidaknya ini dapat dilihat dari keterlibatan Beri di Pid Pub, dan keterlibatan Anti Septic di acara musik scene thrash metal di tahun 1990 yang diadakan oleh MOTOR (Morbid Trasher Organization).
Sedangkan Young Offender merupakan kelompok tongkrongan (kolektif) pertama di Jakarta. Selain itu, Young Offender juga dapat dikatakan sebagai kelompok pertama pengorganisasi acara musik khusus punk.
Terbentuknya Anti Septic tidak terlepas dari persahabatan yang terjalin diantara Beri dan Acid. Di awal tahun 1990, Beri bertemu kembali dengan Acid di sebuah acara musik di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Waktu itu, Acid (gitar/vokal) bersama Codot (bass) dan Gandung (drum) yang bergabung dalam band Dickhead tampil di situ. Dickhead membawakan lagu-lagu dari kelompok punk Barat yang legendaris, Misfit dan Exploited. Saat Dickhead membawakan lagu ”Fucking U.S.A” dari Exploited, Acid lupa lirik lagu yang dibawakannya itu. Akhirnya, Acid meminta penonton untuk membantu dia menyanyikan lagu itu.
Beri yang berada diantara penonton naik keatas panggung, menyanyikan lagu ”Fucking U.S.A.” bersama dengan Dickhead. Selesai manggung, Acid menghampiri Beri, mengajaknya untuk membentuk band baru. Anti Septic terbentuklah sebagai band punk pertama dan sejarah generasi pertama mulai terukir. Berbeda dari Dickhead atau the Stupid yang sifatnya seasonal, Anti Septic secara konsisten mengibarkan bendera punk.
Panggung pertama Anti Septic adalah di Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan dalam acara MOTOR (Morbid Thrasher Organization). Di sana, penonton yang didominasi musik thrash metal mentertawakan mereka, karena musik yang mereka mainkan berbeda dengan trend. Selain itu, penampilan personil Anti Septic dengan potongan plontos amat kontras dengan mayoritas pecinta musik thrash. Aksi panggung Septic yang melompat-lompat dan melakukan stage diving juga menjadi bahan tertawaan. Aksi pertama Septic ini hanya didukung oleh sekitar 12 orang penonton yang ikut bernyanyi dan melakukan slam dancing di depan panggung.
Peristiwa penting terjadi setahun kemudian saat Anti Septic bermain di Granada (Graha Purna Yudha) dalam acara Rock and Rhytm. Ketika itu, formasi Septic sudah berubah. Pemain bass, Codot, mengundurkan diri dan digantikan oleh Lukman Buluk. Lukman Buluk pada tahun 1990 merupakan 1 dari 12 orang yang menonton Septic di acara MOTOR di GOR Bulungan itu.
Tanpa diduga oleh Beri dan Acid, para penonton yang mendukung mereka bertambah besar jumlahnya. Sebelum pertunjukkan di Granada ini mereka biasanya hanya di dukung paling banyak 30 penonton. Di Granada, untuk pertama kalinya, Septic bermain dihadapan lebih dari 100 penonton. Ternyata penampilan mereka di Granada sudah ditunggu-tunggu oleh penonton para pencinta musik crossover punk ini. Acara musik menjadi kisruh, para pendukung Septic melakukan slam dancing dan moshing. Acara pun berubah menjadi arena lempar bangku. Panitia acara meminta Septic berhenti bermain. Namun mereka menolak, penonton pun meminta mereka meneruskan bermain satu lagu. Peristiwa ini menjadi momen penting menandakan bahwa komunitas punk mulai tumbuh.
Pada tahun 1992 terdapat sebuah klub di bilangan Pancoran-Gatot Subroto bernama Black Hole. Tempat ini sering didatangi oleh anak-anak metal Jakarta. Beri sendiri sering menghadiri acara-acara di klub tersebut. Musik-musik yang dimainkan di Black Hole terutama adalah Nirvana, Pearl Jam, dan Jane’s Addiction sampai dengan musik progresif. Di klub inilah untuk untuk pertama kalinya Beri bertemu dengan segerombolan anak punk dengan dandanan ala Sex Pistols dan The Exploited.
Black Hole menjadi saksi sejarah terbentuknya kelompok tongkrongan punk Jakarta pertama. Gerombolan yang diidentifikasi oleh Beri tersebut adalah anggota Young Offender. Young Offender dengan rambut spiky hair dan mohawk-nya memulai eksistensi mereka dengan mengisi acara di Black Hole. Submission, salah satu band di bawah payung kelompok Young Offender,  dengan Ondy sebagai vokalisnya, menjadi band tetap di sana. Mereka membawakan lagu-lagu  band-band Inggris mulai dari Sex Pistols, The Exploited, GBH dan Blitz. Maka, tahun 1992 ini mencatat lahirnya dua kelompok berpengaruh di periode generasi pertama punk Jakarta: Anti Septic sebagai band punk pertama dan Young Offender sebagai kelompok-tongkrongan punk pertama di Jakarta
Young Offender terbentuk pada tanggal 30 September 1992. Berdirinya Young Offender tidak terlepas dari dua nama penting, Ondy dan Taba. Ondy dan Taba pertama berkenalan saat mereka bertemu di IKJ. Mereka saling mengidentifikasi melalui kaos yang mereka gunakan. Taba yang waktu itu menggunakan kaos Black Flag “Fuck the Police” (nama band punk yang dimotori Sting itu) menarik perhatian Ondy. Perkenalan pun terjadi. Tempat tinggal Ondy berada di daerah Slamet Riadi. Sedangkan Taba bersekolah di SMA 68, yang kebetulan berdekatan dengan tempat Ondy tinggal. Mereka akhirnya sering bertemu di daerah Slamet Riadi.
Setelah sering bertemu, Ondy dan Taba bersepakat untuk membentuk kelompok punk Young Offender. Nama Young Ofender diambil dari kaset Punk Disorderly untuk merepresentasikan semangat anak muda yang membangkang, seperti yang dituturkan oleh Taba kepada saya:
”ada satu nama  young offender itu mewakili anak-anak muda terus dengan sikapnya yang yang berantakan gitu. Kita pilih tag line dengan nama itu karena di beberapa majalah luar yang kita liat juga, kosmologi anak muda untuk punk rock itu lebih diangkat dibandingkan orang-orang yang punya umur waktu itu. Nah, kita pilih dengan nama young. Terus ada satu lagi, kalo lo liat 1928, Young Java, Young Sumatra yang kayak gitu itu merupakan bentuk-bentuk pergerakan. Kita gak mengklaim kita diri kita punya suatu politis itu, kita gak berkaitan gitu yah. Cuman, sebagai suatu apa, filosofi gerakan anak muda dinyatakan dengan young kemudian kelakuan yang anarkis itu dengan offender kayak gitu”.
Young Offender dibentuk berdasarkan ketertarikan dengan punk rock dan keinginan mereka untuk mengorganisirnya menjadi sesuatu yang dapat mereka lakoni. Selain itu, secara sendiri-sendiri mereka mengalami kesulitan untuk keluar dengan menggunakan atribut punk, karena masyarakat melihat mereka dengan aneh. Sering mereka harus menghadapi ejekan “woi ayam jago” oleh masyarakat. Perkelahian dengan masyarakat awam serta preman kerap terjadi. Membentuk sebuah kelompok menjadi alternatif untuk melindungi diri sendiri.
Dengan resiko besar seperti perkelahian, Young Offender memutuskan untuk menerapkan kaderisasi bagi anak-anak baru yang bergabung dengan kelompok mereka. Kaderisasi berlangsung ketat, seperti Ospek penerimaan mahasiswa baru. Selain itu, mereka secara eksklusif membatasi peredaran kaset atau literatur mengenai punk. Tujuannya agar tidak tejadi kesalahpahaman anggota-anggota Young Offender terhadap filosofi punk itu sendiri.
Kegiatan kelompok ini berpusat di daerah Slamet Riadi, maka mereka dikenal sebagai SLAMER. Beberapa kegiatan mereka lakukan. Misalnya membuat live band, mendirikan Slamer Production untuk mengorganisir acara, dan melakukan march. March merupakan tradisi Young Offender melakukan parade keliling Jakarta dengan berjalan kaki atau naik bis. Sebelum march, mereka bersiap-siap dengan menggunakan dandanan punk mulai dari rambut mohawk, spiky hair, rantai dipakai sebagai kalung, peniti sampai dengan sepatu boots. Kegiatan march mereka biasanya berakhir di stasiun Dukuh Atas untuk minum-minum bir dan nongkrong.
Submision merupakan live band pertama yang terbentuk di bawah payung Young Offender. Band ini didirikan oleh Ondy, Sandi, Feri dan Levi (gitaris band The Fly). Acara pertama yang diadakan oleh Young Offender adalah acara di klub Black Hole. Setelah Submission, di dalam kelompok Young Offender terbentuk band-band seperti: Pistol Aer, The Explosion, Sex Pispot, The Pogo, Wonder Gel dan Punk Tat. Pistol Aer di tahun 1993 dengan memainkan lagu-lagu Sex Pistols seperti “God Save the Quen” menjadi salah satu band berpengaruh di era generasi punk pertama di Jakarta.
Scene Black Hole hanya dapat bertahan selama tahun 1992. Bulan-bulan akhir tahun 1992 menandai pergantian tempat acara musik punk ke Hotspot (pije-pije) Pub&Café. Seruan pamflet yang tersebar di seluruh Jakarta mendorong penggemar musik punk mendatangi tempat ini untuk meramaikan dan menyaksikan acara punk yang dapat dikatakan besar (pada era tersebut). Hotspot disesaki oleh para punks yang ingin menyaksikan band-band lokal. Acara di tempat ini biasanya berlangsung malam Jumat, dari pukul 8 malam sampai dengan 1 dini hari dengan harga tiket 7000 ribu rupiah + soft drink.
Sebuah kelompok payung punk lain, South Sex, pada era Hotspot ini mulai terlihat, dengan Idiots sebagai salah satu bandnya. Belakangan, South Sex tumbuh menjadi salah satu kelompok-tongkrongan punk yang berpengaruh. Selama setahun lebih Hotspot menjadi penanda eksistensi komunitas punk Jakarta generasi pertama. Akhir tahun 1993 atau awal tahun 1994 menjadi masa terakhir bagi keberadaan Hotspot sebagai tempat acara. Di tahun itu, pada sebuah hari minggu, di pelataran stadion mini Lebak Bulus terjadi perkelahian antara anggota kelompok punk dengan preman sekitar. Peristiwa ini mengakibatkan acara musik khusus punk yang diadakan oleh komunitas punk menghilang beberapa waktu lamanya.
Dinamika Generasi Pertama Punk Jakarta
Lahirnya generasi pertama punk Jakarta tidak terlepas dari peran sosialisasi beserta media yang terdapat di dalamnya. Ada beberapa jenis hubungan yang terjadi di dalam periode generasi pertama ini. Udet, salah satu orang yang berpengaruh di Young Offender, menjalin interaksi langsung dengan komunitas punk di Amerika. Selain itu ada beberapa individu yang pernah ke luar negeri. Mereka ini mendapatkan sumber-sumber punk seperti literatur, kaset, majalah dan aksesoris. Individu-individu ini dapat dikategorikan sebagai mereka yang mengalami indirect contact dengan punk luar negeri melalui media seperti karya, rekaman dan legenda.
Ondy pergi keluar negeri dan mendapatkan koleksi-koleksi piringan hitam dan CD terutama genre industrial. Dengan koleksi-koleksi yang dimiliki Ondi dan Dedi, Udet menjalin hubungan pertemanan dan saling tukar-menukar koleksi-koleksi punk. Selain itu, ada Evi seorang perempuan yang memiliki band Punk Tat yang pernah tinggal di Jerman. Dari pengalamannya tinggal di sana, Evi mendapatkan literatur dan kaset band punk Jerman.
Melalui toko-toko kaset klasik seperti Duta Suara di Jalan Sabang, generasi punk pertama ini mendapatkan akses mediated contact melalui kaset karya-karya punk luar negeri. Feri dengan kelompok punk-nya  menghabiskan waktunya di daerah yang belakangan menjadi Blok M Plaza yang berseberangan dengan toko kaset Duta Audio. Selain kaset, ada majalah skate board seperti Trasher yang di dalamnya memuat iklan-iklan kaset dan kaos-kaos band punk Amerika seperti Black Flag, Minor Threat, Desecendant dan Dead Kennedys.
Bagi Anti Septic, band-band punk Amerika seperti Dead Kennedys, Black Flag adalah sumber inspirasi. Pengaruh band Amerika ini juga terlihat pada gaya fashion Anti Septic yang mengikuti band-band tersebut: kaos, sepatu vans, kepala botak dan rambut cepak. Sedangkan Young Offender mengikuti band-band Inggris, seperti The Sex Pistols, Exploited, band-band yang berada di kompilasi Punk and Disorderly seperti The Blitz, Exploited, Abrasive Weel, The Insane, The Mob, dan chaos UK.
Young Offender merupakan kelompok yang pertama tampil sebagai punk dengan gaya dandanan mohawk, spiky hair, kalung rantai dan sepatu boots. Hal penting yang perlu dikemukakan bahwa komunitas yang didominasi oleh laki-laki ini tidak mutlak hanya dijalani oleh laki-laki. Evi dengan bandnya Punk Tat dikenal sebagai band punk perempuan pertama. Selain itu terdapat Wonder Gel, band beranggotakan perempuan yang bergabung dengan kelompok Young Offender.
Interaksi yang berlangsung diantara sesama punk pada periode generasi pertama ini memiliki beberapa ciri khas. Pertama, ada arus pertukaran kaset yang intensif. Fenomena ini dapat dilihat sebagai tape syndicate (sindikasi kaset), dimana proses tukar-menukar kaset terjadi diantara mereka. Kedua, melalui kaos-kaos yang dikenakan, seorang individu punk dapat mengidentifikasi individu punk lainnya. ”Bahasa Kaos” sebagai identitas punk mendorong mereka untuk saling berkenalan. Ketiga, band-band punk generasi pertama masih membawakan lagu-lagu dari band-band luar negeri yang mempengaruhi mereka.
Tahun 1994 mencatat banyaknya perubahan. Setelah kejadian perkelahian diantara anak punk dengan preman di daerah Lebak Bulus, acara-acara musik khusus punk perlahan menurun dan menghilang. Manari, sebuah klub di daerah Gatot Subroto, sempat menjadi alternatif tempat bagi band-band punk bermain musik. Alternatif lain untuk bermain musik adalah dengan tampil pada acara-acara yang diadakan oleh SMA seperti SMA 82 (Kresikars), Pangudi Luhur (PL Fair), SMA 6 (Pamsos) dan universitas-universitas seperti UNAS, Jayabaya, Gunadarma dan ITI.
Perubahan yang memberikan pengaruh besar terhadap keberadaan komunitas punk terjadi saat Young Offender mengalami krisis eksistensial. Setidaknya terdapat tiga faktor yang mendorong terjadinya perubahan di dalam tubuh Young Offender. Pertama, perubahan genre musik yang dibawakan oleh live band yang tergabung dalam kelompok ini. Ondi dengan Submission-nya mulai membawakan lagu-lagu dari Jane’s Addiction dan lagu band industrial seperti Nine Inch Nail (NIN) dan Ministry. Sedangkan Pestol Aer, yang sebelumnya mendominasi panggung dengan lagu-lagu dari Sex Pistols, mengubah genre musik mereka menjadi genre musik britpop dengan meng-cover lagu-lagu dari Oasis. Perubahan jenis genre musik Young Offender ini, terutama Pestol Aer, berdampak pada munculnya komunitas dan scene baru, yaitu Britpop dengan band-band seperti Chapter 69 dan Rumah Sakit. Di lain pihak, perubahan ini mendorong hilangnya pengaruh Young Offender sebagai kelompok yang mendominasi generasi punk pertama di Jakarta.
Perubahan kedua yang dialami Young Offender adalah terjerumusnya beberapa anggotanya dalam penggunaan obat-obat terlarang. Banyak diantara mereka yang mengalami over dosis dan mempengaruhi kesolidan kelompok ini. Ketiga, kaderisasi ketat dilakukan Young Offender justru mendorong mereka yang bersimpati dan ingin bergabung malah meninggalkan mereka dan membentuk kelompok punk sendiri. Perlahan tapi pasti, dominasi Young Offender menghilang.
Perubahan ini menciptakan stagnasi di tengah komunitas punk di Jakarta. Momentum transisi muncul ketika pada tahun 1995 diadakan sebuah acara punk besar yang bertempat di Auditorium Gelanggang Olah Raga (GOR) Bulungan Jakarta Selatan. Setiap punk yang haus akan acara datang untuk meramaikan acara ini.
Acara di GOR Bulungan ini diorganisir oleh South Sex dengan nama ”Apresiasi Musik dan Seni”. Band-band yang bermain adalah The Idiots, Anti Septic, Explosion, The Pogo, Kardus TV dan masih banyak lagi. Proses transisi terpicu dan South Sex menciptakan momentum bagi bergeraknya sejarah punk menuju periode yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh generasi sebelumnya.
Periode Kedua: Terbentuknya Fondasi Ekonomi Punk Jakarta (1996-2001)
Sejarah komunitas Jakarta Punk memasuki periode baru dengan berbagai macam kompleksitas dan dinamikanya tersendiri. Tempat pertunjukkan baru bermunculan. Poster Cafe di daerah Gatot Subroto dan Harley Davidson Cafe di daerah Pulo Mas menjadi tempat acara yang dapat bertahan cukup lama. Selama tahun 1996 – 2001 ini juga terdapat beberapa tempat pertunjukan musik punk di Jakarta seperti GOR Rawa Kambing, Universitas Mercu Buana, Bengkel Bekas, Auditorium Menpora Senayan, Tanah Kosong Brimob Ciputat, UNISMA Bekasi, Auditorium Bulungan, GOR Bendungan Hilir, GOR Pondok Kelapa Kali Malang, GOR Cengkareng, Universitas Budi Luhur. Namun semuanya tidak dapat bertahan lama.
Poster Cafe merupakan tempat yang paling lama bertahan dari tahun 1996 sampai dengan 1999. Poster Cafe, yang berada tepat di Museum Satria Mandala dengan kapasitas 2000 orang, berpuluh-puluh kali menjadi saksi bisu bagi perkembangan periode kedua sejarah punk di Jakarta
Eksistensi Poster tercatat bermula pada 29 September 1996 dengan acara pertama bertema ”Underground Session”, sebuah acara dua mingguan yang tidak hanya diisipunk, tetapi juga berisi berbagai genre musik. Seperti ditulis oleh Wendi Putranto, 10 Maret 1999 menjadi hari kematian Poster Cafe untuk selama-lamanya. Untuk terakhir kalinya diadakan acara musik ”Subnormal Revolution” yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar. Kerusuhan ini menghancurkan beberapa mobil, memaksa aparat kepolisian dalam membubarkan massa.
Setelah surutnya Young Offender, di daerah Jakarta Timur-Utara-Pusat muncul kelompok yang cukup berpengaruh seperti Subnormal dengan band-band-nya seperti Army Style dan 142 Chaos. Juga muncul kelompok Sid Gank dengan band-nya seperti RGB dan Pinokio. Subnormal dan Sid Gank menjadi pelopor bagi berlangsungnya acara-acara di Harley Davidson Cafe. Cafe yang berkapasitas kurang lebih 200 orang ini memiliki kelebihan yang dapat digunakan pada siang hari ataupun malam hari. Tidak berlangsung lama, tempat acara dipindahkan di lapangan parkir tepat di halaman belakang  Cafe. Harley Davidson juga menjadi tempat bagi awal berkembangnya komunitas hardcore dan skinheads di Jakarta.
Perkembangan skinhead di Indonesia secara khusus diteliti oleh Dina Indrasafitri dalam penelitian antropologisnya Sejarah Perkembangan  Subkultur Skinhead Serta Keberadaannya di Indonesia: Studi Terhadap Kelompok Distro Warriors Jakarta (2005). Sebuah bagian penting dalam studi ini adalah catatan atas kehadiran Uti, seorang yang diklaim sebagai skinhead pertama di Indonesia. Uti mendapatkan pengetahuan skinhead dari pengalamannya tinggal di luar negeri. Seperti dicatat oleh Dina Indrasafitri, Uti kemudian berinteraksi dengan sekelompok anak punk yaitu ”anak pejaten” yang nantinya menjadi salah satu kelompok pionir komunitas skinhead di Jakarta. Proses sejarah ini menjadi penting karena keterkaitan historis diantara punk dan skinhead begitu kuat
Dinamika dalam Periode Kedua Punk Jakarta
Runtuhnya dominasi kelompok Young Offender mendorong terjadinya desentralisasi kekuatan di komunitas Jakarta Punk. Konfigurasi aktor-aktor di komunitas punk mengalami perubahan mendasar. Dari setiap penjuru Jakarta bermunculan kelompok-kelompok tongkrongan punk mulai dari Subnormal, Sid Gank di Jakarta Timur dan Utara; Slumber, Neo Epileptions dan Meruya Barmy Army di daerah Jakarta Selatan, Swlindle Revolution di daerah Ciputat, Miracle di Ciledug, PLN di daerah Blok M. Kelompok-kelompok tongkrongan ini pada gilirannya melahirkan  begitu banyak live band seperti Army Style, RGB, 142 Chaos, Pinocio, Kremlin, Sunquist, Error Crew, Out of Control, Spatistik, Sexy Pigs, Kaos Khaki dan masih banyak lagi.
Setelah acara GOR Bulungan di tahun 1995 yang saya bahas sebelumnya, intensitas interaksi diantara sesama individual semakin besar. Ari Idiots sebagai salah satu saksi dan pelaku sejarah menggambarkan proses tersebut pada saya begini:
”datang (ke acara) berdua besok-besoknya lagi loe bakal datang ke acara berenam-berdelapan, emang nggak bisa dipungkiri, acara-acara punk pada 95 dan seterusnya itu sampai 96, itu memancing semua orang untuk membuat suatu jalinan pertemanan, akhirnya, gua yang misalnya seorang individual datang ke acara punk begitu, besok-besoknya gua pasti sudah nggak individual lagi, pasti gua nongkrong dimana-mana. Jadi ibaratnya disitu benar-benar terjalin sebuah tali pertemanan, semua orang bisa bikin acara-acara kolektif, pada saat itu, berdasarkan gank-gank aja, anak SS bikin acara, anak Slumber bikin acara, jadi berdasarkan tongkrongan-tongkrongan tersebut”
Hadirnya begitu banyak kelompok-tongkrongan ini dapat dilihat sebagai era lahirnya gank-gank di tengah komunitas punk. Salah satu faktor penting yang menyatukan individu-invidu di dalam kelompok-tongkrongan adalah faktor daerah. Individu-individu yang berasal dari daerah yang sama memiliki rute perjalanan pergi-pulang menuju tempat acara yang sama. Hal ini mendorong individu-individu tersebut saling kenal dan mempersatukan mereka. Namun, salah satu dampak negatif dari terbentuknya gank-gank atau kelompok-tongkrongan ini adalah sering terjadinya perkelahian. Perkelahian sering terjadi di setiap acara musik punk akibat adanya masalah-masalah interaksi dan kesalahpahaman yang memicu terjadinya konflik.
Seiring dengan bertambah banyaknya kelompok-tongkrongan di dalam komunitas punk Jakarta, media sosialisasi musik punk juga mengalami perubahan yang signifikan. Di akhir tahun 95/96, komunitas punk di Jakarta mulai mengenal medium musik melalui compact disc (CD). Duta Suara sebagai salah satu toko kaset klasik menyediakan CD-CD punk yang sebelumnya tidak ditemukan. Mereka yang tertarik mengkonsumsi CD biasanya berpatungan untuk mendapatkannya, dengan harga berkisar diantara 40-50 ribu.
Ada juga cara lain untuk mendapatkan produk-produk punk dari luar negeri, yaitu mail order. Mail Order ini bersifat tradisional dengan cara mengirim surat dengan berisikan uang pesanan yang dibungkus oleh kertas karbon. Melalui mail order dan katalog-katalog pemesanan dari record label musik punk luar negeri, komunitas punk Jakarta dapat menjangkau begitu banyak band punk yang tidak pernah terdengar di periode sebelumnya. Record label dan katalog-katalog tersebut merupakan sesuatu yang begitu eksklusif bagi komunitas punk.
Di dalam komunitas punk Jakarta tanpa disadari mulai terbentuk pembagian kerja, dimana terdapat individu-individu tertentu yang menjalankan proses mail order tersebut dan menjadi kolektor produk-produk band punk luar negeri. Keberadaan individu-individu ini  memainkan peranan penting bagi perkembangan pengetahuan mengenai punk bagi komunitas punk Jakarta.
Melalui aktivitas mail order dan pencarian informasi mengenai punk luar negeri, pengetahuan mengenai dimensi politik dari musik punk pun terbentuk. Masuknya zine Profane Existence dari Amerika ke komunitas punk Jakarta memberikan pengetahuan mengenai pergerakan politik komunitas punk di luar negeri dengan ideologi anarkisme.
Setidaknya terdapat dua pengaruh penting setelah masuknya zine (majalah alternatif) ke tengah komunitas punk di Jakarta. Pertama, masuknya unsur-unsur politik ke dalam perkembangan sejarah komunitas punk Jakarta. Kedua, bertambahnya pengetahuan mengenai kebutuhan akan sebuah media komunikasi antar sesama punk di Jakarta. Media tersebut menjadi media informasi yang terlepas dari monopoli informasi institusi media kapitalistik, seperti majalah musik HAI. Komunitas punk Jakarta berusaha mempraktekkan kebutuhan baru di dalam komunikasi-informasi dengan membuat zine-zine punk.
Ari Idiots merupakan salah satu aktor yang tergerak untuk menciptakan media alternatif ini. Ia bercerita pada saya:
”era-era 97 itu ngedorong gua membuat sesuatu yang namanya zine, kalo gak salah gua juga dapat zine foto kopian yang namanya Sika Apara dari Finland, dari si Jamal awalnya pertama kali, ibaratnya zine yang bener-bener bentuknya kayak sampah yang potong tempel, kemana-mana, gila-gila-an, hitam dan pekat, kecil ukuran A5, itu ngedorong  gua untuk wah keren juga nih bikin kayak gini, emang sebelumnya dari kontak-kontak-an, order-orderan itu juga gua ngejalanin…”
Selain masuknya informasi dan pengetahuan punk di luar negeri melalui mediated contact, pada saat yang bersamaan mulai terjalin hubungan direct contact dengan komunitas punk di luar negeri. Direct contact berjalan melalui hubungan interaksi surat-menyurat dengan cara tradisional menggunakan jasa kantor pos. Alamat-alamat band atau records label punk luar negeri di dapat melalui zine seperti Profane Existence tadi. Akhirnya, intensitas interaksi dengan punk luar negeri semakin bertambah dengan merebaknya internet di Indonesia.
Pada pertengahan tahun 1990-an aliran anarcho punk mulai masuk ke Indonesia. Band-band dari Skandinavia dibawah label Distortion Records dan label Amerika seperti Havoc Records memberikan warna dan dinamika baru di Jakarta. Musik hardcorepunk dan crusty mulai dimainkan oleh band-band anak punk di Jakarta. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa band-band membawakan lagu-lagu dengan  lirik-lirik yang secara lebih eksplisit mengandung nilai-nilai ideologi anarkisme, seperti anti negara dan kapitalisme.
Lirik-lirik tersebut mulai dipahami oleh komunitas punk di Jakarta. Diantara mereka terjadi sebuah proses dimana diskusi mengenai politik dan ideologi-ideologi besar seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme, anarkisme dan yang lainnya semakin sering dilakukan. Akibatnya, orientasi komunitas punk bergeser, dari bentuk komunitas berdasarkan wilayah mengalami perubahan menjadi bentuk kolektif yang terfokus pada diskusi mengenai kondisi sosial-politik Indonesia. Kondisi sosial politik pra dan pasca reformasi 1998 juga memberikan pengaruh yang signifikan bagi berkembangnya wacana ideologi politik punk di Jakarta.
Masuknya Unsur Ekonomi-Politik Punk
Dinamika sejarah komunitas punk Jakarta tidak terlepas dari pengaruh kondisi struktural masyarakat Indonesia tempat mereka berada. Pengaruh kekuasaan ekonomi-politik di dalam perjalanan sejarah komunitas punk memberikan dampak bagi arah perubahan dan perkembangan komunitas ini. Ini dapat terlihat dari proses kooptasi, komodifikasi dan penyerapan kebudayaan oleh kapitalisme dengan perangkat institusinya seperti media.
Unsur-unsur politik memasuki komunitas punk di saat secara bersamaan perubahan internal dan perubahan eksternal bertemu dalam satu momen historis. Perubahan internal yang didorong oleh masuknya Profane Existence serta band-band aliran crust, hardcore punk dengan lirik-lirik politis mulai mengisi pengetahuan punk Jakarta. Ia juga bersinggungan dengan kondisi sosial politik di era akhir tahun 1997 menjelang masa kejatuhan Soeharto. Wacana anarkisme pun sebenarnya sudah hadir pada generasi pertama, misalnya melalui lagu ”Anarchy in the U.K.” oleh Sex Pistols. Namun adanya lagu-lagu dengan lirik-lirik politis di periode generasi pertama punk Jakarta belum dapat mendorong terbentuk kesadaran politik.
Selain masalah tongkrongan atau batas territorial, dalam studi antropologisnya Fransiska Titiwening (2001) juga membahas permasalahan masuknya dimensi politik di dalam kehidupan komunitas punk Jakarta. Kontestasi identitas punk antara punk politis vis-a-vis punk apolitis atau anarko punk vis-à-vis street punk merupakan bagian dari dinamika  komunitas Jakarta punk pada periode 1995-2001.  Menurut Fransiska Titiwening, anarko punk sebagai punk yang identik dengan pemikiran anarkis memiliki acuan batas identitas, dengan kriteria masuk dalam keanggotaan kelompok militan politik ketika itu Perhimpunan Rakyat Demokratik (PRD), ikut demo anti pemerintah, dan diskusi politik.
Sedangkan street punk adalah sebutan bagi ‘punk’ yang sering nongkrong di pinggir jalan dan tempat keramaian. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan, kadang berpindah tempat atau berkelana keluar kota.
Situasi politik yang memanas pada tahun 1998 membuat individu dalam komunitas punk merasakan relevansi di antara literatur politis punk dengan realitas politik Indonesia. Persentuhan punk dengan gerakan politik eksternal mulai terjadi disaat adanya individu-individu punk yang menjadi mahasiswa dan bergabung dengan gerakan mahasiswa di universitas tempat mereka belajar. Di luar kampus banyak individu atau kelompok tongkrongan punk yang berafiliasi dengan kelompok-kelompok pergerakan masyarakat sipil seperti Pergerakan Kaum Miskin Kota, dan LSM-LSM lain yang bermunculan pada masa itu.
Pada saat yang bersamaan, kelompok politik kiri PRD melakukan rekrutmen politik kepada kelompok-kelompok punk di seluruh Indonesia. PRD dengan orientasi kader-kader politik anak muda melihat komunitas underground seperti komunitas metal, komunitas punk dan komunitas musik anak muda lainnya sebagai target rekrutmen. Teknik PRD ini memiliki kemiripan dengan British National Party atau National Front di Inggris yang menggunakan anak muda dan komunitas musik sebagai lahan pengkaderan partai politik.
Akhirnya, tanpa menyadari dirinya menjadi alat permainan politik, banyak individu atau kelompok punk yang menjadi underbow kelompok-kelompok politik. Pada periode-periode 1998-2001 banyak individu-kelompok punk ikut dalam demo-demo di jalan yang marak saat itu. Keterlibatan punk di tataran ini toh menghilang beriringan dengan turunya suhu politik disaat memasuki era reformasi. Ketidakjelasan eksistensi PRD dan kesadaran akan diperalatnya individu-kelompok punk juga mematikan keterlibatan komunitas punk dalam politik.
Infiltrasi yang dilakukan oleh kekuatan eksternal komunitas punk seperti PRD dan kelompok kepentingan lainnya sejatinya tidak berhasil menguasai keseluruhan komunitas punk Jakarta. Bertahannya beberapa individu dan kelompok di dalam komunitas punk Jakarta dari infiltrasi terutama didorong oleh kesadaran untuk lebih fokus membangun komunitas punk itu sendiri. Dengan kata lain, pergerakan internal punk yang hadir bersamaan dengan pergerakan politik eksternal dapat meredam pengaruh dan usaha kooptasi dari luar komunitas.
Salah satu nilai yang mempengaruhi komunitas Punk Jakarta untuk tidak terlibat dengan politik praktis adalah slogan “party political bullshit”. Bagi mereka, partai politik adalah pembohong yang menyimpan agenda tersembunyi.
Selain itu, nilai-nilai Do it Yourself (D.I.Y) sebagai bentuk resistensi dengan menciptakan produksi-produksi alternatif menjadi pilihan yang diambil oleh sebagian besar individu-kelompok di dalam komunitas ini. D.I.Y. merupakan metode yang menawarkan bagi mereka yang ingin menjalankannya, menciptakan produksi, dan menguasai alat produksi sendiri, terlepas dari dominasi penguasaan mode of production oleh institusi yang dominan. Nilai ekonomi-politik yang terkandung di dalam semangat D.I.Y ini menjadi landasan bagi proses perkembangan sejarah komunitas punk Jakarta selanjutnya.
Semangat D.I.Y ini begitu kuat tertanam. Peristiwa penting yang terjadi adalah keluarnya produk kaset karya komunitas punk Bandung yang dikenal dengan kompilasi “Bandung Burning” yang berisikan karya band-band punk komunitas Bandung. Pada tahun 1997, sebuah komunitas hardcore Jakarta yaitu Locos mengeluarkan album kompilasi “Walk Together Rock Together”. Album ini berisi karya band-band hardcore seperti Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge, Front Side, Youth Against Facism, Genocide, Secret Agent, Out of Step, dan Cryptical Death.
Selain produksi musik melalui medium kaset, Locos untuk pertama kalinya membuat zine yang berisikan biografi band-band di dalam kelompok tersebut. Produk atau karya-karya tersebut menginspirasikan komunitas punk Jakarta untuk merealisasikan semangat D.I.Y. Akhirnya,  mereka membuat karya kompilasi yang dikenal dengan album “Still One Still Proud”, berisikan 13 band punk dari Jakarta seperti the Idiots, Ina Subs, Dead Germ, Total Destroy, MidHumans, SepticTank, Error Crew, Out Of Control, Kremlin, Overcast, Sexy Pigs, Dislike dan Cryptical Death. Karya monumental ini dikeluarkan oleh records label pertama di Jakarta yaitu Movement Records. Tidak berhenti pada produksi kaset, kelompok-kelompok yang berada di dalam komunitas Jakarta Punk mulai memproduksi zine dan menjalankan usaha sablon untuk memproduksi kaos, emblem, pin dan produk-produk lainnya. Memasuki tahun 1999-2001, hampir seluruh band di komunitas Punk Jakarta melakukan rekaman musik dan memproduksi karyanya sendiri. Perkembangan ini tanpa disadari telah menciptakan sebuah pasar alternatif di dalam masyarakat punk. Jaring-jaring distribusi penjualan karya-karya punk mulai terbentuk, tidak hanya di Jakarta. Jejaring ini terbentang dari Bandung, Jogja, Malang, Surabaya, bahkan Malaysia dan Singapura. Tidak terbayangkan bahwa komunitas Punk telah membangun jaringan pasarnya tanpa dapat terdeteksi oleh industri musik besar.
Hadirnya kompilasi “Still One Still Proud” juga menandai berakhirnya era gank-gank yang ada di Jakarta. Kelompok-kelompok di dalam komunitas ini mulai menyadari arti penting dari persatuan dan kebersamaan. Semangat sektarianisme yang mewakili kelompok-kelompok tongkrongan punk di Jakarta mengalami perubahan. Mereka menuju semangat persatuan di bawah satu cita-cita kebersamaan yaitu “Jakarta Punks”
Proses Transisi
erkembangan baru komunitas punk ini berpuncak pada tahun 2001. Semangat kebersamaan dan persatuan yang di usung melalui slogan Jakarta Punks dimanifestasikan melalui acara Jakarta Bersatu volume 1, yang diadakan pada bulan Februari 2001. Jakarta Bersatu merupakan titik tolak penting bagi terbentuknya kekuatan basis ekonomi politik di komunitas Jakarta. Band-band yang bermain merupakan band-band yang setidaknya pernah menciptakan karya-karya di dalam rekaman kaset. Kriteria ini menjadi penting mengingat bahwa begitu banyak band yang muncul dan hilang begitu saja tanpa memberikan kontribusi karya-karyanya. Acara ini sebenarnya merupakan acara gabungan dengan genre musik hardcore dan skinhead dengan tujuan mempersatukan komunitas musik yang memiliki latar belakang sama.
cara Jakarta Bersatu menandakan semakin solidnya komunitas Jakarta Punk. Karena proses pembentukan basis produksi ekonomi dan jaring-jaring distribusi telah berjalan membentuk mekanisme pasarnya tersendiri. Acara ini juga memperlihatkan resistensi melalui penolakan terhadap sponsor yang dianggap sebagai jerat kapitalis. Acara yang dihadiri 5000 hingga 7000 penonton ini menjadi bukti bahwa komunitas punk, hardcore dan skinhead dapat mengorganisir acara dengan kapasitas besar, acara yang sebelumnya hanya dapat dilaksanakan dengan menggunakan donasi sponsor institusi besar.
Mereka yang memasuki komunitas punk pada periode setelah masa transisi ini akan terbentuk kesadarannya untuk menolak major label yang berasal dari industri musik besar.
Punk Jakarta Menuju Komunitas Internasional (2001-2006)
Setelah mengalami proses transisi, Jakarta Punk berkembang menuju bentuk yang berbeda dari periode sebelumnya. Pada periode ini, komunitas punk di Jakarta mengalami intervensi dari kapitalisme melalui komodifikasi dan penyerapan simbol-simbol punk menjadi sesuatu yang diproduksi secara massal. Jika pada pergerakan punk periode kedua pihak industri budaya masih mengganggap punk tidak mempunyai nilai jual tinggi, sekarang mereka berpikir sebaliknya: punk di Indonesia (termasuk Jakarta) sudah menjadi sasaran komodifikasi industri (Iskandar Zulqarnain, 2004).
Band seperti Superman Is Dead (SID, dari Bali) menandatangi kontrak dengan perusahaan besar yaitu Sony Music Indonesia. Setelah kejatuhan Soeharto, arus globalisasi begitu deras merasuki komunitas punk Jakarta. Masuknya MTV melalui stasiun televisi lokal seperti ANTV dan Global TV memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan wacana mengenai punk. MTV juga bekerja sama dengan MRA company mendirikan majalah dan radio MTV Trax.
Selain kapitalisme, pengaruh internet juga sedikit banyak mempengaruhi proses interaksi dan sosialisasi komunitas punk di Jakarta. Generasi punk yang lahir pada periode ini tidak banyak mengalami interaksi dan sosialisasi antar sesama punk. Mereka mendapatkan informasi melalui internet dan media. Sebelumnya, generasi punk di Jakarta mengenal band-band punk melalui proses interaksi antar sesama. Sekarang, mereka yang menyatakan dirinya punk hanya mengambil acuan identitas melalui media seperti MTV. Seperti dicatat Iskandar Zulqarnain (2004), melalui MTV, band-band punk komersil Barat, seperti Blink 182 dan Sum 41, masuk membentuk wacana baru mengenai punk di Jakarta. MTV juga memberikan kesempatan bagi band-band punk yang menginginkan masuk televisi untuk dapat menayangkan video klipnya masing-masing. Band punk seperti SID dan Rockets Rockers menyatakan dengan jujur bahwa mereka ingin mendapatkan kesejahteraan lewat punk dengan sukarela melakukan sell-out menjual imej punk sebagai musik pembebasan demi uang (Iskandar Zulqarnain, 2004).
Di sisi lain, keberadaan internet toh memberikan energi positif bagi berkembangan komunitas punk di Jakarta. Melalui internet, hubungan direct contact dengan komunitas punk luar negeri maju pesat. Indonesia dan Jakarta mulai dikenal oleh komunitas punk dunia. Dengan sendirinya, komunitas punk Jakarta memasuki tataran interaksi yang semakin luas. Komunitas Jakarta Punk untuk pertama kalinya kedatangan kelompok band dari luar negeri, Wojcezh dari Jerman. Wojcezh bermain di acara street gigs di depan Pasar Festival Kuningan di Jakarta. Kehadiran Wojcezh di Jakarta merupakan hasil kerjasama teman-teman dari Malaysia-Singapura dengan orang-orang di komunitas Jakarta Punk.
Setelah Wojcezh,  dari Jerman datang beberapa band dari luar negeri untuk bermain di Indonesia. Band seperti Battle of Disarm dan Power of Idea dari Jepang; Foco Protesta, Rambo dari Amerika; Phist Crist dari Australia; Topsiturfi dari Singapura, Second Combat band Hardcore dari Malaysia; Masseparation band Grindcore dari Malaysia, Young And Dangerous band Trashcore dari Malaysia, dan Cluster Bomb Unit band dari Jerman yang telah bermain di Jakarta sebanyak dua kali pada tahun 2005 dan 2006.
Kehadiran band-band luar negeri diatas tidak menggunakan bantuan dari sponsor perusahaan-perusahaan donor, seperti Djarum Super atau A Mild. Melalui kerjasama kolektif diantara kelompok-kelompok punk Jakarta, band-band luar negeri tersebut dapat bermain di Jakarta. Salah satu peristiwa penting adalah hadirnya band legendaris the Exploited yang telah eksis di komunitas punk Inggrissejak era 1980-an. Exploited hadir di Jakarta dalam tur Asia Tenggara. Di Indonesia, Exploited mengadakan konser di tiga kota yaitu Jakarta, Bandung dan Malang. Peristiwa lain yang menarik adalah konser yang diadakan di Jakarta pada tanggal 10 Juni 2006 bertempat di Lapangan Bola Cirendeu. Konser berjalan baik tanpa sponsor yang mendukung acara tersebut.
Membaca Sejarah Komunitas Punk Jakarta
Keberadaan punk di Indonesia, khususnya di Jakarta, hadir melalui sebuah proses historis. Kenyataan ini jelas pertentangan dengan klaim yang melihat kehadiran punk di Indonesia a historis dan tanpa dasar yang kuat. Hasil terpenting dari rekonstruksi sejarah adalah ditemukannya periodisasi-periodisasi di dalam sejarah keberadaan punk di Jakarta. Setiap periode memiliki dinamika internal dan eksternalnya masing-masing. Di balik proses sejarah ini terdapat kontradiksi-kontradiksi internal di dalam perkembangan sejarah komunitas punk di kota Jakarta. Dengan kata lain, dari kenyataan historis ini, penulis berusaha untuk memahami sejarah komunitas punk secara kritis. Penulis setidaknya bisa mengidentifikasi tiga refleksi kritis terhadap  komunitas Punk Jakarta sebagai sebuah gerakan counterculture:
Pertama, dari keempat periode sejarah terlihat bahwa punk sebagai gerakan perlawanan menemukan bentuk terbaiknya pada periode kedua. Namun, di sini pula terletak permasalahannya. Bila komunitas punk merupakan gerakan counterculture, maka konsistensi sikap politik komunitas punk Jakarta perlu dipertanyakan. Punk sebagai gerakan politik dapat dibaca lebih karena disebabkan oleh faktor infiltrasi gerakan PRD dan kondisi sosial-politik tahun 1997-1999 yang memungkinkan bukan hanya anak punk saja yang berpolitik atau berbicara politik, namun hampir semua orang di Jakarta dapat berbicara politik. Apalagi kondisi ini didorong oleh arus reformasi yang membuka kebebasan berbicara dan berekspresi. Kenyataan sikap politik yang lemah dari komunitas punk Jakarta didukung oleh menurunnya kerja-kerja ataupun pernyataan-pernyataan politik di dalam tindakan keseharian individu-individu didalamnya.
Periode berikutnya yaitu periode III mulai dari tahun 2001 sampai masa sekarang menunjukan secara perlahan bahwa komunitas punk Jakarta mengalami proses depolitisasi seiring dengan menurunnya aktifitas politik masyarakat pasca reformasi politik di tahun 1997-2000. Artinya, komunitas punk Jakarta mengalami stagnasi terhadap aktifitas politik riil. Dengan kata lain, komunitas punk Jakarta terjebak kedalam situasi dan kondisi a politis di dalam sikap dan tindakannya sebagai oposisi terhadap negara dan kapitalisme.
Kedua, perkembangan komunitas Punk Jakarta saat inp (saat tulisan ini dibuat) mengalami kondisi yang memprihatinkan. Banyak dari anggota komunitas punk Jakarta yang bekerjasama dengan institusi-institusi kapitalisme yang sebelumnya mereka klaim sebagai musuh mereka. Contoh peristiwa yang memicu kontroversi adalah masuknya Marjinal, sebuah band punk yang tergabung di dalam kelompok Taring Babi dari Jagakarsa-Depok, ke dalam liputan acara  Urban Reality Show di RCTI. Selain itu Kelompok Taring Babi dan Marjinal juga terlibat sebagai figuran di dalam film Naga Bonar 2. Pada scene upacara bendara di film tersebut kita dapat melihat beberapa anak punk dari kelompok Taring Babi mengikuti upacara di film tersebut.
Hal ini menunjukan bahwa kesadaran kolektif komunitas punk Jakarta melemah. Selain itu, kenyataan ini menunjukan bahwa di dalam tubuh komunitas Punk Jakarta terdapat fragmentasi-fragmentasi di antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Perlu ditekankan bahwa penulis menyadari  bahwa komunitas tersebut sangat heterogen dan tidak berdiri secara monolitik.
Terakhir, punk secara ekonomi gagal dalam memberikan alternatif atau perlawanan ekonomi terhadap sistem kapitalisme. Bahkan kecendrungan mode of production yang dilakukan komunitas punk Jakarta memiliki benih-benih akumulasi modal di dalam kegiatan berproduksinya. Dengan kata  lain, bila komunitas punk Jakarta tidak menyadari dan melakukan refleksi kritis terhadap aktifitas yang dilakukannya, maka tanpa disadari mode of production dari komunitas punk Jakarta yang selama ini dijalankan akan bergerak menuju hukum akumulasi kapital. Bila ini terjadi maka punk akan jatuh kedalam kematian tragisnya

Oleh: Fathun Karib

Ilmuwan dan penulis Stacey Thompson di dalam bukunya Punk Productions; Unfinished Business memberi ilustrasi yang baik dalam merekonstruksi sejarah punk di Amerika dan Inggris. Ia membagi tujuh periode punk di Amerika dan Inggris berdasarkan scene-scene besar seperti the New York Scene, the English Scene, the California Hardcore Scene, the Washington D.C. (First Wave Straight Edge), the New York Hardcore Scene (Second Wave Straight Edge), the Riot GRRRL Scene, the Berkeley/Lookout! Pop-Punk scene. Karya Thompson ini sangat baik menguraikan dinamika ekonomi-politik pergerakan punk bersama segi estetika komunitas di Amerika dan Inggris. Read the rest of this entry »

Campursari ; Lika-liku penemuan musik baru yang memperoleh sambutan publik

In media, music on March 28, 2009 at 3:35 pm

Oleh: Bill Aribowo

PERGULATAN panjang terjadi dalam tubuh musik keroncong. Kaidah-kaidah musik keroncong dinilai tidak luwes menghadapi perkembangan zaman. Ujung-ujungnya musik keroncong mengalami kemerosotan. Karya-karya baru lagu keroncong sulit ditemukan. Dari ajang pergulatan itu tampillah irama campur sari sebagai ‘pemenang’.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini irama campur sari telah berkembang pesat sampai ke manca negara. Anton Issoedibyo berani mengatakan, “Tanpa campur sari grup musik kita tidak diminati di Hongkong.” Read the rest of this entry »

Outside Agitator

In heroes, media on February 20, 2009 at 4:41 am

Naomi Klein and the new new left.
by Larissa MacFarquhar


The marquee outside the Bloor Cinema, in Toronto, advertised “The Last Mistress” at four, “Naomi Klein—the Shock Doctrine” at seven, and “Little Shop of Horrors” at nine-thirty. It was a warmish night. The falafel shop next door was doing a brisk business. A line of people holding tickets to the Naomi Klein event stretched to the end of the block and around the corner. Outside the entrance to the cinema, a middle-aged man and an elderly woman paced up and down selling copies of Socialist Action for a dollar. (The September issue included articles about capitalism’s contradictions, class war in Bolivia, and a commentary by Mumia Abu-Jamal—a regular feature.) Read the rest of this entry »

Investigative Reporting

In media on July 4, 2008 at 3:38 am

Andreas Harsono

Apakah semua wartawan menjalankan investigasi?

Jawabnya bisa ya bisa tidak. Sebagian wartawan mengatakan setiap reporter seorang investigator. Namun ada yang mengatakan tidak. Wartawan yang ikut pertemuan pers, menyodorkan tape recorder dan kadang-kadang terima amplop, pasti bukan seorang investigator. Read the rest of this entry »

Byline

In media on July 4, 2008 at 3:36 am

Andreas Harsono

Saya punya satu isu yang mungkin bisa kita diskusikan bersama. Ceritanya, 15 Desember lalu Bill Kovach, salah satu penulis buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” dan seorang wartawan terhormat di Amerika, datang ke kantor harian Kompas. Kovach menemui Jakob Oetama dan Suryopratomo, masing-masing pemimpin umum dan pemimpin redaksi Kompas, di ruang kerja Oetama untuk diskusi selama satu jam, lantas Kovach menemui sekelompok wartawan Kompas untuk berdiskusi di sebuah ruang rapat. Ada sekitar 15 wartawan Kompas ikut di sana.
Read the rest of this entry »

Pagar Api

In media on July 4, 2008 at 3:32 am

Andreas Harsono

Desain suratkabar selalu ada filsafatnya. Suratkabar misalnya, tak dianjurkan melulu berhalaman yang berisikan huruf. Ini membuat pembaca cepat bosan dan matanya lelah. Desain suratkabar juga membutuhkan garis tipis untuk memisahkan iklan dan berita. Garis ini adalah lambang pagar api atau “fire wall” yang mencerminkan prinsip antara berita dengan iklan harus tegas dipisahkan. Iklan adalah iklan. Berita adalah berita. Read the rest of this entry »

Sembilan Elemen Jurnalisme

In media on July 4, 2008 at 3:27 am

ANDREAS HARSONO
The Elements of Journalism:
What Newspeople Should Know and the Public Should Expect
Oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (April 2001) 205 halaman
Crown $20.00 (Hardcover)

HATI nurani jurnalisme Amerika ada pada Bill Kovach. Ini ungkapan yang sering dipakai orang bila bicara soal Kovach. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan, Kovach punya “karir panjang dan terhormat” sebagai wartawan. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, merasa sulit “mencari kesalahan” Kovach. Read the rest of this entry »