fordiletante

Archive for the ‘social theory’ Category

Panorama Sawah dalam Perspektif Sejarah Nusantara

In indonesian history, social theory on April 24, 2010 at 1:48 pm

Oleh: Andreas Maryoto

Siswa-siswa sekolah dasar masih saja diajari oleh gurunya untuk menggambar sawah dilengkapi gunung sebagai latar belakang setiap kali ada pelajaran menggambar. Guru hendak memperlihatkan pesona pedesaan dengan gambaran sawah dan gunung itu. Bertahun-tahun pesona panorama sawah juga memukau wisatawan untuk sekadar menonton hamparan rumpun padi.

Perkembangan dunia seni lukis sudah jauh dan cepat. Aliran-aliran yang ada makin rumit dipahami oleh kaum awam, tetapi di kios-kios seni hingga galeri kita masih bisa menemukan lukisan panorama sawah itu. Salah satunya kios lukisan di Bandara Achmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, yang menjual sekitar sepuluh panorama sawah. Read the rest of this entry »

Advertisements

Literature and Totalitarianism

In literature, social theory on February 3, 2009 at 1:36 pm

by: George Orwell

I said at the beginning of my first talk that this is not a critical age. It is an age of partisanship and not of detachment, an age in which it is especially difficult to see literary merit in a book with whose conclusions you disagree. Politics — politics in the most general sense — have invaded literature, to an extent that does not normally happen, and this has brought to the surface of our consciousness the struggle that always goes on between the individual and the community. It is when one considers the difficulty of writing honest unbiased criticism in a time like ours that one begins to grasp the nature of the threat that hangs over the whole of literature in the coming age. Read the rest of this entry »

Kebudayaan Posmodern Menurut Jean Baudrillard

In social theory on April 15, 2008 at 1:51 am

Oleh Medhy Aginta Hidayat

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Tepat pukul 15.30, tanggal 15 Juli 1972, kompleks bangunan perumahan Pruitt Igoe St. Louis, Missouri, diledakkan. Kompleks bangunan yang dirancang dengan konsep arsitektur modern ortodoks oleh arsitek Jepang, Minoru Yamasaki pada tahun 1950 itu diledakkan karena dianggap sudah tidak lagi fungsional. Kerusakan konstruksi, pencurian listrik dan air, tunggakan kontrakan yang besar, vandalisme graffiti, wall painting dan pornographic painting yang dilakukan para penghuninya dianggap sudah kelewat batas. Hancurnya bangunan Pruitt Igoe yang merepresentasikan konsep arsitektur modern dengan karakter ruang isotropis, homogen, monoton, anti-ornamen, anti-metafor, anti-humor, mono-simbolik, dan berestetika mesin sekaligus menandai kematian era arsitektur modern dan segera lahirnya sebuah era baru: era arsitektur postmodern. Arsitektur postmodern, yang disuarakan oleh Charles Jenks, Heinrich Klotz dan Robert Venturi, hanyalah salah satu interpretasi wacana estetis-filosofis yang saat itu sedang membentuk dirinya: postmodernisme. Postmodernisme adalah wacana kesadaran yang mencoba mempertanyakan kembali batas-batas, implikasi dan realisasi asumsi-asumsi modernisme; kegairahan untuk memperluas cakrawala estetika, tanda dan kode seni modern; wacana kebudayaan yang ditandai dengan kejayaan kapitalisme, penyebaran informasi dan teknologi secara massif, meledaknya konsumerisme, lahirnya realitas semu, dunia hiperrealitas dan simulasi, serta tumbangnya nilai-guna dan nilai-tukar oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. Read the rest of this entry »